Benarkah Ada Doa Khusus Sebelum Adzan?

Benarkah Ada Doa Khusus Sebelum Adzan?

Smallest Font
Largest Font

Penulis: Yayan Suryana* 

Adzan merupakan syiar Islam yang sangat mulia dan menjadi penanda masuknya waktu salat. Karena kedudukannya yang penting, pelaksanaan adzan semestinya mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ secara tepat, termasuk dalam hal bacaan yang dilakukan sebelum dan sesudah adzan. Jangan sampai suatu kebiasaan yang sebenarnya tidak memiliki dasar tuntunan Nabi diposisikan seolah-olah sebagai bagian dari ibadah yang telah ditetapkan agama.

Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 4, halaman 49–50, dijelaskan bahwa tidak terdapat tuntunan khusus dari Nabi ﷺ mengenai bacaan atau doa tertentu yang harus dibaca oleh muadzin sebelum mengumandangkan adzan. Membaca basmalah sebelum melakukan kebaikan tentu merupakan sesuatu yang baik secara umum. Namun, apabila basmalah dibaca dengan suara keras sebelum adzan, kemudian diikuti bacaan atau doa tertentu secara khusus, hal itu dapat menimbulkan kesan bahwa rangkaian tersebut merupakan bagian dari tata cara adzan yang disyariatkan. Padahal, tidak ada tuntunan khusus yang menetapkannya.

Demikian pula setelah adzan selesai, tidak terdapat tuntunan khusus bagi muadzin untuk membaca doa tertentu secara berjamaah atau dengan suara keras. Tuntunan Nabi saw. justru ditujukan kepada orang yang mendengarkan adzan, yaitu agar ia menirukan ucapan muadzin. Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila kalian mendengar panggilan (adzan), maka tirukanlah seperti yang diucapkan muadzin.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Setelah adzan selesai, orang yang mendengarkan adzan dianjurkan membaca doa sebagaimana riwayat Bukhari dari Jabir:


اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ.

Artinya: "Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berilah Nabi Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi) dan keutamaan, serta angkatlah dia ke tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan."

Dengan demikian, persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya seseorang berdoa. Berdoa pada dasarnya adalah ibadah yang baik. Persoalannya adalah menempatkan doa pada waktu, bentuk, dan tata cara tertentu sebagai bagian dari ibadah yang dituntunkan agama, padahal tidak terdapat dalil yang menetapkannya. 

Di sinilah pentingnya membedakan antara ibadah yang memiliki tuntunan khusus (ittiba’) dan kebiasaan baik yang bersifat umum. Semangat beragama seharusnya tidak hanya ditandai dengan banyaknya amalan, tetapi juga dengan ketepatan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Karena itu, dalam masalah adzan, sikap yang paling baik adalah kembali kepada tuntunan yang memiliki dasar kuat: muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ, tanpa menambahkan rangkaian bacaan khusus yang tidak dituntunkan sebelum maupun sesudahnya. 

Sementara itu, jamaah yang mendengarkan adzan hendaknya menjawab adzan dan setelah selesai membaca doa yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ. Prinsipnya sederhana, dalam ibadah, keikhlasan perlu disertai ketepatan tuntunan. Sebab, mengikuti sunnah bukan berarti mengurangi semangat beribadah, melainkan menjaga agar ibadah tetap berada dalam koridor yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Wallahu a'lam bish-shawab.

*) Wakil Ketua PWM DIY

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat