Tarjih

Tarjih

MediaMU.COM

Jul 18, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Q & A AD-DIN 29: Tentang Ahli Bid’ah

Question: Apakah itu bid’ah dan siapakah itu ahli bid’ah itu?

Answer: Bid‘ah secara bahasa berasal dari akar kata dalam bahasa arab bada‘a artinya mengadakan (membuat) sesuatu yang baru. Adapun dalam istilah syarak pengertian bid‘ah ialah cara baru dalam perkara agama yang diserupakan syariat yang dikerjakan orang dengan maksud berlebih-lebihan dalam beribadah serta mengharap pahala tanpa adanya dalil dalam syarak atau contoh dari Rasulullah saw. Memahami istilah di atas bahwa bid‘ah dibatasi dalam hal agama (akidah dan ibadah). Ahli bid’ah merupakan orang-orang yang menyimpang terhadap ajaran yang di bawakan oleh baginda Nabi Muhammad saw. 

Didalam Muhammadiyah sendiri kita berpedoman pada sabda-sabda Nabi besar Muhammad saw, bahwa kita harus menjauhi perbuatan bid’ah. Yang mana didalam agama bid’ah di anggap orang-orang yang melenceng atau tersesat dari ajaran agama Islam dan tenpat yang berhak bagi mereka ialah neraka. Lalu siapakah itu ahli bid’ah yakni orang-orang yang melaksanakan praktik ibadah yang melenceng dari apa yang di perintahkan oleh agama Islam dan di contohkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika dalam praktek ibadah khusus seseorang mengerjakan ibadah berbeda dengan yang telah di ajarkan agama dan tidak memiliki alasan yang jelas atau hanya membuat-buat saja dapat pula dikatakan bid’ah

Bid’ah sendiri memiliki macamannya pendapat ini dilatarbelakangi dengan bedanya alasan yang mendasari nya. Ada yang didasarkan pada aspek yuridis(syarak) dan ada pula yang berdasarkan aspek Bahasa. Ada yang mengatakan bahwa bid’ah hanya ada pada aspek agama saja tetapi ada pula yang mengatakan dalam bentuk tingkah laku atau perbuatan yang berlebihan terutama dalam mengekspresikan dalam beribadah kepada Allah swt. Ada pula tentang adat atau kebiasaan yang di ada-ada kan dalam beragama dengan tujuan bahwa adat tersebut di pandang menyerupai syariat agama. 

Perlakuan tersebut didasarkan pada hadist al bukhari nomor 5063 dari Anas bin Malik yakni:

أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، يَقُولُ … فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ … فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

Telah mengabarkan kepada kami Humaid bin abi Tawil, bahwasannya ia mendengar Anas bin Malik berkata …, kemudian datanglah Rasulullah saw bersabda kepada mereka, … barangsiapa yang tidak suka sunnahku, maka bukan termasuk golonganku [HR. al-Bukhari nomor 5063].

Yang mana hadis tersebut menyimpulkan antara lain, orang yang melakukan sesuatu dalam urusan agama tanpa berlandaskan sunnah, maka jelas dirinya telah berbuat bid‘ah. Sementara itu, pendapat yang lainnya, misal asy-Syaf”i, membagi bid‘ah kepada bid‘ah yang terpuji dan bid‘ah yang tercela. Dipandang terpuji jika sesuatu yang baru itu tidak bertentangan dengan al Qur’an atau as-Sunnah dan asar sahabat atau ijmak sahabat. Jika sebaliknya, akan dipandang sebagai bid‘ah sayyiah/tercela. Keterangan ini dirujuk dari kitab al-Bida‘al Hauliyah bab Bid‘ah Fii Istilah juz 1 hal 20 karya Abdullah bin Abdul Aziz bin Ahmad al-Tuwaijri, kemudian bisa juga dilihat dalam kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim Juz 9 hal 113 dan Fathul Baari Juz 13 hal 253 karya Ibnu Hajar.

Dalam hal ini, menurut Muhammadiyah bid‘ah itu hanya ada dalam masalah akidah dan ibadah mahdlah atau yang murni tanpa di campur-campur kan. Namun dalam masalah muamalah, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat dan dapat mendatangkan maslahat bagi kehidupan -walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah saw. maka hal tersebut bukanlah suatu perbuatan bid‘ah.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here