Muhammadiyah Perkuat Kajian dan Pengawalan Kalender Hijriah Global Tunggal

Muhammadiyah Perkuat Kajian dan Pengawalan Kalender Hijriah Global Tunggal

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai menyusun peta jalan untuk mengawal implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Langkah tersebut dilakukan melalui Halaqah KHGT yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kamis (14/5).

Kegiatan itu dibuka langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa KHGT membutuhkan tim ahli untuk menjaga pengembangan, evaluasi, dan keberlanjutan sistem kalender tersebut.

“Kegiatan seperti ini merupakan bagian penting dalam pengembangan sistem kalender, karena setiap sistem kalender memiliki mekanisme pengawalan tersendiri. Misalnya, Kalender Ummul Qura,” ujar Syamsul.

Menurutnya, tim ahli diperlukan untuk merespons berbagai perkembangan dan kemungkinan munculnya fenomena baru dalam penerapan kalender global. Ia mencontohkan pengalaman Kalender Maroko atau Kalender Unifikasi yang pernah diadopsi Islamic World Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO).

Syamsul menjelaskan, sistem kalender tersebut sempat menghadapi persoalan ketika ditemukan anomali dalam perhitungan penanggalan di masa mendatang.

“Jadi dia punya kriteria sangat sederhana dan meyakinkan sekali, yaitu apabila ijtima terjadi sebelum zuhur, maka keesokan harinya adalah tanggal 1 di seluruh dunia. Ternyata kemudian ini menjadi masalah juga,” katanya.

Ia menilai kemungkinan munculnya anomali serupa juga dapat terjadi dalam penerapan KHGT. Karena itu, Muhammadiyah memandang perlu adanya tim ahli yang terdiri dari pakar ilmu falak dan syariah untuk mengawal sistem tersebut.

Ketua Panitia Halaqah KHGT sekaligus Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, mengatakan halaqah tersebut bertujuan menghasilkan peta jalan KHGT yang akan dirumuskan bersama para peserta.

Ia menjelaskan peserta halaqah berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan telah melalui proses seleksi melalui pengiriman abstrak makalah sebelum mengikuti forum tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakir, menyebut halaqah diikuti tidak hanya oleh peserta laki-laki, tetapi juga perempuan yang memiliki keahlian di bidang falak.

“Walaupun masih didominasi laki-laki, tetapi sudah cukup banyak kehadiran perempuan. Ini menunjukkan bahwa pakar falak perempuan sudah cukup banyak,” ujarnya.

Menurut Rofiq, keterlibatan peserta dari berbagai disiplin ilmu menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah membangun forum yang terbuka dan setara dalam pengembangan KHGT.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Rektor UAD, Muchlas MT. Ia menilai halaqah menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus mengembangkan hasil riset KHGT yang selama ini telah dilakukan Muhammadiyah.

“Saya kira ini merupakan satu momentum yang sangat baik. Karena tadi saya sampaikan salah satunya adalah sebagai cara kita melakukan evaluasi dari apa yang sudah kita luncurkan,” katanya.

Muchlas menambahkan, KHGT merupakan hasil riset panjang yang tetap perlu diverifikasi dan dikembangkan sesuai tradisi ilmiah Muhammadiyah. UAD, menurutnya, siap mendukung riset dan sosialisasi KHGT agar dapat dikenal dan dimanfaatkan umat Islam secara global.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat