Benarkah Wali Tak Perlu Shalat?

Benarkah Wali Tak Perlu Shalat?

Smallest Font
Largest Font

Pembicaraan tentang siapa yang layak disebut sebagai Wali Allah selalu menarik perhatian umat Islam, terlebih ketika muncul pandangan yang mengesankan bahwa seseorang bisa mencapai derajat kewalian meskipun tidak terikat pada syariat, seperti meninggalkan shalat atau ibadah fardhu lainnya. 

Pertanyaan ini mencuat dari sebagian kalangan yang mengutip istilah seperti “Wali ma‘nawi” atau mereka yang sudah berada dalam “maqam tajalli zat” sehingga diklaim hampir tidak perlu lagi berpegang pada syariat. Apakah benar demikian? Dalam menjawabnya, penting bagi kita kembali pada sumber pokok Islam: al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana dijelaskan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 3 halaman 38–40.

Al-Qur’an secara jelas memerintahkan semua manusia, termasuk nabi dan para wali, untuk senantiasa beribadah kepada Allah agar menjadi orang bertakwa. Firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 21 mengajak seluruh manusia untuk menyembah Tuhan yang menciptakan mereka dan generasi sebelum mereka agar mereka bertakwa.

Ciri orang-orang yang bertakwa itu adalah tekun dalam beribadah, sebagaimana terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 17. Dari sini jelas bahwa beribadah dan menjalankan syariat, termasuk shalat, adalah bagian tak terpisahkan dari upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Lebih lanjut, dalam QS. Al-Hasyr ayat 7 dan Ali Imran ayat 31, ditegaskan bahwa umat Islam diperintahkan mengikuti Rasulullah dalam segala hal, termasuk dalam beribadah. Allah berfirman, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu.” Ayat ini menekankan bahwa cinta kepada Allah mensyaratkan ketaatan kepada Rasul, dan Rasulullah adalah teladan dalam menjalankan syariat, termasuk shalat fardhu.

Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga sangat gamblang menjelaskan bahwa kedekatan seseorang kepada Allah justru dimulai dari pelaksanaan kewajiban yang difardhukan, seperti shalat. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Allah akan lebih mencintai hamba-Nya yang tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah. Tidak ada sedikit pun isyarat bahwa orang yang meninggalkan syariat akan lebih dekat kepada Allah, apalagi disebut sebagai wali yang paling tinggi.

Pandangan bahwa wali Allah bisa saja tidak menjalankan syariat, bahkan mengabaikan shalat, adalah anggapan yang bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Kewalian bukanlah status mistik yang memutus hubungan seseorang dari kewajiban agama.

Justru semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semestinya semakin kuat pula komitmennya terhadap syariat. Rasulullah, manusia terbaik dan paling dicintai Allah, tetap menjalankan ibadah secara konsisten hingga akhir hayatnya.

Oleh karena itu, menjadi Wali Allah bukanlah jalan pintas menuju maqam spiritual tanpa syariat. Kecintaan Allah diraih melalui ketaatan kepada perintah-Nya dan meneladani Nabi-Nya. Maka pandangan yang menyatakan bahwa wali sejati justru tidak terikat syariat patut diluruskan agar umat tidak terjerumus pada kekeliruan yang menyesatkan.

Wallahu a‘lam bish-shawab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat