Tarjih

Tarjih

MediaMU.COM

Jul 18, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sujud Sahwi dan Caranya

Sujud Sahwi dan Caranya

Question: Bagaimanakah cara melaksanakan sujud sawi. Apakah sesudah salam atau sebelum salam? Mohon penjelasannya..

 Answer: Masalah sujud sahwi ini belum diputuskan oleh Muktamar Tarjih, sehingga pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing sesua dengan pemahamannya terhadap dalil-dalil yang telah ditemukannya, karena dalam Muhammadiyah prinsip melakukan ibadah berdasarkan dalil Al-Quran dan As Sunnah. Kalau dalam memahami dalil-dalil ada berbeda menimbulkan pengamalan yang berbeda, Muktamar Tarjihlah yang merumuskan kaifiyah atau cara-cara yang perlu ditempuh sesuai dengan kemaslahatan. Sampai sekarang pengamalan sujud sahwi belum dirumuskan caranya. Yang Di kalangan ulama Syafi'iyyah, sujud sahwi dilakukan sebelum salam, sedang menurut ulama Hanafiyah sesudah salam. Ulama Malikiyah membedakan antara kekurangan dan kelebihan, kalau kekurangan seperti shalat empat rakaat tetapi hanya dilakukan tiga, maka yang bersangkutan melakukan sujud sahwi sebelum salam, setelah menggenapi satu rakaat lagi menjadi empat rakaat, sedang kalau kelebihan seperti kalau shalat maghrib lupa empat rakaat, maka dilakukan sujud sahwi setelah salam.

Perbedaan pendapat dalam melaksanakan sujud sahwi rupanya telah ada sejak zaman sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Sa'ad bin Abi Waqash, Abu Hurairah dan beberapa sahabat lagi melakukan sujud sahwi sesudah salam, sedang Abi Sa'id Al-Khudry dan beberapa fuqaha Tami'in melakukan sujud sahwi sebelum salam. Dari pengamatan Tim, sujud karena lupa atau yang disebut sujud baik ditimbulkan kekurangan maupun kelebihan bahkan juga keraguan dalam Nabi, bila pada kelebihan atau kekurangan dilakukan sujud itu sesudah salam, sedang kalau terjadi keraguan sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca Hadis-hadis berikut. Dasar melakukan sujud sahwi karena masyru'. Dalam pengamalan kelebihan atau melakukan shalat memang ada dasarnya atau

kekurangan atau ragu-ragu dalam shalat. Dalam suatu hadist dijelaskan yang Artinya: Ibnu Sirin menerangkan: Bahwasanya Abu Hurairah menerangkan, hab Rasulullah saw. pernah bersembahyang dengan kami salah satu dari sembahyang jag dikerjakan antara tergelincir matahari dengan terbenamnya. Maka setelah cukup belix mengerjakan dua rakaat beliaupun lalu bersalam lalu berdiri bersandar kepada potong kaya yang ditegakkan di mesjid bertekan atasnya, sebagai keadaan orang yang sedang marah dan meletakkan tangan kanannya atas tangan kiri serta dengan jakkan anak-anak jarinya, dan meletakkan pipi kanannya atas belakang telapak kiri dan keluarlah orang yang mau tergesa-gesa dari pintu-pintu masjid. Mereka berkata: mbahyang telah digashar. Di antara orang ramai itu terdapat Abu Bakar dan Umar Kedua-duanya tidak berani berbicara dengan Rasulullah. Di dalam orang ramai itu pala, terdapat seorang lelaki bernama Dzulyadaini. Dia bertanya kepada Rasul, ujarnya "Ya Rasulullah, apa tuan telah lupa, atau sembahyang telah diqusharkan? "Nabi menjawab: "Saya tidak lupa dan sembahyangpun tidak diqbasarkan." Sesudah itu, Nabi bertanya: "Apakah benar yang dikatakan Dzulyadaini?" Jawab para sahabat "Benar. Maka Nabi maju ke muka kembali lalu mengerjakan dua rakaat lagi. Sesudab itu bertalam. Sesudah bersalam beliau bertakbir dan bersujud seperti sujudnya yang telah lalu atau lebih panjang. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, seraya bertakbir. Kemudian bertakbir pula dan bersujud, seperti sujud yang telah lalu, atau lebih panjang Kemudian mengangkat kepalanya seraya bertakhir. Boleh jadi mereka bertanya kepada Ibnu Sirin: "Apa kemudian Nabi bersalam?" Ibnu Sirin menjawab: Dikhabarkan kepadaku, babwa Imran Ibn Husain berkata: "Kemudian Nabi bersalam." (Al Bukhari  dan Muslim).

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here