Benarkah Ayat Al-Qur’an Bisa Menyembuhkan Penyakit? 

Benarkah Ayat Al-Qur’an Bisa Menyembuhkan Penyakit? 

Smallest Font
Largest Font

Seorang menyampaikan bahwa dirinya mempunyai pengalaman membaca potongan ayat “Qul yā nāru kūnī” sebanyak tiga kali untuk orang yang demam,  lalu sembuh. Muncul keraguan pakah praktik itu dibenakan dalam Islam?  

Pertanyaan ini wajar, mengingat Al-Qur’an diyakini sebagai  petunjuk dan sumber keberkahan, bahkan dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa Al-Quran merupakan obat dan rahmat (QS. Al-Isra:18). 

Namun, keyakinan personal perlu diletakkan dalam bingkai pemahaman keagamaan yang utuh agar tidak terjebak pada generalisasi yang lemah secara dalil dan metodologi.

Jika dicermati, bacaan yang digunakan dalam praktik tersebut sesungguhnya merupakan potongan ayat yang belum sempurna secara lafaz maupun makna. Ayat lengkapnya terdapat dalam Surah Al-Anbiya ayat 69: “Qulnaa yaa naaru kuunii bardan wa salaaman ‘alaa Ibraahiim” yang berarti, “Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan bagi Ibrahim.”

Pemotongan ayat tanpa keutuhan konteks berpotensi mengaburkan makna dan tujuan ayat itu sendiri, yang secara historis dan tematis berkaitan dengan mukjizat Nabi Ibrahim, bukan formula pengobatan fisik.

Atas dasar itu, kesembuhan yang terjadi setelah pembacaan potongan ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai sebuah kebetulan atau hasil dari faktor lain di luar bacaan ayat. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam mengaitkan sebab dan akibat, terlebih dalam perkara yang menyangkut teks suci. Tidak setiap kejadian yang beriringan dapat langsung ditetapkan sebagai hubungan kausal yang bersifat teologis.

Memang terdapat riwayat sahih tentang sahabat Nabi yang menyembuhkan orang sakit akibat sengatan dengan membaca Surah Al-Fatihah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri. Nabi Muhammad saw.  bahkan membenarkan praktik tersebut dan mengizinkan penerimaan hadiah atas jasa itu. Namun, peristiwa ini tidak dapat digeneralisasi secara bebas, sebab Nabi sendiri ketika menjenguk orang sakit lebih sering mendoakan dengan doa-doa ma’tsur, bukan dengan membacakan ayat-ayat tertentu sebagai terapi langsung.

Lebih jauh, penggunaan ayat Al-Qur’an sebagai sarana memperoleh keuntungan duniawi juga perlu dikritisi secara serius. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan, “Wa laa tasytaruu bi aayaatii samanan qalīiilaa" yang artinya jangan menukarkan ayat-ayat-Ku dengan keuntungan yang sedikit.

Larangan ini bersifat prinsipil, mencakup segala bentuk komersialisasi ayat yang menggeser Al-Qur’an dari fungsi hidayah menjadi alat transaksional. Penjelasan mengenai persoalan ini dapat ditemukani dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 161–162, yang menekankan pentingnya menjaga kemurnian niat dan etika dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat