Bersalaman Setelah Shalat Jamaah: Amalan Sosial atau Ritual Ibadah?

Bersalaman Setelah Shalat Jamaah: Amalan Sosial atau Ritual Ibadah?

Smallest Font
Largest Font

Berjabat tangan atau bersalam-salaman merupakan tradisi yang akrab di tengah masyarakat Muslim, termasuk setelah shalat berjamaah. Praktik ini kerap dipahami sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam yang menekankan ukhuwah dan kebersihan hati. 

Namun, pertanyaan yang perlu diajukan secara jernih adalah apakah kebiasaan bersalaman secara khusus setelah shalat berjamaah benar-benar memiliki landasan langsung dari praktik Nabi Muhammad saw., ataukah ia merupakan ekspresi sosial keagamaan yang berkembang kemudian.

Secara umum, berjabat tangan memang dianjurkan dalam Islam. Nabi Muhammad saw. mendorong umatnya untuk bersalaman karena dapat menghilangkan rasa dendam dan dengki di dalam hati. Anjuran ini tercermin dalam riwayat yang menyatakan bahwa berjabat tangan menjadi sarana membersihkan relasi batin antarsesama Muslim. 

Para sahabat Nabi pun mempraktikkan kebiasaan ini dalam interaksi sosial mereka, sebagaimana ditegaskan oleh keterangan sahabat Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam hadis sahih.

Meski demikian, penting dibedakan antara anjuran bersalaman secara umum dengan pengkhususan waktu dan tata caranya. Dalam hal ini, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi saw. mencontohkan atau memerintahkan berjabat tangan secara rutin setelah shalat berjamaah. 

Hadis-hadis sahih justru menjelaskan bahwa setelah selesai shalat, Nabi saw. menghadap jamaah tanpa disertai praktik bersalaman. Hal ini menunjukkan bahwa shalat sebagai ibadah mahdhah memiliki tata cara tersendiri yang tidak ditambahi ritual khusus yang bersifat tetap.

Adapun riwayat yang menceritakan para sahabat memegang tangan Nabi saw. setelah shalat tidak dapat dijadikan dasar pembenaran bersalaman usai shalat berjamaah. Peristiwa tersebut terjadi dalam konteks khusus, yakni ketika Nabi berada di tempat baru dan masyarakat ingin mengenal beliau lebih dekat. 

Sikap Nabi yang membiarkan tangannya dipegang menunjukkan keteladanan beliau sebagai figur yang penuh kasih dan kebapakan, bukan sebagai penetapan tata cara ibadah setelah shalat.

Dengan demikian, bersalaman tetap bernilai kebaikan sebagai amalan sosial yang dianjurkan, selama tidak dipahami sebagai bagian dari ritual baku shalat berjamaah. Menempatkan praktik ini secara proporsional akan membantu umat bersikap bijak: menjaga kehangatan sosial tanpa mencampuradukkan antara ibadah yang bersifat tauqifi dan kebiasaan yang bersifat muamalah. 

Penjelasan mengenai persoalan ini dapat ditemukan secara lebih rinci dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 93–94, yang memberikan panduan agar umat dapat beragama dengan landasan dalil sekaligus kearifan sosial.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat