Basmalah sebelum Salam ketika Berkhutbah

Basmalah sebelum Salam ketika Berkhutbah

Smallest Font
Largest Font

Islam, sangat menganjurkan mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain, termasuk ketika hendak berkhutbah. Nabi Muhammad saw. memberikan teladan, bahwa ketika beliau naik mimbar selalu mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum menyampaikan khutbah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah ra. Maka, wajar bila seorang mubaligh atau penceramah membuka tausiyahnya dengan salam, sebab salam adalah doa dan bentuk penghormatan kepada sesama Muslim yang mendengarnya.

Menjawab salam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa ada enam kewajiban seorang Muslim terhadap Muslim lainnya, salah satunya adalah menjawab salam. Lebih dari itu, Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 86 bahwa jika kita diberi penghormatan dengan salam, hendaknya kita membalasnya dengan salam yang lebih baik atau minimal yang sepadan. Oleh karena itu, setiap salam yang diucapkan, termasuk dalam konteks ceramah atau khutbah, tetap harus dijawab oleh jamaah yang mendengarnya.

Namun, sebagian penceramah mengawali tausiyah dengan membaca basmalah terlebih dahulu sebelum salam. Hal ini berlandaskan pada hadis yang menyatakan bahwa setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan basmalah akan terputus dari keberkahannya. Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah melalui Abdul Qadir Ar-Rahawiy. Karena ceramah termasuk perbuatan baik, maka sebagian orang berpendapat bahwa basmalah sebaiknya dibaca terlebih dahulu sebelum salam.

Persoalan inilah yang kemudian menimbulkan kesan adanya pertentangan antara membaca basmalah dan salam sebagai pembuka ceramah. Padahal, jika disikapi dengan bijak, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Basmalah bisa dibaca dengan lirih dalam hati sebagai bentuk pengharapan keberkahan, sementara salam tetap diucapkan dengan lantang sebagai bentuk penghormatan kepada hadirin. Dengan demikian, kedua tuntunan hadis dapat diamalkan sekaligus tanpa harus meniadakan salah satunya.

Oleh karena itu, perbedaan dalam urutan membaca basmalah atau salam hendaknya tidak menimbulkan kerancuan apalagi perdebatan. Keduanya sama-sama memiliki dasar syar’i yang kuat, dan dalam praktiknya dapat dipadukan dengan cara yang bijaksana. Yang terpenting adalah tetap menjaga esensi salam sebagai doa dan penghormatan yang wajib dijawab, serta tidak mengabaikan basmalah sebagai pembuka keberkahan dalam setiap amal. Penjelasan mengenai persoalan ini dapat ditemukan secara lebih rinci dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 69.

Wallahu a'lam bish-shawaab. 

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    5
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat