Tarjih

Tarjih

MediaMU.COM

Jul 18, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Q & A AD-DIN 21: Djazman Al Kindi Si Bapak Perkaderan

Question: siapakah itu dzajman al kindi? Dan mengapa bisa dijuluki bapak perkaderan? 

Answer: Pada masanya, Djazman Al Kindi sangat populer terutama di kalangan aktivis Muhammadiyah. Sejak tahun 1961, Djazman al-Kindi yang saat itu kuliah di UGM kerap berbincang mendalam dengan beberapa tokoh muda Muhammadiyah lainnya dari berbagai sekolah. Mereka antara lain Soedibyo Markoes (UGM), Rosyad Soleh (UIN Yogyakarta), Amien Rais (UGM), Yahya A.Muhaimin (UGM) dan Marzuki Usman (UGM). Intinya, Djazman Al Kindi menyampaikan gagasan bahwa secara organisasi, Mahasiswa Muhammadiyah akan terpisah dari Pemuda Muhammadiyah yang selama ini tergabung dalam Pengurus Kemahasiswaan. Dia menyarankan untuk membentuk organisasi sendiri. Tujuan Djazman Al Kindi mengenai pendirian IMM sudah jelas. 

Tujuannya adalah untuk mengembangkan kelompok intelektual Muhammadiyah yang memiliki cita-cita universal, nasional, dan kemanusiaan sehingga dapat muncul masyarakat Islam yang sejati. Ide ini membuahkan hasil tiga tahun kemudian, tepatnya pada 14 Maret 1964. Pada hari ini, IMM didirikan. Dengan demikian, Djazman Al Kindi dan para tokoh muda tersebut di atas menjadi pendiri IMM dan merupakan bagian dari generasi pertama IMM. Bukan hanya itu beliau juga pembangun Universitas Muhammadiyah Surakarta atau akrap kita sebut dengan UMS. Lalu Siapakah Djazman Al Kindi? Ia adalah putra Penghulu Keraton Vuaogyakarta Hadiningrat, KRT Wardan Diponingrat. Ia dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 6 September 1938. Pendidikan Djazman al-Kindi dimulai di SR Muhammadiyah. Diikuti oleh SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah I Area B. Semua sekolah tersebut berada di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, Djazman Al Kindi melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari kampus ini, ia meraih gelar sarjana di bidang sastra dan budaya. Kemudian, di kampus yang sama, ia meraih gelar sarjana geografi pada tahun 1965. Selanjutnya Djazman al-Kindi mengambil mata kuliah manajemen di Universitas Malaysia, Kuala Lumpur, pada tahun 1968. Beliau juga menyelesaikan program non-gelar di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada. Hal ini terjadi pada tahun 1974 hingga 1975. Setelah menyelesaikan studinya, Djazman Al Kindi mulai aktif di dunia pendidikan.

Beliau berturut-turut menjadi guru di SMA Muhammadiyah dan dosen di IKIP Negeri Surakarta. Djazman Al Kindi pada tahun 1979, saat menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta, memprakarsai berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta. Untuk itu, gabungan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan IAIM (Institut Islam Muhammadiyah) Surakarta. Selanjutnya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi berdiri pada tahun 1981. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang perubahan status IKIP Muhammadiyah Surakarta menjadi UMS. Djazman al-Kindi menjadi perdana menteri pertama UMS, khususnya pada periode 1981-1985. Tugas ini dilanjutkan pada periode berikutnya 1985-1988 dan 1988-1992. Salah satu idenya yang luar biasa adalah mendirikan sekolah atau tempat pembinaan kader Muhammadiyah dengan menjadikan UMS satu-satunya perguruan tinggi yang menyelenggarakan pelatihan kader pada saat itu. Untuk mewujudkan hal tersebut, Djazman al-Kindi selaku Rektor UMS mendirikan Pondok Pesantren bagi para pengurus, khususnya Pondok Pesantren Eksekutif Hajjah Nuriyah Shabran.

Ruang lingkup kegiatan Djazman Al Kindi sangat luas. Di bidang jurnalisme, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Majalah Suara Muhammadiyah. Ia juga menjabat sebagai wakil presiden Yayasan Masa Kini. Di bidang pendidikan, Djazman Al Kindi merupakan pengurus harian Dewan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII). Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Swasta (BKPTS) Jawa Tengah. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pembahasan Perguruan Tinggi Swasta (BMPTS) Jawa Tengah.

Pentingnya pengabdian Djazman Al Kindi tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah namun juga secara nasional. Misalnya, ia pernah menjadi anggota Dewan Nasional Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKPTIS). Pada tanggal 27 September 1989, berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia, Djazman Al Kindi diangkat menjadi anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN). Padahal jauh sebelumnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR-GR/MPRS, Wakil Daerah. Langkah Menuju Muhammadiyah Djazman Al Kindi memiliki pengalaman panjang mengabdi pada Muhammadiyah. Sebelumnya ia menjabat sebagai Sekretaris dan Wakil Ketua PP Pemuda Muhammadiyah. Ia sebelumnya menjabat Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Di PP Muhammadiyah, Djazman al-Kindi pernah menjadi anggota Dewan Intelektual, Pembinaan dan Pembinaan, serta Ketua Biro Kepegawaian (1968-1971). Kemudian sebagai Sekretaris (1971-1974). Kemudian menjabat Ketua Biro Organisasi dan Manajemen selama dua periode (1974-1978 dan 1978-1985). Juga Ketua Dewan Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (1985-1990). Djazman Al Kindi terus berperan sebagai pemrakarsa dan pelaksana. Ia berperan penting dalam pembentukan Majelis Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Tinggi (MPTPP) PP Muhammadiyah pada tahun 1986. Awalnya organisasi ini bernama Dewan Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Belakangan, seiring dengan berkembang pesatnya pendidikan tinggi di Muhammadiyah saat itu, MPTPP berganti nama menjadi MPTPP dan Djazman Al Kindi menjadi presidennya pada periode pertama, tepatnya tahun 1986-1990.

Dibuktikan Dengan rekam jejak kebaikan dan prestasi Djazman Al Kindi yang sudah teruji, wajar jika ia disanjung tinggi. Salah satunya, karya Busyro Muqoddas. Bagi Busyro Muqoddas, Djazman al-Kindi adalah sosok Muhammadiyah, yang memiliki ilmu kemuhammadiyahan yang lengkap. Hal ini didasari oleh perannya yang banyak membawa kemajuan di Muhammadiyah.“Hal ini tidak mengherankan, berdasarkan pengalamannya sebagai pengurus Pemuda Muhammadiyah (AMM), yang pernah memimpin Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), bahkan menjadi salah satu 'bidan' yang melahirkan Mahasiswa muhammadiyah. Ikatan (IPM) dan IMM,” kata Busyro Muqoddas. Berbagai pengalaman Djazman Al Kindi, lanjut Busyro Muqoddas, mengantarkannya pada pemahaman yang relatif lebih utuh tentang Muhammadiyah. Tentu saja termasuk pengalaman menjabat Sekjen PP Muhammadiyah pasca Muktamar ke-37 Muhammadiyah di usia yang masih terbilang muda (baca:Mengenal Djazman al-Kindi, putra kepala keraton - pendiri IMM)

Djazman al-Kindi dikenal kritis terhadap banyak persoalan yang ada. Misalnya, beliau berperan penting dalam menerapkan banyak pemikiran positif bagi perkembangan Muhammadiyah, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Pemikiran-pemikirannya yang kritis dan konstruktif tidak hanya dimiliki oleh Muhammadiyah.

Di tingkat nasional, ia juga nampaknya menaruh perhatian pada banyak persoalan seperti aspek pendidikan, status umat Islam, dan negara. Djazman Al Kindi meninggal dunia pada tanggal 15 Desember 2000 dan dimakamkan di Yogyakarta. Kematiannya merupakan kerugian yang sangat besar. Hal ini antara lain karena almarhum pernah naik takhta sebagai ayah pemimpin Muhammadiyah. Gelar ini sudah sepatutnya diterima oleh para pemilik gagasan, sedangkan implementasi kerangka tersebut dilakukan secara formal, bertahap, sistematis dan berskala besar di lingkungan Muhammadiyah. Semoga para pengurus Muhammadiyah tidak pernah melupakan perjuangan Djazman Al Kindi. Kemudian yang lebih penting, kita semua berharap kita semua terus menghidupkan kembali Muhammadiyah melalui berbagai peran dan sumbangsih kita.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here