Menjadikan Ayat Al-Qur’an sebagai Jampi
Penulis: Yayan Suryana*
Dalam masyarakat kita, tidak jarang ditemukan praktik-praktik yang menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sarana kesembuhan fisik maupun kecerdasan intelektual. Misalnya, ada yang menuliskan ayat pada selembar kertas lalu merendamnya dalam air untuk diminum atau dipakai mandi, dengan harapan memperoleh kesembuhan atau kecerdasan. Pertanyaannya, apakah praktik semacam ini mendapat legitimasi dari tuntunan agama?
Menurut penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 31–32, tidak terdapat dalil atau tuntunan yang membenarkan penulisan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kemudian digunakan dengan cara seperti itu. Yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah membaca dan merenungkan kandungannya, bukan menggunakannya secara fisik sebagai media ritual semacam itu.
Ketika sedang menghadapi penyakit, Islam mendorong umatnya untuk berobat dengan cara yang ilmiah dan sesuai petunjuk para ahli. Sementara untuk menjadi cerdas dan berilmu, Islam menekankan pentingnya proses belajar yang sungguh-sungguh. Semua upaya lahiriah ini harus dibarengi dengan usaha batiniah, yakni doa dan permohonan kepada Allah melalui cara yang benar, seperti sabar dan shalat, sebagaimana disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 45 dan 153.
Lebih jauh lagi, menggunakan ayat Al-Qur’an dalam bentuk tangkal, jimat, atau media fisik yang diyakini membawa pengaruh gaib bisa mengarah pada perbuatan syirik. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Ahmad dan Al-Hakim, bahwa "Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal, dan tiwalah adalah syirik."
Maka, alih-alih menempuh jalan yang tidak bersumber dari ajaran Islam, umat sebaiknya mengedepankan ikhtiar yang benar, baik secara medis maupun spiritual. Ayat Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, bukan alat untuk ritual yang menyimpang. Membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap Kalam Ilahi itu sendiri.
Wallahu a'lam bish-shawab.
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow