Panjang Shalat dan Pendek Khutbah ketika Ibadah Jum'at: Apa Maknanya? 

Panjang Shalat dan Pendek Khutbah ketika Ibadah Jum'at: Apa Maknanya? 

Smallest Font
Largest Font

Sering kali muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai maksud hadis Nabi Muhammad saw. yang menganjurkan agar shalat Jumat dipanjangkan sementara khutbahnya diperpendek. Hal ini tampak janggal, sebab kita mengetahui bahwa bacaan shalat Jumat yang biasa dibaca Nabi adalah surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah yang relatif tidak panjang. Lalu bagaimana sebenarnya memahami runtunan dan maksud Nabi saw. tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengingat kembali dua hadis utama yang menjadi dasar. Pertama, hadis riwayat Ahmad dan Muslim dari Ammar bin Yasir ra yang menyatakan bahwa panjangnya shalat dan pendeknya khutbah merupakan tanda kebijaksanaan seorang imam.

عَنْ عَمَّارَ بْنِ يَاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَٸيْنَةٌ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَة (رواه أحمد ومسلم)

Artinya: Dari 'Ammar bin Yasir ra ia berkata: "Saya mendengar Nabi bersabda: Babwa lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang (imam) itu ciri kebijaksanaannya. Oleh karena itu lamakanlah shalat dan pendekkanlah khutbah". (HR. Ahmad dan Muslim).

Kedua, hadis riwayat jamaah ahli hadis kecuali Bukhari dan Abu Dawud dari Jabir bin Samurah ra, yang menegaskan bahwa shalat Rasulullah saw. sedang dan khutbah beliau juga sedang.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمورَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ صَلَاةٌ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قصدًا وَخُطْبَتُهُ فقصدًا ( رواه الجماعة الا البخاري وأبا داود )

Artinya: Dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata: "Shalat Rasulullah saw sedang dan khutbabnya pun sedang." (HR. Jamaa'ah kecuali Bukhari dan Abu Dawud).

Kedua hadis ini memberikan arahan bahwa shalat Jumat harus ditempatkan sebagai ibadah pokok yang dilaksanakan dengan khusyu’ dan penuh kesungguhan. Jangan sampai shalat justru menjadi kurang bermakna karena khutbah yang terlalu panjang. Dengan kata lain, inti pesan Nabi adalah menjaga keseimbangan antara shalat dan khutbah sehingga keduanya sama-sama memberi manfaat bagi jamaah.

Perlu juga dipahami bahwa ukuran panjangnya shalat bukan sekadar lamanya membaca dua surat yang sering dibaca Nabi. Panjang shalat juga mencakup lamanya ruku’, sujud, i’tidal, serta bacaan Al-Fatihah dan surat yang dilantunkan dengan tartil. Sementara khutbah yang pendek bukan berarti sekadar membaca tahmid, tasyahud, dan ayat Al-Qur’an, tetapi juga memberikan penjelasan seperlunya agar jamaah benar-benar memahami pesan takwa dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, komentar atau penjelasan dalam khutbah tidak boleh terlalu panjang hingga membuat shalat tergesa-gesa atau jamaah merasa jenuh. Di sinilah pentingnya keseimbangan, sebagaimana dicontohkan Nabi dalam hadis kedua, bahwa shalat dan khutbah dilakukan dengan ukuran yang sedang. Seorang khatib yang bijaksana akan mampu menyesuaikan panjang khutbah sesuai kebutuhan jamaah tanpa kehilangan substansi pesannya.

Karena itu, hadis tentang panjang shalat dan pendek khutbah bukanlah kontradiksi, melainkan tuntunan agar ibadah Jumat berjalan seimbang. Shalat dilakukan dengan khusyu’ sehingga dapat menjadi kekuatan rohani untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, sementara khutbah disampaikan dengan singkat, jelas, dan tidak membosankan. Penjelasan lebih rinci mengenai masalah ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 3 halaman 90–91.

Wallahu a'lam bish-shawaab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat