Hukum Membacakan Yasin untuk Orang Sakit

Hukum Membacakan Yasin untuk Orang Sakit

Smallest Font
Largest Font

Oleh: Yayan Suryana*

Membacakan surat Yasin kepada orang sakit, terutama yang dalam kondisi kritis, telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Tradisi ini diyakini dapat menjadi sarana untuk meringankan penderitaan atau mempercepat kesembuhan. Namun, sebagai umat yang menjadikan dalil sebagai landasan utama, penting untuk meninjau apakah amalan ini benar-benar bersandar pada ajaran yang sahih.

Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 1 halaman 17–18, disebutkan bahwa sebagian ulama menggunakan hadis riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya, dari Ma’qil bin Yasar, sebagai dasar: “Iqra’ū ‘alā mawtākum Yāsīn” (“Bacakanlah Yasin kepada orang yang menjelang kematian”).

Hadis ini dinilai hasan oleh As-Suyuthi. Namun, sejumlah ahli hadis seperti Ibnu Qaththan dan Ad-Daraquthni menilainya lemah karena cacat dalam sanad dan matannya, yang disebut iḍṭirāb, sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum yang kuat.

Sebaliknya, hadis yang sahih dan diterima luas adalah perintah Nabi Muhammad saw. untuk membimbing orang yang sedang menghadapi kematian dengan kalimat tauhid: “Laqqinū mawtākum Lā ilāha illallāh” (“Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia dengan ucapan Lā ilāha illallāh”) sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi. Hadis ini memiliki kekuatan hujjah dan menjadi tuntunan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara syar'i.

Untuk orang yang sedang sakit namun belum berada di ambang kematian, Islam menganjurkan dua bentuk ikhtiar: berobat secara medis dan berdoa. Nabi mengajarkan doa seperti dalam hadis riwayat Muslim dan lainnya: “Letakkan tanganmu pada bagian yang sakit, lalu bacalah Bismillah tiga kali, kemudian tujuh kali: ‘A‘ūdzu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uhādhiru” (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang kurasakan dan kutakutkan). Sementara untuk mendoakan orang lain yang sakit, Nabi mencontohkan doa: “Allāhumma Rabb an-nās, adzhibil-ba’sa, isyfi anta asy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqama” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, meskipun membaca Yasin kepada orang sakit telah menjadi bagian dari budaya keagamaan yang mengandung sisi emosional, secara syariat lebih utama mengikuti dalil yang kuat, yaitu membimbing orang menjelang ajal dengan kalimat tauhid dan memanjatkan doa-doa sahih. Praktik ini mencerminkan kepatuhan pada sunnah Nabi dan menjadi wujud kasih sayang yang terarah dan benar menurut tuntunan Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat