<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
    <channel>
        <title>MediaMU.COM &amp; Fatwa Tarjih</title>
        <link>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-tarjihrss/category/fatwa-tarjih</link>
        <description>MediaMU.COM &amp; Title: Fatwa Tarjih</description>
        <dc:language>id</dc:language>
        <dc:rights>Jl. Gedongkuning No.130 B, Rejowinangun, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55171</dc:rights>
                                                    <item>
                    <title>Pengajian Tarjih Kupas Berbagai Persoalan Kurban, Dari Arisan Kurban hingga Distribusi Daging</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/pengajian-tarjih-kupas-berbagai-persoalan-kurban-dari-arisan-kurban-hingga-distribusi-daging</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/pengajian-tarjih-kupas-berbagai-persoalan-kurban-dari-arisan-kurban-hingga-distribusi-daging</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a1385c3e7fd1.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="37070" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 24 May 2026 23:14:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah Jelaskan Kriteria Hewan Kurban Sesuai Syariat</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-jelaskan-kriteria-hewan-kurban-sesuai-syariat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-jelaskan-kriteria-hewan-kurban-sesuai-syariat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1169fc79e477b57.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="37070" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 07 May 2026 11:40:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Ayat&amp;Ayat Al&amp;Qur&amp;apos;an dalam Tarjih yang Mengajarkan Pentingnya Keadilan Sosial dan Kepedulian Masyarakat</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/ayat-ayat-al-quran-dalam-tarjih-yang-mengajarkan-pentingnya-keadilan-sosial-dan-kepedulian-masyarakat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/ayat-ayat-al-quran-dalam-tarjih-yang-mengajarkan-pentingnya-keadilan-sosial-dan-kepedulian-masyarakat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang mengandung nilai sosial yang sangat relevan dengan kehidupan umat manusia. Nilai-nilai ini mengajarkan umat Islam untuk berinteraksi secara baik dengan sesama, mengutamakan keadilan, kasih sayang, dan solidaritas sosial. Berikut adalah beberapa ayat yang mengandung nilai sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari:1. Keadilan SosialAl-Qur'an sangat menekankan pentingnya keadilan dalam kehidupan sosial. Salah satu ayat yang mengandung nilai keadilan sosial adalah sebagai berikut:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا تَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(QS. Al-Ma'idah: 8)Artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu berlaku adil dalam setiap aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam berinteraksi dengan orang yang mungkin kita tidak suka. Keadilan adalah nilai dasar yang harus dijaga dalam setiap hubungan sosial.2. Kepedulian terhadap SesamaAl-Qur'an mengajarkan umat Islam untuk peduli terhadap orang lain, terutama yang membutuhkan. Salah satu ayat yang mengandung pesan ini adalah:وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ(QS. Ash-Shura: 38)Artinya:"Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."Ayat ini menekankan pentingnya musyawarah (diskusi bersama) dalam pengambilan keputusan dan kepedulian untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Ini adalah panggilan untuk umat Islam untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memberikan perhatian pada kebutuhan orang lain.3. Pentingnya Persatuan dan KesatuanAl-Qur'an juga mengajarkan tentang pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Salah satu ayat yang menekankan nilai ini adalah:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا(QS. Ali Imran: 103)Artinya:"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati-hati kamu, maka jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga persatuan di tengah keragaman, baik dalam hal agama, suku, maupun budaya. Persatuan adalah kekuatan yang akan menguatkan umat Islam dan menjaga solidaritas sosial.4. Larangan Memfitnah dan Mengadu DombaSalah satu bentuk masalah sosial yang dapat merusak keharmonisan adalah fitnah dan adu domba. Al-Qur'an memperingatkan umat Islam untuk menjauhi perbuatan ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا(QS. Al-Hujurat: 12)Artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjingkan sebagian yang lain."Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga lisan dan tidak menyebarkan fitnah atau gossip. Ini penting untuk menjaga kedamaian dalam masyarakat dan mencegah terjadinya perpecahan sosial.5. Kewajiban Membantu Yatim Piatu dan Orang MiskinIslam sangat menekankan untuk membantu mereka yang lemah dan membutuhkan, seperti anak yatim dan orang miskin. Salah satu ayat yang menekankan hal ini adalah:وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ(QS. Al-Hashr: 9)Artinya:"Dan mereka mendahulukan (kepentingan) orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam keadaan kekurangan."Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk bersikap dermawan, tidak hanya memberi ketika mereka memiliki lebih, tetapi juga memberi meskipun dalam kondisi kekurangan.KesimpulanAyat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an ini mengandung nilai sosial yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Keadilan, kepedulian terhadap sesama, persatuan, serta larangan memfitnah dan mengadu domba adalah prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam masyarakat. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran ini, umat Islam dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan penuh kasih sayang.Jangan lewatkan kesempatan untuk menggali lebih banyak tentang ajaran keadilan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kunjungi mediamu.com untuk membaca artikel lengkap mengenai pesan-pesan sosial dalam Al-Qur'an dan bagaimana kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan modern. Klik di sini untuk membaca lebih lanjut! ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM </strong>- Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang mengandung nilai sosial yang sangat relevan dengan kehidupan umat manusia. Nilai-nilai ini mengajarkan umat Islam untuk berinteraksi secara baik dengan sesama, mengutamakan keadilan, kasih sayang, dan solidaritas sosial. Berikut adalah beberapa ayat yang mengandung nilai sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari:</p><h3 data-start="365" data-end="392">1. <strong data-start="372" data-end="392">Keadilan Sosial</strong></h3><p data-start="396" data-end="545">Al-Qur'an sangat menekankan pentingnya keadilan dalam kehidupan sosial. Salah satu ayat yang mengandung nilai keadilan sosial adalah sebagai berikut:</p><p data-start="550" data-end="815"><strong data-start="550" data-end="790">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا تَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</strong><br><em data-start="794" data-end="815">(QS. Al-Ma'idah: 8)</em></p><p data-start="823" data-end="1172"><strong data-start="823" data-end="835">Artinya:</strong><br data-start="835" data-end="838">"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."</p><p data-start="1177" data-end="1419">Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu berlaku adil dalam setiap aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam berinteraksi dengan orang yang mungkin kita tidak suka. Keadilan adalah nilai dasar yang harus dijaga dalam setiap hubungan sosial.</p><h3 data-start="1421" data-end="1459">2. <strong data-start="1428" data-end="1459">Kepedulian terhadap Sesama</strong></h3><p data-start="1463" data-end="1606">Al-Qur'an mengajarkan umat Islam untuk peduli terhadap orang lain, terutama yang membutuhkan. Salah satu ayat yang mengandung pesan ini adalah:</p><p data-start="1611" data-end="1705"><strong data-start="1611" data-end="1680">وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ</strong><br><em data-start="1684" data-end="1705">(QS. Ash-Shura: 38)</em></p><p data-start="1710" data-end="1873"><strong data-start="1710" data-end="1722">Artinya:</strong><br data-start="1722" data-end="1725">"Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."</p><p data-start="1878" data-end="2174">Ayat ini menekankan pentingnya musyawarah (diskusi bersama) dalam pengambilan keputusan dan kepedulian untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Ini adalah panggilan untuk umat Islam untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memberikan perhatian pada kebutuhan orang lain.</p><h3 data-start="2176" data-end="2221">3. <strong data-start="2183" data-end="2221">Pentingnya Persatuan dan Kesatuan</strong></h3><p data-start="2225" data-end="2351">Al-Qur'an juga mengajarkan tentang pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Salah satu ayat yang menekankan nilai ini adalah:</p><p data-start="2356" data-end="2573"><strong data-start="2356" data-end="2547">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا</strong><br><em data-start="2551" data-end="2573">(QS. Ali Imran: 103)</em></p><p data-start="2578" data-end="2868"><strong data-start="2578" data-end="2590">Artinya:</strong><br data-start="2590" data-end="2593">"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati-hati kamu, maka jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."</p><p data-start="2873" data-end="3083">Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga persatuan di tengah keragaman, baik dalam hal agama, suku, maupun budaya. Persatuan adalah kekuatan yang akan menguatkan umat Islam dan menjaga solidaritas sosial.</p><h3 data-start="3085" data-end="3133">4. <strong data-start="3092" data-end="3133">Larangan Memfitnah dan Mengadu Domba</strong></h3><p data-start="3137" data-end="3296">Salah satu bentuk masalah sosial yang dapat merusak keharmonisan adalah fitnah dan adu domba. Al-Qur'an memperingatkan umat Islam untuk menjauhi perbuatan ini:</p><p data-start="3301" data-end="3476"><strong data-start="3301" data-end="3450">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا</strong><br><em data-start="3454" data-end="3476">(QS. Al-Hujurat: 12)</em></p><p data-start="3481" data-end="3730"><strong data-start="3481" data-end="3493">Artinya:</strong><br data-start="3493" data-end="3496">"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjingkan sebagian yang lain."</p><p data-start="3735" data-end="3919">Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga lisan dan tidak menyebarkan fitnah atau gossip. Ini penting untuk menjaga kedamaian dalam masyarakat dan mencegah terjadinya perpecahan sosial.</p><h3 data-start="3921" data-end="3980">5. <strong data-start="3928" data-end="3980">Kewajiban Membantu Yatim Piatu dan Orang Miskin</strong></h3><p data-start="3984" data-end="4142">Islam sangat menekankan untuk membantu mereka yang lemah dan membutuhkan, seperti anak yatim dan orang miskin. Salah satu ayat yang menekankan hal ini adalah:</p><p data-start="4147" data-end="4236"><strong data-start="4147" data-end="4213">وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ</strong><br><em data-start="4217" data-end="4236">(QS. Al-Hashr: 9)</em></p><p data-start="4241" data-end="4377"><strong data-start="4241" data-end="4253">Artinya:</strong><br data-start="4253" data-end="4256">"Dan mereka mendahulukan (kepentingan) orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam keadaan kekurangan."</p><p data-start="4382" data-end="4543">Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk bersikap dermawan, tidak hanya memberi ketika mereka memiliki lebih, tetapi juga memberi meskipun dalam kondisi kekurangan.</p><h2 data-start="4545" data-end="4559">Kesimpulan</h2><p data-start="4560" data-end="4959" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an ini mengandung nilai sosial yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Keadilan, kepedulian terhadap sesama, persatuan, serta larangan memfitnah dan mengadu domba adalah prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam masyarakat. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran ini, umat Islam dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan penuh kasih sayang.</p><p data-start="4560" data-end="4959" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Jangan lewatkan kesempatan untuk menggali lebih banyak tentang ajaran keadilan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kunjungi <strong data-start="365" data-end="407"><a data-start="367" data-end="405" rel="noopener" target="_new" class="decorated-link" href="https://www.mediamu.com">mediamu.com<span aria-hidden="true" class="ms-0.5 inline-block align-middle leading-none"><svg width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="currentColor" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" data-rtl-flip="" class="block h-[0.75em] w-[0.75em] stroke-current stroke-[0.75]"><path d="M14.3349 13.3301V6.60645L5.47065 15.4707C5.21095 15.7304 4.78895 15.7304 4.52925 15.4707C4.26955 15.211 4.26955 14.789 4.52925 14.5293L13.3935 5.66504H6.66011C6.29284 5.66504 5.99507 5.36727 5.99507 5C5.99507 4.63273 6.29284 4.33496 6.66011 4.33496H14.9999L15.1337 4.34863C15.4369 4.41057 15.665 4.67857 15.665 5V13.3301C15.6649 13.6973 15.3672 13.9951 14.9999 13.9951C14.6327 13.9951 14.335 13.6973 14.3349 13.3301Z"></path></svg></span></a></strong> untuk membaca artikel lengkap mengenai pesan-pesan sosial dalam Al-Qur'an dan bagaimana kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan modern. <strong data-start="545" data-end="589">Klik di sini untuk membaca lebih lanjut!</strong></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/09/1168c0e5881df26.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="-1" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 10 Sep 2025 09:44:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>M. Fajrul Falaq</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        tarjih,
                                                                                                                                                                himpunan tarjih muhammadoyah,
                                                                                                                                                                mediamu,
                                                                                                                                                                ayat ayat sosial                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bagaimana Hukum Menerima Bantuan Bodong?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menerima-bantuan-bodong</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menerima-bantuan-bodong</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ &nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/02/11765bc5253d68f0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="48324" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 02 Feb 2024 02:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah Perkuat Kajian dan Pengawalan Kalender Hijriah Global Tunggal</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-perkuat-kajian-dan-pengawalan-kalender-hijriah-global-tunggal</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-perkuat-kajian-dan-pengawalan-kalender-hijriah-global-tunggal</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a0700ce5f0db.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="160689" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 15 May 2026 11:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah Imbau Dam Haji Dilaksanakan di Indonesia</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-imbau-dam-haji-dilaksanakan-di-indonesia</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-imbau-dam-haji-dilaksanakan-di-indonesia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169f2bf9f17543.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="32498" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 30 Apr 2026 02:37:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Fatwa Pengalihan Dam Haji Dikaji Empat Tahun, Ini Penjelasan Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-pengalihan-dam-haji-dikaji-empat-tahun-ini-penjelasan-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-pengalihan-dam-haji-dikaji-empat-tahun-ini-penjelasan-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/116a04fe592f3cf.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="195625" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 13 May 2026 10:43:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Penyembelihan Dam Haji Dialihkan ke Tanah Air, Ini Fatwa Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/penyembelihan-dam-haji-dialihkan-ke-tanah-air-ini-fatwa-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/penyembelihan-dam-haji-dialihkan-ke-tanah-air-ini-fatwa-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169e84d5c508c2.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="195625" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 22 Apr 2026 04:26:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bagaimana Hukum Menyuap untuk Menjadi PNS?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menyuap-untuk-menjadi-pns</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menyuap-untuk-menjadi-pns</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ &nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/02/11765bc52ff73840.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="61810" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 02 Feb 2024 02:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hukum,
                                                                                                                                                                menyuap,
                                                                                                                                                                pns                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bagaimana Hukum Bengkel yang Kerjasama dengan Asuransi?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-bengkel-yang-kerjasama-dengan-asuransi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-bengkel-yang-kerjasama-dengan-asuransi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/02/11765bc53acd7967.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="59533" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 02 Feb 2024 02:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Istitha&amp;apos;ah Haji Diperluas, Muhammadiyah Soroti Aspek Kesehatan hingga Administrasi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/istithaah-haji-diperluas-muhammadiyah-soroti-aspek-kesehatan-hingga-administrasi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/istithaah-haji-diperluas-muhammadiyah-soroti-aspek-kesehatan-hingga-administrasi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1169f74205535e5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="358732" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 02 May 2026 12:39:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Shalat Jenazah bagi Bayi Prematur yang Wafat dalam Kandungan</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-shalat-jenazah-bagi-bayi-prematur-yang-wafat-dalam-kandungan</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-shalat-jenazah-bagi-bayi-prematur-yang-wafat-dalam-kandungan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kasus wafatnya bayi sebelum waktunya lahir, terutama karena tindakan medis demi menyelamatkan ibu, kerap menimbulkan pertanyaan keagamaan, apakah bayi tersebut wajib dishalatkan? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Kasus wafatnya bayi sebelum waktunya lahir, terutama karena tindakan medis demi menyelamatkan ibu, kerap menimbulkan pertanyaan keagamaan, apakah bayi tersebut wajib dishalatkan?</p><p>Pertanyaan ini wajar muncul karena menyangkut dua nilai penting sekaligus, yakni penghormatan terhadap jenazah dan kejelasan hukum syariat. Islam, dalam hal ini, memberikan kriteria yang cukup tegas agar umat tidak terjebak pada keraguan dalam beramal.</p><p>Berdasarkan zahir hadis Nabi Muhammad saw., shalat jenazah bagi bayi yang lahir sebelum waktunya tidak otomatis diwajibkan. Kewajiban shalat jenazah baru berlaku apabila bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup, meskipun hanya sesaat. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116957c266697ad.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="2757957" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 02 Jan 2026 20:05:09 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Harta Gono Gini Dalam Islam</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/harta-gono-gini-dalam-islam</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/harta-gono-gini-dalam-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/01/11765b847748f3bb.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="106340" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 30 Jan 2024 00:44:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Pandangan Salat Sunnah Tahajjud Bagi Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/pandangan-salat-sunnah-tahajjud-bagi-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/pandangan-salat-sunnah-tahajjud-bagi-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pandangan Salat Sunnah Tahajjud Bagi MuhammadiyahSerta penjelasan yang didasari oleh dalil-dalil yang kuat untuk menentukan jumlah rakaat bacaan salat serta doa-doa yang dilantunkan dalam rangkaian salat sunna ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Pandangan Salat Sunnah Tahajjud bagi Muhammadiyah</p><h2>Makna Ibadah Salat Sunnah Tahajjud dalam Muhammadiyah&nbsp;</h2><p>Melakukan ibadah salat tahajud atau salat sunnah tahajud dan yang biasa dikenal di kalangan masyarakat Islam yaitu qiyamul lail ini merupakan Ibadah sunnah yang dilakukan setelah ba'da isya hingga terbitnya fajar. Dengan rangkaian salat yang sama dengan mendahulukan niat dilanjutkan dengan <a href="https://islam.mediamu.com/doa-iftitah-muhammadiyah-lengkap-dengan-makna-serta-keindahannya"><em>membaca iftitah </em></a>serta disambung dengan rangkaian salat hingga tahiyat akhir</p><p></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/12/11765886741c771e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="78626" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 15 Dec 2023 08:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Salat Sunnah Tahajjud</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Fatwa Muhammadiyah soal Kripto: Sah sebagai Aset tapi Bukan Alat Bayar</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-muhammadiyah-soal-kripto-sah-sebgai-aset-tapi-bukan-alat-bayar</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-muhammadiyah-soal-kripto-sah-sebgai-aset-tapi-bukan-alat-bayar</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/1169f41212467f0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="264535" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 30 Apr 2026 14:41:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Inilah Bacaan salat Muhammadiyah : Penjelasan, Dalil dan Terjemahnya</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/inilah-bacaan-salat-muhammadiyah-penjelasan-dalil-dan-terjemahnya</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/inilah-bacaan-salat-muhammadiyah-penjelasan-dalil-dan-terjemahnya</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Inilah Bacaan salat Muhammadiyah : Penjelasan, Dalil dan Terjemahnya&nbsp;Memaknai Ibadah Sholat&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Inilah Bacaan salat Muhammadiyah : Penjelasan, Dalil dan Terjemahnya&nbsp;</p><h2>Memaknai Ibadah Sholat&nbsp;</h2><p>&nbsp;Sholat memang adalah perintah Allah SWT yang wajib dilakukan umat muslim. Lalu, apa arti sholat secara bahasa?</p><p>Dalam buku yang bertajuk Misteri Kedua Belah Tangan dalam Salat, Zikir, dan Doa yang ditulis DR KH Badruddin Hasyim Subky, M HI, akar kata sholat adalah shalla sholattun yang berarti wa aqimushshalata da'aa'. Kata shalla memiliki arti doa dan kata shalat artinya mendirikan sholat.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/12/117658869a79f6ca.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="104090" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 12 Dec 2023 17:31:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        tuntunan solat                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menghajikan Orang Lain </title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/menghajikan-orang-lain</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/menghajikan-orang-lain</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimanakah hukum nya menghajikan orang lain dan bagaimanakah caranya, dan berikan dalil atas nya! ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah hukum nya menghajikan orang lain dan bagaimanakah caranya, dan berikan dalil atas nya!</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Menghajikan Orang lain atau badal diperbolehkan dengan syarat dan ketentuan tertentu pada Muhammadiyah sendiri telah di atur yakni Badal haji hukum, waktu dan orang yang melakukan perubahan&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Badal haji adalah ibadah haji yang dilakukan oleh seseorang atas nama orang lain yang wajib menunaikan ibadah haji tetapi karena orang tersebut sakit (cacat) sehingga orang tersebut tidak dapat melakukannya sendiri, pengorbanannya diserahkan kepada orang lain. Badal Hajj menjadi masalah karena ada beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang dapat dipahami bahwa seseorang hanya akan mendapat pahala dari hasil usahanya sendiri. Dengan kata lain, seseorang tidak boleh beribadah atas nama orang lain, pahala ibadah tersebut menjadi milik orang yang melaksanakannya, bukan milik orang lain. Selain itu, terdapat hadis Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam yang menjelaskan bahwa seorang anak boleh menunaikan haji untuk orang tuanya atau seseorang dapat menunaikan haji untuk saudaranya yang meninggal karena sakit, usia tua, atau lanjut usia. meninggal, padahal dia diwajibkan untuk Adapun ayat-ayat al-Quran yang dimaksud antara lain:</span></p><ol><li><span style="font-weight: 400;"> Surat al-Baqarah ayat 286:</span></li></ol> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165391fcd74443.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="23615" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 25 Oct 2023 14:02:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Menghajikan Orang Lain </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 32: Kalimat&amp;Kalimat Hamdallah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-32-kalimat-kalimat-hamdallah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-32-kalimat-kalimat-hamdallah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apa sajakah kalimat-kalimat yang mengekspresikan rasa syukur kepada Allah swt?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apa sajakah kalimat-kalimat yang mengekspresikan rasa syukur kepada Allah swt?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: islam merupakan agama yang mengajarkan keindahan dalam bertutur kata kepada sesamanya. Islam juga menerang kan bahwa kalimat yang baik yang keluar pada lisan seseorang merupakan sedeka baginya yang mana kalimat ini diterangkan pada sabda Nabi Muhammad saw:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&ldquo;</span><b><i>Kalimat thayyibah</i></b><span style="font-weight: 400;">&nbsp;adalah sedekah, dan setiap langkah yang dijalankan menuju shalat atau masjid adalah sedekah.&rdquo; (HR Ahmad, dari Abu Hurairah)</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652690e17c33b.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="80738" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 11 Oct 2023 12:11:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        kalimat hamdallah,
                                                                                                                                                                subhanallah,
                                                                                                                                                                alhamdulillah,
                                                                                                                                                                laa ilaaha illallah,
                                                                                                                                                                allahu akbar                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 21: Djazman Al Kindi Si Bapak Perkaderan</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-21-djazman-al-kindi-si-bapak-perkaderan</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-21-djazman-al-kindi-si-bapak-perkaderan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: siapakah itu dzajman al kindi? Dan mengapa bisa dijuluki bapak perkaderan?&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: siapakah itu dzajman al kindi? Dan mengapa bisa dijuluki bapak perkaderan?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: </span><span style="font-weight: 400;">Pada masanya, Djazman Al Kindi sangat populer terutama di kalangan aktivis Muhammadiyah. Sejak tahun 1961, Djazman al-Kindi yang saat itu kuliah di UGM kerap berbincang mendalam dengan beberapa tokoh muda Muhammadiyah lainnya dari berbagai sekolah. Mereka antara lain Soedibyo Markoes (UGM), Rosyad Soleh (UIN Yogyakarta), Amien Rais (UGM), Yahya A.Muhaimin (UGM) dan Marzuki Usman (UGM). Intinya, Djazman Al Kindi menyampaikan gagasan bahwa secara organisasi, Mahasiswa Muhammadiyah akan terpisah dari Pemuda Muhammadiyah yang selama ini tergabung dalam Pengurus Kemahasiswaan. Dia menyarankan untuk membentuk organisasi sendiri. Tujuan Djazman Al Kindi mengenai pendirian IMM sudah jelas.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tujuannya adalah untuk mengembangkan kelompok intelektual Muhammadiyah yang memiliki cita-cita universal, nasional, dan kemanusiaan sehingga dapat muncul masyarakat Islam yang sejati. Ide ini membuahkan hasil tiga tahun kemudian, tepatnya pada 14 Maret 1964. Pada hari ini, IMM didirikan. Dengan demikian, Djazman Al Kindi dan para tokoh muda tersebut di atas menjadi pendiri IMM dan merupakan bagian dari generasi pertama IMM. Bukan hanya itu beliau juga pembangun Universitas Muhammadiyah Surakarta atau akrap kita sebut dengan UMS. Lalu Siapakah Djazman Al Kindi? Ia adalah putra Penghulu Keraton Vuaogyakarta Hadiningrat, KRT Wardan Diponingrat. Ia dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 6 September 1938. Pendidikan Djazman al-Kindi dimulai di SR Muhammadiyah. Diikuti oleh SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah I Area B. Semua sekolah tersebut berada di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, Djazman Al Kindi melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari kampus ini, ia meraih gelar sarjana di bidang sastra dan budaya. Kemudian, di kampus yang sama, ia meraih gelar sarjana geografi pada tahun 1965. Selanjutnya Djazman al-Kindi mengambil mata kuliah manajemen di Universitas Malaysia, Kuala Lumpur, pada tahun 1968. Beliau juga menyelesaikan program non-gelar di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada. Hal ini terjadi pada tahun 1974 hingga 1975. Setelah menyelesaikan studinya, Djazman Al Kindi mulai aktif di dunia pendidikan.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165248c6d20857.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="40350" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:29:59 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        djazman al-kindi,
                                                                                                                                                                si bapak perkaderan,
                                                                                                                                                                tokoh muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 15: Hukum Mengirimkan Foto Kepada Yang Bukan Mahram</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-15-hukum-mengirimkan-foto-kepada-yang-bukan-mahram</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-15-hukum-mengirimkan-foto-kepada-yang-bukan-mahram</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah hukum nya jika kita mengirimkan foto kepada lawan jenis atau yang bukan mahram kita?&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah hukum nya jika kita mengirimkan foto kepada lawan jenis atau yang bukan mahram kita?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: kemajuan teknologi membuat kita semakin tidak terbatas dan dapat mengakses dengan mudah segala bentuk informasi bahkan kemajuan ini membuat kita semakin mudah dalam berkomunikasi. Sekarang tidak komunikasi tidak hanya sebatas mengirimkan pesan chat tetapi keajuan teknologi membuat kita dapat mengakses komunikasi secara tatap muka, mengirimkan dokomen maupun foto. Yang mana hal ini membuat yang jauh semakin dekat, namun kemajuan teknologi ini harus dapat dengan bijaksana kita terima agar tidak menjadi bahan kejahatan teknologi. Bukan hanya itu kita sebagai muslim(H) seharusnya dapat membatsi dan membentengi diri kita agar dapat dengan bijak menggunakan teknologi yang ada.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><span> </span></span><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana kah hukumnya mengirimkan kan foto kepada yang bukan mahram, sedangkan mereka tidak ada hubungan darah dengan kita. Perlu bagi kita untuk meetahui siapa sajakah yang menjadi mahram kita. Menurut agama islam hukum mengirimkan foto kepada yang bukan mahram adalah haram apalagi mengirimkan dengan niat menggoda sehingga menimbulkan sahwat dari pada lawan jenis. Untuk menjaga diri kita hal-hal demikian ini hemdaknya hanya kita pertunjukan dengan mereka mahram kita. Menurut Muhammadiyah sendiri </span><span style="font-weight: 400;">dapat diketahui bahwa hubungan mahram dapat terjadi karena tiga </span><span style="font-weight: 400;">sebab, yaitu: </span><b>Mahram sebab Keturunan, Mahram sebab Susuan, Mahram sebab Perkawinan. Berikut penjelasan lengkapnya:</b></p>
<ul>
<li aria-level="1"><b>Mahram sebab Keturunan</b></li>
</ul>
<p style="text-align: right;"><b>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا [النساء: 23]</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116521006b9bf01.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="4709" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:04:06 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        mengirimkan foto,
                                                                                                                                                                mahram,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 11: Hukum Halal Atau Haram Memakan Laron</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-11-hukum-halal-atau-haram-memakan-laron</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-11-hukum-halal-atau-haram-memakan-laron</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah hukumnya memakan binatang laron, dan apakah dalil yang menegaskan halal atau haram nya memakan hewan laron?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah hukumnya memakan binatang laron, dan apakah dalil yang menegaskan halal atau haram nya memakan hewan laron?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Laron merupakan serangga yang sering muncul pada musim hujan. Ciri fisiknya agak mirip dengan semut dengan tubuh lebih lembut dan punggung lebih besar. Sebelum mempunyai sayap, ngengat sering disebut rayap. Mereka memakan kayu dan memilih menetap di dalamnya. Hewan ini mempunyai kebiasaan berkumpul di tempat yang banyak cahaya, terutama cahaya. Pada saat laron tersebut muncul, banyak sekali laron yang berkeliaran sehingga ada sebagian orang yang mengkonsumsinya dengan cara digoreng tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mengkonsumsi kupu-kupu tersebut halal atau haram. Pertanyaannya, apakah laron itu benar-benar hewan yang halal atau haram untuk dikonsumsi? Menurut fatwa tarjih Muhammadiyah Laron termasuk ke dalam ordo archyptera atau isoptera yang memiliki ciri-ciri di antaranya: berupa tubuh lunak, memiliki dua sayap yaitu sayap depan berupa sayap yang agak menebal seperti kulit, bersifat hemitabola, memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama, tipe mulut mengunyah, dan cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang disebut polimorfisme. Sedangkan pembagian tugas pada struktur hidupnya berupa raja, ratu, dan prajurit serta tentara.&nbsp; Siklus hidup dari isoptera mengalami metamorfosis tidak sempurna berupa telur, nimfa, dari nimfa akan menjadi prajurit, pekerja, dan nimfa fertile, kemudian dari fertile akan menjadi laron dan terlepas sayapnya, mengalami seleksi menjadi kasta reproduksi (raja dan ratu). </span><span style="font-weight: 400;">Di antara dalil-dalil yang mengharamkan suatu makanan adalah sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li><b> Nas al-Quran</b></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2): 173</span></li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><b>إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ&nbsp;ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ&nbsp;ۚ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [البقرة: 173]</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak mengiinginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&rdquo;</span></i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;[QS. al-Baqarah (2): 173]</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Firman Allah dalam surat al-Maidah (5): 3</span></li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><b>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ&nbsp;ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ&nbsp;ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ&nbsp;ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا&nbsp;ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ&nbsp;ۙ فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [المائدة: 3]</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651ee1005a62c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="29816" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 05 Oct 2023 16:16:49 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        halal,
                                                                                                                                                                haram,
                                                                                                                                                                memakan laron,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Tawaf Saat Batal Wudu, Begini Penjelasan Fikih dan Keringanannya</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-tawaf-saat-batal-wudu-begini-penjelasan-fikih-dan-keringanannya</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-tawaf-saat-batal-wudu-begini-penjelasan-fikih-dan-keringanannya</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/04/1169e7463ab7502.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="238502" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 21 Apr 2026 09:45:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menimbang Hukum Operasi Plastik dalam Islam</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/menimbang-hukum-operasi-plastik-dalam-islam</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/menimbang-hukum-operasi-plastik-dalam-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Operasi plastik pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram dalam pandangan Islam. Namun, yang menjadi masalah adalah niat dan tujuan di balik tindakan tersebut. Operasi yang dilakukan semata-mata untuk mencari kenikmatan duniawi, kebanggaan diri, atau menipu orang lain tergolong perbuatan yang dilarang. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Operasi plastik pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram dalam pandangan Islam. Namun, yang menjadi masalah adalah niat dan tujuan di balik tindakan tersebut. Operasi yang dilakukan semata-mata untuk mencari kenikmatan duniawi, kebanggaan diri, atau menipu orang lain tergolong perbuatan yang dilarang.</p><p>Sebaliknya, operasi yang dilakukan demi kemaslahatan, seperti memperbaiki cacat fisik atau menunjang fungsi tubuh agar dapat beribadah dengan lebih baik tentu diperbolehkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak menolak kemajuan ilmu kedokteran, selama penggunaannya diarahkan pada kemaslahatan dan bukan kesia-siaan.</p><p>Kemaslahatan merupakan tujuan utama dari setiap penetapan hukum dalam Islam. Hal ini berbeda dengan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara dan cenderung melahirkan kesombongan. Allah menilai amal perbuatan manusia bukan hanya dari bentuk lahiriahnya, tetapi dari niat dan keikhlasan hati. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56, bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Maka, tindakan yang dimotivasi oleh pengabdian kepada Allah dan manfaat yang nyata bagi kehidupan dapat dibenarkan secara syar’i.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168f1e5b7f34f9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="191502" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 17 Oct 2025 13:44:22 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 5: Cara Menghitung Darah Istihadah </title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-5-cara-menghitung-darah-istihadah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-5-cara-menghitung-darah-istihadah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: ap aitu istiqhadah, bagaimanakah cara menghitung darah istiqhadah, dan bagaimana cara bersuci dari istiqhadah pasca haid bagi seorang wanita?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: ap aitu istiqhadah, bagaimanakah cara menghitung darah istiqhadah, dan bagaimana cara bersuci dari istiqhadah pasca haid bagi seorang wanita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: </span><span style="font-weight: 400;">Darah istihadah adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita di luar kebiasaan bulannya atau di luar waktu haid, yang seharusnya sudah suci tetapi melebihi waktu haid bulanan nya, serta bukan disebabkan karena melahirkan. Pada umumnya, wanita mengalami haid selama 6 - 8 hari dan paling lama 15 hari</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Dari segi warna, darah haid umumnya hitam sedangkan darah istihadah umumnya merah segar. Yang Pada umumnya darah haid beraroma busuk atau tidak enak sedangkan istihadah tidak busuk karena merupakan darah biasa yang disebabkan terputusnya urat atau pembuluh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan memperhatikan perbedaan di atas, dapat diketahui apakah darah yang keluar itu termasuk darah haid atau darah istihadah. Dengan demikian juga kita dapat menghitung kapan kita haid dan kapan darah istiqhadah itu keluar dan berhenti nya. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam suatu hadis Nabi Muhammad&nbsp;</span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;kepada Fatimah binti Abu Hubaisy yang diriwayatkan oleh &lsquo;Aisyah, disampaikan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"></span><b>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِى حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتِ النَّبِىَّ &ndash; صلى الله عليه وسلم &ndash; فَقَالَ ذَلِكَ عِرْقٌ، وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى وَصَلِّى. [رواه البخاري]</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651d75ed2e018.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="27661" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 04 Oct 2023 14:25:22 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        wanita,
                                                                                                                                                                cara menghitung darah,
                                                                                                                                                                istihadah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Menikahi Sepupu Dalam Islam</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menikahi-sepupu-dalam-islam</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menikahi-sepupu-dalam-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  Adapun yang membuat pernikahan antar sepupu ini menjadi perdebatan bagi sebagian masyarakat adalah karena hubungan kerabat dekat, yang secara biologis terdapat banyak risiko kesehatan terhadap calon anak dari pasangan tersebut.Dikutip dari halodoc.com, pernikahan antar sepupu menyebabkan risiko bayi mewarisi penyakit gen dari orang tuanya lebih besar dibanding anak dari pasangan yang bukan sepupu. Tidak hanya itu, anak dari pernikahan antar sepupu juga berisiko mengalami keterbelakangan mental, bayi meninggal saat dalam kandungan, penyakit resesif autosom, serta cacat bawaan lahir. Namun biasanya risiko-risiko ini terjadi apabila antara sepupu yang menikah tersebut masih memiliki hubungan darah yang dekat.Oleh karena itu, menikahi sepupu dihalalkan dalam islam, namun tidak dianjurkan secara biologis jika masih memiliki hubungan darah yang dekat mengingat risiko-risiko yang bisa terjadi.*Penulis adalah tim magang mediamu dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b> </b></p><p dir="ltr"><span>Adapun yang membuat pernikahan antar sepupu ini menjadi perdebatan bagi sebagian masyarakat adalah karena hubungan kerabat dekat, yang secara biologis terdapat banyak risiko kesehatan terhadap calon anak dari pasangan tersebut.</span><b></b></p><p dir="ltr"><span>Dikutip dari </span><a href="http://halodoc.com"><span>halodoc.com</span></a><span>, pernikahan antar sepupu menyebabkan risiko bayi mewarisi penyakit gen dari orang tuanya lebih besar dibanding anak dari pasangan yang bukan sepupu. Tidak hanya itu, anak dari pernikahan antar sepupu juga berisiko mengalami keterbelakangan mental, bayi meninggal saat dalam kandungan, penyakit resesif autosom, serta cacat bawaan lahir. Namun biasanya risiko-risiko ini terjadi apabila antara sepupu yang menikah tersebut masih memiliki hubungan darah yang dekat.</span></p><p dir="ltr"><span>Oleh karena itu, menikahi sepupu dihalalkan dalam islam, namun tidak dianjurkan secara biologis jika masih memiliki hubungan darah yang dekat mengingat risiko-risiko yang bisa terjadi.</span></p><p dir="ltr"><span></span></p><p dir="ltr"><span><em><strong>*Penulis adalah tim magang mediamu dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan</strong></em></span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11690e0601a1b2a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="47236" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 07 Nov 2025 21:45:32 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Membaca &amp;apos;Aamin&amp;apos; Saat Mendengar Doa</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-membaca-aamin-saat-mendengar-doa</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-membaca-aamin-saat-mendengar-doa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Masih sering muncul pertanyaan di tengah-tengah umat Islam yang berkaitan dengan tata cara dan hukum mengucapkan “Aamiin” ketika mendengar orang lain berdoa, baik di dalam maupun di luar shalat. Apakah hukumnya wajib seperti menjawab salam, atau hanya sebatas anjuran? Pertanyaan ini penting karena berkaitan dengan adab dan kesempurnaan ibadah dalam Islam.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Masih sering muncul pertanyaan di tengah-tengah umat Islam yang berkaitan dengan tata cara dan hukum mengucapkan “Aamiin” ketika mendengar orang lain berdoa, baik di dalam maupun di luar shalat. Apakah hukumnya wajib seperti menjawab salam, atau hanya sebatas anjuran? Pertanyaan ini penting karena berkaitan dengan adab dan kesempurnaan ibadah dalam Islam. </p><p>Berdasarkan penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 163–164, tidak ditemukan dalil yang secara tegas mewajibkan seseorang mengucapkan “Aamiin” setiap kali mendengar doa orang lain, sebagaimana kewajiban menjawab salam.</p><p>Kata “Aamiin” sendiri berasal dari bacaan yang disunnahkan, dengan pengucapan yang benar yaitu memanjangkan huruf hamzah yang berharakat fathah dan mim yang berharakat kasrah, sehingga berbunyi “Aamiin.” Hal ini berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari, yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. apabila selesai membaca surat Al-Fatihah, beliau mengucapkan “Aamiin” dengan suara yang jelas dan panjang. Ini menunjukkan bahwa pengucapan “Aamiin” adalah bagian dari sunnah dalam konteks tertentu, terutama dalam shalat berjamaah setelah pembacaan Al-Fatihah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168e1dd29a4ac5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="163695" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 05 Oct 2025 09:51:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Riba: Tambahan yang Mengundang Murka Ilahi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/riba-tambahan-yang-mengundang-murka-ilahi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/riba-tambahan-yang-mengundang-murka-ilahi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Riba secara bahasa berarti ziyadah atau tambahan. Namun dalam istilah syariat, riba diartikan sebagai tambahan atau kelebihan tanpa adanya imbalan jasa atau barang yang diwajibkan bagi salah satu pihak dalam suatu akad. Penjelasan ini ditegaskan dalam Keputusan Muktamar Tarjih di Malang tahun 1989, sebagaimana dijelaskan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 206–207.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Riba secara bahasa berarti <em>ziyadah</em> atau tambahan. Namun dalam istilah syariat, riba diartikan sebagai tambahan atau kelebihan tanpa adanya imbalan jasa atau barang yang diwajibkan bagi salah satu pihak dalam suatu akad. Penjelasan ini ditegaskan dalam Keputusan Muktamar Tarjih di Malang tahun 1989, sebagaimana dijelaskan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 206–207. </p><p>Riba terjadi ketika seseorang menentukan keuntungan secara sepihak, sehingga bersifat menghisap dan menimbulkan kesengsaraan, baik bagi individu maupun masyarakat luas. Dengan demikian, praktik riba bertentangan dengan prinsip keadilan dan keseimbangan yang menjadi dasar ajaran Islam.</p><p>Hukum riba dalam Islam secara tegas adalah haram. Landasan hukumnya bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam surat Al-Baqarah ayat 275 disebutkan, “<em>Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba</em>.” Ayat ini menunjukkan perbedaan mendasar antara jual beli yang halal dan riba yang diharamkan. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168fc2fbae1a5f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="198470" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 25 Oct 2025 09:03:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjadikan Ayat Al&amp;Qur’an sebagai Jampi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/menjadikan-ayat-al-quran-sebagai-jampi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/menjadikan-ayat-al-quran-sebagai-jampi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Penulis: Yayan Suryana*</p><p>Dalam masyarakat kita, tidak jarang ditemukan praktik-praktik yang menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sarana kesembuhan fisik maupun kecerdasan intelektual. Misalnya, ada yang menuliskan ayat pada selembar kertas lalu merendamnya dalam air untuk diminum atau dipakai mandi, dengan harapan memperoleh kesembuhan atau kecerdasan. Pertanyaannya, apakah praktik semacam ini mendapat legitimasi dari tuntunan agama?</p><p>Menurut penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 31–32, tidak terdapat dalil atau tuntunan yang membenarkan penulisan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kemudian digunakan dengan cara seperti itu. Yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah membaca dan merenungkan kandungannya, bukan menggunakannya secara fisik sebagai media ritual semacam itu.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/116853abf8b9604.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="433644" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 25 Jun 2025 17:20:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        al quran,
                                                                                                                                                                jampi,
                                                                                                                                                                tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bolehkah Melakukan Baiat pada Kelompok Tertentu?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/bolehkah-melakukan-baiat-pada-kelompok-tertentu</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/bolehkah-melakukan-baiat-pada-kelompok-tertentu</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ PERTANYAAN:
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong><u>PERTANYAAN:</u></strong></p>
<p>Assalamu’alaikum w. w.</p>
<p>Mohon jelaskan Ustadz, hukum baiat ulang dalam suatu kelompok tertentu. Adakah dalil yang membenarkan hal tersebut? Saya ingin menolong teman saya yang telah masuk ke dalam kelompok tersebut, dia sedang bimbang karena dia takut dianggap kafir. Syukran Jazakallah.</p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a3896c1a78.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="86696" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 25 Sep 2021 13:45:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        fatwa tarjih pp muhammadiyah,
                                                                                                                                                                hadits tentang baiat,
                                                                                                                                                                hukum baiat pada kelompok tertentu,
                                                                                                                                                                pwm diy                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bolehkah Menyandarkan Sesuatu kepada Sebab Bukan kepada Allah SWT?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/bolehkah-menyandarkan-sesuatu-kepada-sebab-bukan-kepada-allah-swt</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/bolehkah-menyandarkan-sesuatu-kepada-sebab-bukan-kepada-allah-swt</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ PERTANYAAN
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>PERTANYAAN</strong></p>
<p>Assalamu ’alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Saya membaca tulisan ustadz H. Muammal Hamidy, Lc. dari Bangil Jawa Timur, dalam lembaran dakwah Uswatun Hasanah No. 976 tanggal 21 Jumadal Akhir 1428 H / 6 Juli 2007 M, terbitan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta yang menguraikan tentang syirik itu ada 6 (enam) macam. Satu di antaranya adalah <strong><em>syirkul asbab</em></strong>, yaitu menyandarkan sesuatu kepada sebab, bukan kepada kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.</p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a38931a086.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17747" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 03 Sep 2021 03:35:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        takdir allah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Apakah Fidyah Bisa Dibayarkan dalam Bentuk Uang dan Dibayarkan Sekaligus?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/apakah-fidyah-bisa-dibayarkan-dalam-bentuk-uang-dan-dibayarkan-sekaligus</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/apakah-fidyah-bisa-dibayarkan-dalam-bentuk-uang-dan-dibayarkan-sekaligus</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pertanyaan:



 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pertanyaan:</p>



<p>Saya seorang perempuan lanjut usia (80 tahun lebih). Saya merasa tidak kuat menjalankan ibadah puasa, karena apabila saya berpuasa badan saya menjadi sangat lemah dan bisa sakit. Saya berkeinginan membayar fidyah. Tetapi kata orang di kampung saya, fidyah harus dibayar setiap hari dan tidak boleh dibayar sekaligus, serta harus dalam bentuk makanan dan tidak boleh dalam bentuk uang. Saya tidak mampu menyiapkan makanan dan mengantarkannya kepada fakir miskin setiap hari karena tempat yang agak jauh dan karena usia saya yang sudah sangat lanjut.</p>



<p>Pertanyaannya: Apa memang tidak boleh dibayarkan sekaligus baik di depan atau di belakang untuk orang dalam kondisi seperti saya? Dan apa memang harus dalam bentuk makanan dan apa tidak boleh dalam bentuk uang? Terima kasih atas perhatiannya.</p>



 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a389091649.jpg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="52171" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 28 Apr 2021 04:33:56 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        bentuk,
                                                                                                                                                                dibayarkan,
                                                                                                                                                                dinamisberkemajuan,
                                                                                                                                                                fidyah,
                                                                                                                                                                mediamuid,
                                                                                                                                                                mpi pwm diy,
                                                                                                                                                                uang                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Posisi Pendapat Mazhab Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/posisi-pendapat-mazhab-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/posisi-pendapat-mazhab-dalam-manhaj-tarjih-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Perkara mazhab dalam tubuh Muhammadiyah merupakan satu topik menarik yang banyak dipertanyakan, baik oleh masyarakat awam maupun warga Muhammadiyah sendiri, baik oleh orang yang memang ingin tahu maupun oleh orang yang sengaja memaksudkannya sebagai hujatan. Hal ini disebabkan karena putusan dan fatwa Muhammadiyah yang dalam masalah keagamaan tertentu tampak mengikuti mazhab yang satu, tetapi dalam persoalan lain mengikuti mazhab yang berbeda, atau bahkan tidak mengikuti pendapat mazhab mana pun. Apa yang secara lahiriah terkesan tidak konsisten ini mungkin akan menjadi lebih mengejutkan karena faktanya, &nbsp;Muhammadiyah justru tidak bermazhab. Untuk sampai pada konklusi tersebut, maka akan dijelaskan tahap demi tahap sebagai berikut :



 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Perkara mazhab dalam tubuh Muhammadiyah merupakan satu topik menarik yang banyak dipertanyakan, baik oleh masyarakat awam maupun warga Muhammadiyah sendiri, baik oleh orang yang memang ingin tahu maupun oleh orang yang sengaja memaksudkannya sebagai hujatan. Hal ini disebabkan karena putusan dan fatwa Muhammadiyah yang dalam masalah keagamaan tertentu tampak mengikuti mazhab yang satu, tetapi dalam persoalan lain mengikuti mazhab yang berbeda, atau bahkan tidak mengikuti pendapat mazhab mana pun. Apa yang secara lahiriah terkesan tidak konsisten ini mungkin akan menjadi lebih mengejutkan karena faktanya, &nbsp;Muhammadiyah justru tidak bermazhab. Untuk sampai pada konklusi tersebut, maka akan dijelaskan tahap demi tahap sebagai berikut :</p>



<p><strong>Pengertian Mazhab</strong></p>



<p>Secara etiomologi, mazhab berasal dari kata <em>zahaba-yazhabu-ziha&gt;ban-mazhaban </em>yang berarti tempat pergi, yakni tempat perginya pikiran, masanya, dan kejadian-kejadiannya. Ada yang mengatakan bahwa mazhab merupakan singkatan dari <em>ma&gt; zahaba ilaihi</em> lalu disingkat menjadi mazhab. Akan tetapi, Imam al-Munawwir menyatakan dalam kitab at-Tawqif bahwa kata mazhab digunakan dalam ranah hukum, artinya pergi dengan membawa hukum (berpendapat).</p>



 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a373a9ecc2.jpg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="49126" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 24 Apr 2021 20:38:57 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        dinamisberkemajuan,
                                                                                                                                                                manhaj,
                                                                                                                                                                mazhab,
                                                                                                                                                                mediamuid,
                                                                                                                                                                mpi pwm diy,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                pendapat,
                                                                                                                                                                posisi,
                                                                                                                                                                tarjih,
                                                                                                                                                                virgi lisna wardhani                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Salat Jumat Bagi Wanita</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-salat-jumat-bagi-wanita</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-salat-jumat-bagi-wanita</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Penulis: Yayan Suryana*</p><p>Tulisan ini merujuk pada Buku Tanya Jawab Agama Jilid 1 halaman 62–63, yang membahas persoalan klasik namun tetap relevan hingga kini, yaitu apakah wanita boleh melakukan salat Jumat dan jika iya, apakah masih wajib melaksanakan shalat Dzuhur?</p><p>Secara umum, mayoritas ulama sepakat bahwa kewajiban salat Jumat ditujukan kepada laki-laki. Hal ini berdasarkan Hadis yang mengecualikan wanita, budak, anak kecil, dan orang sakit dari kewajiban shalat Jumat. Namun, di sisi lain, terdapat pula pendapat yang membolehkan, bahkan mewajibkan, wanita menghadiri salat Jumat, berdasar pada keumuman perintah Allah dalam Surah Al-Jumu’ah yang ditujukan kepada kaum mukminin.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/11768563857d9121.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="82364" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 21 Jun 2025 11:38:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Membacakan Yasin untuk Orang Sakit</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-membacakan-yasin-untuk-orang-sakit</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-membacakan-yasin-untuk-orang-sakit</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Oleh: Yayan Suryana*</p><p>Membacakan surat Yasin kepada orang sakit, terutama yang dalam kondisi kritis, telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Tradisi ini diyakini dapat menjadi sarana untuk meringankan penderitaan atau mempercepat kesembuhan. Namun, sebagai umat yang menjadikan dalil sebagai landasan utama, penting untuk meninjau apakah amalan ini benar-benar bersandar pada ajaran yang sahih.</p><p>Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 1 halaman 17–18, disebutkan bahwa sebagian ulama menggunakan hadis riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya, dari Ma’qil bin Yasar, sebagai dasar: “<em>Iqra’ū ‘alā mawtākum Yāsīn</em>” (“Bacakanlah Yasin kepada orang yang menjelang kematian”).</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/117685639080036f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="87855" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 21 Jun 2025 11:35:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Iduladha Jatuh di Hari Jumat, Bolehkah Tak Salat Jumat? Ini Penjelasan Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/iduladha-jatuh-di-hari-jumat-bolehkah-tak-salat-jumat-ini-penjelasan-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/iduladha-jatuh-di-hari-jumat-bolehkah-tak-salat-jumat-ini-penjelasan-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ YOGYA &mdash; Hari raya Iduladha 1446 H ditetapkan telah jatuh pada hari Jumat, tanggal 6 Juni 2025 M atau 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah besok. Hal ini disampaikan langsung oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 1/MLM/I.O/E/2025. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b>YOGYA &mdash; </b><span style="font-weight: 400;">Hari raya Iduladha 1446 H ditetapkan telah jatuh pada hari Jumat, tanggal 6 Juni 2025 M atau 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah besok. Hal ini disampaikan langsung oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 1/MLM/I.O/E/2025.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Dengan hari raya Iduladha pada tahun ini yang jatuh pada hari Jumat, muncul pertanyaan apakah setelah salat Id boleh untuk tidak salat Jumat?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Terkait hal ini, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta H. Ali Yusuf, </span><span style="font-weight: 400;">S.Th</span><span style="font-weight: 400;">.I., M.Hum. menjawab pertanyaan tersebut. Ia merujuk kepada fatwa tarjih Jilid kedua halaman 99 sampai 100 tahun 1995, dari fatwa tersebut adanya kebolehan untuk tidak melaksanakan salat Jumat yang bertepatan hari raya di hari Jumat.&nbsp;</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/116841701ace851.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="179618" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 05 Jun 2025 17:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bagaimana Jika Merasakan Sesuatu Menetes dari Kemaluan Saat Sholat?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/merasakan-menetes-dari-kemaluan-saat-sholat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/merasakan-menetes-dari-kemaluan-saat-sholat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/02/11765bc516743926.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="78474" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 02 Feb 2024 02:10:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        merasa,
                                                                                                                                                                menetes,
                                                                                                                                                                kemaluan,
                                                                                                                                                                sholat                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Viral Rebutan Jadi Imam Hingga Baku Hantam, Begini Penjelasan Fatwa Tarjih</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/viral-rebutan-jadi-imam-hingga-baku-hantam-begini-penjelasan-fatwa-tarjih</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/viral-rebutan-jadi-imam-hingga-baku-hantam-begini-penjelasan-fatwa-tarjih</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Kontroversi dan kegemparan mewarnai dunia maya akibat adu fisik dua lelaki yang berlomba menjadi imam salat. Peristiwa yang terjadi di Masjid Al Muttaqun, Kediri, menunjukkan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan di tengah umat Islam. Konflik yang bermula dari rebutan posisi imam salat Maghrib ini tidak hanya meresahkan, tapi memunculkan dilema antara perlombaan dalam kebaikan atau tanda kurangnya adab. Bagaimana menyikapi hal ini? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Kontroversi dan kegemparan mewarnai dunia maya akibat adu fisik dua lelaki yang berlomba menjadi imam salat. <span>Peristiwa yang terjadi di Masjid Al Muttaqun, Kediri, menunjukkan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan di tengah umat Islam. Konflik yang bermula dari rebutan posisi imam salat Maghrib ini tidak hanya meresahkan, tapi memunculkan </span>dilema antara perlombaan dalam kebaikan atau tanda kurangnya adab. Bagaimana menyikapi hal ini?</p><p>Dalam Fatwa Tarjih, menjaga kesinambungan dan kualitas pelaksanaan ibadah di suatu masjid sangat dianjurkan memiliki seorang imam tetap, terutama untuk salat-salat fardu lima waktu. Imam yang dipilih sebaiknya paling sesuai dengan kriteria, yakni memiliki kefasihan dalam membaca Al-Qur'an, pemahaman yang baik terhadap Sunnah, pengalaman hijrah, dan kesetiaan terhadap ajaran Islam.</p><p>Tetapi, dalam situasi di mana terdapat banyak individu yang memenuhi kriteria imam tersebut, masjid dapat mempertimbangkan untuk membuat jadwal imam secara bergilir. Pendekatan ini tidak hanya memberikan peluang kepada lebih banyak orang untuk berkontribusi dalam peran imam, tetapi juga menciptakan suasana kebersamaan dan partisipasi aktif seluruh jamaah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/12/11658a459a6a3c6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="78751" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 26 Dec 2023 03:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        rebutan imam,
                                                                                                                                                                viral,
                                                                                                                                                                baku hantam,
                                                                                                                                                                penjelasan fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Pandangan Muhammadiyah Terhadap Imam Mahdi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/benarkah-imam-mahdi-akan-turun</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/benarkah-imam-mahdi-akan-turun</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[  ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/01/11765b848f1c9ba3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="94625" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 30 Jan 2024 00:39:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        pandangan,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                imam mahdi                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Cara Warga Muhammadiyah Menyikapi Natal Sesuai Tuntunan Tarjih</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/cara-warga-muhammadiyah-menyikapi-natal-sesuai-tuntunan-tarjih</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/cara-warga-muhammadiyah-menyikapi-natal-sesuai-tuntunan-tarjih</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Cara Warga Muhammadiyah Menyikapi Natal Sesuai Tuntunan Tarjih Warga Muhammadiyah menyikapi Natal sesuai dengan tuntunan Tarjih, ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Sebentar lagi, kita akan memasuki momen di mana saudara-saudara kita yang beragama Kristen atau Katolik akan merayakan Natal. Bagi kita, umat Islam, tekhusus warga Muhammadiyah, momen ini seringkali membawa pertanyaan berulang dari tahun ke tahun: Bagaimana sebaiknya kita menyikapi perayaan agama lain, seperti Natal?</p><p>Pertama, mari kita ingat bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Di sini, toleransi dan rasa menghargai perbedaan bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang harus kita lakukan setiap hari, termasuk dalam menyikapi perayaan keagamaan lain.</p><h3><strong>Keputusan Tarjih Muhammadiyah</strong></h3><p>Menurut keputusan tarjih <a href="https://tarjih.mediamu.com/pandangan-salat-sunnah-tahajjud-bagi-muhammadiyah">Muhammadiyah</a>, sebagai umat Islam, kita diingatkan untuk menghormati kepercayaan dan perayaan agama lain. Ini berarti, saat Natal tiba, kita tidak perlu merasa terganggu atau memandangnya dengan sikap negatif. Justru, ini adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi dan menghormati mereka yang merayakannya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/12/116587f7a58ccbc.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="106389" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 24 Dec 2023 09:21:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Menyikapi Natal Sesuai Tuntunan Tarjih</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Muhammadiyah menyikapi tentang bid&amp;apos;ah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-menyikapi-tentang-bidah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/muhammadiyah-menyikapi-tentang-bidah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Muhammadiyah menyikapi tentang bid'ah ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>MEDIAMU.COM - Muhammadiyah menyikapi tentang bid'ah</p><p></p><h2>Memaknai kedudukan bidah</h2><p>Informasi tentang keberadaan bidah di dalam masyarakat Indonesia ini selalu menjadi hal yang fenomena di dalam kehidupan bermasyarakat tentunya Muhammadiyah hadir dan memposisikan diri sebagai organisasi pembaharu tentang keidentikan sebuah budaya dan adat di suatu tempat.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/12/1176576cc65078af.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="8071" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 11 Dec 2023 08:47:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        bidah,
                                                                                                                                                                tanggapan muhammadiyah tentang bidah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Doa Tahiyat Akhir yang Dianjurkan Muhammadiyah dalam Salat</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/doa-yang-diamalkan-muhammadiyah-dalam-salat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/doa-yang-diamalkan-muhammadiyah-dalam-salat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ MEDIAMU.COM - Salah satu rukun fi&rsquo;liyah dalam shalat adalah duduk terakhir yang dinamakan juga duduk tahiyat akhir. Di dalam duduk ini mushalli (orang yang shalat) harus membaca tasyahud, shalawat, dan salam.&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>MEDIAMU.COM</strong> - Salah satu rukun fi&rsquo;liyah dalam shalat adalah duduk terakhir yang dinamakan juga duduk tahiyat akhir. Di dalam duduk ini mushalli (orang yang shalat) harus membaca tasyahud, shalawat, dan salam.&nbsp;</p>
<p>Ketiganya terangkum dalam satu bacaan yang dikenal oleh sebagian orang dengan istilah bacaan tahiyat, karena dimulai dengan kalimat at-tahiyatul lillah hingga innaka hamidun majid. Setelah bacaan tahiyat itu selesai, sebaiknya dilengkapi dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Doa ini dianjurkan oleh Muhammadiyah di dalam bacaan sholat. Diamalkan ketika sholat di tahiyat akhir sholat. Berikut bacaan tahiyat akhir Muhammadiyah utuhnya.</p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/11/117655488983f0e1.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="22393" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 15 Nov 2023 09:00:38 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        doa muhammadiyah,
                                                                                                                                                                amalan doa,
                                                                                                                                                                salat,
                                                                                                                                                                tahiyyat,
                                                                                                                                                                tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Fatwa Muhammadiyah Tentang Rokok</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-muhammadiyah-tentang-rokok</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/fatwa-muhammadiyah-tentang-rokok</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majlis Tarjih dan Tajdid, mengeluarkan fatwa baru terhadap hukum merokok. Setelah menelaah manfaat dan mudarat rokok, Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah berkesimpulan bahwa merokok secara syariah Islam masuk dalam kategori haram. Keputusan ini diambil dalam halaqoh tentang Pengendalian Dampak Tembakau yang diselenggarakan Majlis Tarjih dan Tajdid pada 7 Maret lalu di Yogyakarta. &rdquo;Fatwa ini diambil setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak tentang bahaya rokok bagi kesehatan dan ekonomi. Di samping itu, kami juga melakukan tinjauan hukum merokok. Berdasarkan masukan dari halaqoh itu, kemudian dirapatkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid dan mengeluarkan amar keputusan bahwa merokok adalah haram hukumnya,&rdquo; kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Dr Yunahar Ilyas dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (9/3/2010). Fatwa baru ini sekaligus merevisi fatwa sebelumnya yang menyatakan bahwa hukum rokok mubah. &rdquo;Fatwa bahwa merokok mubah selama ini terjadi karena berbagai dampak negatif merokok bagi kesehatan, sosial, dan ekonomi, semakin dirasakan oleh masyarakat,&rdquo; ungkap Yunahar. Fatwa bahwa merokok mubah masih dipertahankan oleh PP Muhammadiyah hingga 2007. Artinya, boleh dikerjakan, tetapi lebih baik jika ditinggalkan. Perubahan fatwa menjadi haram dinilai sebagai keputusan yang akan membawa manfaat. Mengingat, banyaknya efek negatif akibat terpapar asap rokok.
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majlis Tarjih dan Tajdid, mengeluarkan fatwa baru terhadap hukum merokok. Setelah menelaah manfaat dan mudarat rokok, Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah berkesimpulan bahwa merokok secara syariah Islam masuk dalam kategori haram. Keputusan ini diambil dalam halaqoh tentang Pengendalian Dampak Tembakau yang diselenggarakan Majlis Tarjih dan Tajdid pada 7 Maret lalu di Yogyakarta. &rdquo;Fatwa ini diambil setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak tentang bahaya rokok bagi kesehatan dan ekonomi. Di samping itu, kami juga melakukan tinjauan hukum merokok. Berdasarkan masukan dari halaqoh itu, kemudian dirapatkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid dan mengeluarkan amar keputusan bahwa merokok adalah haram hukumnya,&rdquo; kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Dr Yunahar Ilyas dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (9/3/2010). Fatwa baru ini sekaligus merevisi fatwa sebelumnya yang menyatakan bahwa hukum rokok mubah. &rdquo;Fatwa bahwa merokok mubah selama ini terjadi karena berbagai dampak negatif merokok bagi kesehatan, sosial, dan ekonomi, semakin dirasakan oleh masyarakat,&rdquo; ungkap Yunahar. Fatwa bahwa merokok mubah masih dipertahankan oleh PP Muhammadiyah hingga 2007. Artinya, boleh dikerjakan, tetapi lebih baik jika ditinggalkan. Perubahan fatwa menjadi haram dinilai sebagai keputusan yang akan membawa manfaat. Mengingat, banyaknya efek negatif akibat terpapar asap rokok.</p>
<p></p>
<p>Melalui fatwa ini, Yunahar mengatakan, PP Muhammadiyah ingin mengingatkan seluruh lapisan masyarakat akan bahaya mengisap lintingan tembakau ini. &rdquo;Karena dampak negatifnya, maka pembelanjaan uang untuk merokok adalah perbuatan mubazir,&rdquo; ujarnya.</p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/11/11765497c16b1d2a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="8129" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 06 Nov 2023 23:52:04 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Tiga Nilai Dasar Yang Jadi Landasan Fikih Difabel Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/landasan-nilai-fikih-difabel-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/landasan-nilai-fikih-difabel-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Fikih Difabel Muhammadiyah merupakan respon terhadap persoalan sosial-keagamaan yang dalam pelaksanaannya tidak selalu dilihat dari segi hukum taklifi (halal-haram). Istilah &lsquo;fikih&rsquo; dalam Muhammadiyah dikembalikan ke makna aslinya, yaitu totalitas pemahaman terhadap ajaran Islam yang tersusun dari norma berjenjang.
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Fikih Difabel Muhammadiyah merupakan respon terhadap persoalan sosial-keagamaan yang dalam pelaksanaannya tidak selalu dilihat dari segi hukum taklifi (halal-haram). Istilah &lsquo;fikih&rsquo; dalam Muhammadiyah dikembalikan ke makna aslinya, yaitu totalitas pemahaman terhadap ajaran Islam yang tersusun dari norma berjenjang.</p>
<p></p>
<p>Dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (30/12), Ali Yusuf menerangkan bahwa gagasan Fikih Difabel yang disusun Majelis Tarjih pun dibangun dengan mengikuti struktur norma berjenjang tersebut. Terdapat tiga nilai-nilai dasar dalam Fikih Difabel, yaitu: Tauhid, keadilan, dan kemaslahatan. &nbsp;Nilai-nilai dasar ini diambil dari nilai universalitas Islam yang diserap langsung dari semangat al-Quran dan as-sunnah. Tingkatan pertama ini bersifat norma-norma abstrak yang merupakan nilai paling esensial dalam ajaran Islam.</p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/11/1176546c96c56fa8.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="48438" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 04 Nov 2023 22:45:14 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        muhammadiyah,
                                                                                                                                                                fikih difabel,
                                                                                                                                                                nilai dasar,
                                                                                                                                                                ketauhidan,
                                                                                                                                                                kemaslahatan,
                                                                                                                                                                keadilan                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Tidak Puasa karena Haid dan Nifas</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/tidak-puasa-karena-haid-dan-nifas</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/tidak-puasa-karena-haid-dan-nifas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimana hukumnya puasa Ramadhan yang tertinggal ka datang haid, sedang antara dua Ramadhan berikutnya tidak dapat du akibat hamil, melahirkan dan menyusukan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimana hukumnya puasa Ramadhan yang tertinggal ka datang haid, sedang antara dua Ramadhan berikutnya tidak dapat du akibat hamil, melahirkan dan menyusukan. Dan bagaimana hukumnya p Ramadhan yang tertinggal akibat melahirkan (nifas dan menyusukan). Dapa nifas disamakan hukumnya dengan menyusukan, karena sedang bemifas j menyusukan?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Orang yang tertinggal (tidak) melakukan puasa di bula Ramadhan karena sakit atau bepergian, diwajibkan untuk menggantinya. A melakukan puasa ganti di waktu yang lain, di luar bulan Ramadhan, ses dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 184. Orang yang sedang haid tidak boleh shalat dan juga tidak boleh berpuasa, dan puasanya hara diganti pula di hari yang lain, sebagaimana disebutkan dalam Hadis bikmil marfa. Kata 'Aisyah: mauqu</span></p><p style="text-align: right;"><b>كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ أَي الْحَيْضُ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ ( رواه مسلم)</b></p><p><span style="font-weight: 400;">Artinya" "Kami kadang-kadang mengalami itu (haid), maka kita diperintahkan untuk menjalankan puasa&rdquo;</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653d35f5ec601.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="37279" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 28 Oct 2023 16:26:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Tidak Puasa karena Haid dan Nifas</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menyoal Wanita Ahli Tafsir</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-59-wanita-ahli-tafsir</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-59-wanita-ahli-tafsir</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Sepanjang yang saya ketahui belum ada seorang pun wanita yang yang menulis Kitab Tafsir Al-Quran, padahal sudah cukup banyak kaum wanita yang berhasil meraih gelar kesarjanaan dalam ilmu Agama. Apakah hal demikian tidak dibenarkan dalam ajaran Agama?&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Sepanjang yang saya ketahui belum ada seorang pun wanita yang yang menulis Kitab Tafsir Al-Quran, padahal sudah cukup banyak kaum wanita yang berhasil meraih gelar kesarjanaan dalam ilmu Agama. Apakah hal demikian tidak dibenarkan dalam ajaran Agama?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Tidak ada larangan dalam Agama Islam seorang wanita untuk berilmu menyamai pria. Mencari ilmu menjadi kewajiban bagi setiap Muslim baik bagi Muslim pria maupun wanita, demikian dalam beramal dan berkarya (surat An Nahl ayat 97). Mencari ilmu dan mengamalkan serta mengembangkan ilmunya termasuk amal saleh yang tidak berbeda hak dan kewajibannya antara Muslim dengan Muslimah. Memang kalau kita lihat kenyataannya dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin wanita belum banyak yang menonjol dalam bidang Tafsir dan Hadis sebagaimana yang Anda kemukakan, sekalipun di zaman Nabi tidak ada larangan untuk itu, bahkan banyak sahabat wanita yang tergolong mampu untuk menjadi pakar ilmu, khususnya ilmu As Sunnah.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Banyak riwayat Hadis yang disampaikan oleh isteri Nabi, khususnya Aisyah. Aisyah adalah putra Abu Bakar, beliau sebagai isteri Nabi, banyak meriwayatkan Hadis, sekitar 2210 Hadis yang diriwayatkan. 174 yang disepakati Bukhari dan Muslim, sedang Bukhari sendiri meriwayatkan 64 Hadis yang berasal darinya dan Imam Muslim 63 Hadis. Beliau termasuk orang ke empar yang banyak meriwayatkan Hadis. Adapun wanita-wanita lain yang meriwayatkan Hadis seperti Ummu Salamah, Ummu Habibah, Tamimah binti Salamah, Hujirah binti Husain dan Fatimah. Mereka juga termasuk perawi shahabiy yang meriwayatkan Hadis, hanya tidak semasyhur dan sebanyak yang dilakukan oleh Aisyah. Aisyah bukan saja ahli Hadis, tetapi juga ahli fiqih.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653d3597152ce.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="38461" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 28 Oct 2023 16:24:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        wanita ahli tafsir,
                                                                                                                                                                tanya jawab agama,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Sholat Sambil Membawa Mushaf </title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-sholat-sambil-membawa-mushaf</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-sholat-sambil-membawa-mushaf</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimanakah hukumnya sholat dengan membawa Mushaf dan adakah dalil yang menjelaskan terkait hal tersebut? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah hukumnya sholat dengan membawa Mushaf dan adakah dalil yang menjelaskan terkait hal tersebut?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Membaca Al-Quran dalam shalat, baik wajib maupun sunnah, ketika tidak mempunyai atau belum&nbsp; hafal surat yang diinginkan, merupakan suatu hal yang menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama melarang&nbsp; membaca Alquran sambil memakai mushaf saat shalat. Mereka menilai tindakan tersebut dapat mengganggu konsentrasi dan ketaqwaan dalam shalat. Ketenangan dan kerendahan hati sangat penting di hadapan Allah SWT. Beliau sendiri menganjurkan dalam Al-Quran untuk menjaga khusyuk dalam shalat (QS. al-Mu'minun [23]: 1-3). Pendapat kedua menentang tindakan membaca Al-Quran sambil membawa salinannya. Alasan yang mereka kemukakan adalah adanya kekhawatiran mengenai tasyabbuh (kesamaan) dengan orang-orang yang ada di kitab tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa umat Islam meniru aktivitas non-Muslim.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ketiga, mayoritas ulama membolehkan membaca al-Qur'an sambil membawa mushaf dalam salat. Mereka merujuk pada hadis Nabi yang menceritakan bahwa Aisyah r.a pernah diimami oleh seseorang yang membaca dari mushaf. Ini menunjukkan bahwa praktik ini tidak dilarang dalam Islam.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653be8f0f03e8.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="8674" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 27 Oct 2023 16:45:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hukum Sholat Sambil Membawa Mushaf </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Tukar Cincin Saat Lamaran</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-tukar-cincin-saat-lamaran</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-tukar-cincin-saat-lamaran</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pada zaman sekarang, sebelum perkawinan ada suatu adat kebiasaan yang dilakukan yaitu &quot;tukar cincin&quot; sebagai tanda pengikat, atau sering pula disebut dengan bertunangan, bagaimanakah persoalan terkait itu?  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Pada zaman sekarang, sebelum perkawinan ada suatu adat kebiasaan yang dilakukan yaitu "tukar cincin" sebagai tanda pengikat, atau sering pula disebut dengan bertunangan, bagaimanakah persoalan terkait itu?&nbsp;</span></p><ol><li><span style="font-weight: 400;"> Bagaimana hukumnya kalau hal itu dijadikan sebagai pengikat?&nbsp;</span></li><li><span style="font-weight: 400;"> Halalkah seorang gadis dibawa kemana saja?</span></li><li><span style="font-weight: 400;"> Kalau hal itu melanggar mana dalilnya?</span></li><li><span style="font-weight: 400;"> Bagaimana sejarah tukar cincin itu asal mulanya?&nbsp;</span></li><li><span style="font-weight: 400;"> Dari mana asalnya dan siapa yang membawa kebudayaan itu ke Indonesia?</span></li><li><span style="font-weight: 400;"> Apakah pada zaman Nabi Muhammad, sudah ada kebiasaan tukar cincin itu? (Pembaca "SM").</span></li></ol><p><span style="font-weight: 400;">Answer:</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Sekarang seringkali kita jumpai proses pertukaran cincin atau disebut lamaran antara laki-laki dan perempuan sebelum ada nya pernikahan yang diperuntukan untuk mengikat dua orang yang ingin menikah sebagai lambing keseriusan. Tukar cincin itu sepengetahuan kami asal mulanya dari orang Barat terutama dibawa oleh orang Belanda yang pernah menjajah kita ratusan tahun.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165364334c79a7.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="9512" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 23 Oct 2023 09:56:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hukum Tukar Cincin Saat Lamaran</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Menikah Beda Agama</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menikah-beda-agama</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-menikah-beda-agama</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  Bagaimana Hukum Menikah Beda Agama? 
Answer: Dunia yang semakin terbuka memungkinkan kita sebagai manusia untuk saling berinteraksi, bahkan jatuh cinta dan menikah. Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dan diatur dalam semua keyakinan dan agama, termasuk Islam. Ajarkan bahwa lebih baik menikah dengan orang yang baru masuk Islam karena akan melindungi diri sendiri dan keutuhan keluarga kelak.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimana Hukum Menikah Beda Agama?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Dunia yang semakin terbuka memungkinkan kita sebagai manusia untuk saling berinteraksi, bahkan jatuh cinta dan menikah. Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dan diatur dalam semua keyakinan dan agama, termasuk Islam. Ajarkan bahwa lebih baik menikah dengan orang yang baru masuk Islam karena akan melindungi diri sendiri dan keutuhan keluarga kelak. Namun kenyataannya saat ini banyak umat Islam yang menjalin hubungan romantis dengan non-Muslim, lalu apa yang diatur dalam undang-undang?? Lalu bagaimanakah Hukum nikah beda agama menurut syariat Islam sudah berkali-kali kami jelaskan dalam Tanya Jawab agama ini, bahkan menjadi keputusan Kongres Tarjih ke-22 tahun 1989 di Malang, Jawa Timur. Hal ini terjadi karena para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah haram menikah dengan selain laki-laki muslim. Ulama juga sepakat bahwa laki-laki muslim haram menikah dengan wanita musyrikah (seperti Budha, Hindu, Konghuchu dan lainnya). Dalilnya Firman Allah:&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Dan janganlah kamu menikah dengan wanita musyrik hingga mereka beriman. Dan budak yang beriman lebih baik dari pada wanita musyrik, meskipun kamu menyukainya. Dan janganlah kamu menikah dengan orang musyrik hingga mereka beriman. Dan seorang hamba yang beriman lebih baik dari pada seorang musyrik, meskipun dia mencintaimu. Hal-hal ini disebut ke neraka. Dan Tuhan menyebut Surga dan Neraka. berlimpah dengan izin-Nya, dan Dia menjadikan ayat-ayat-Nya dapat dipahami oleh seluruh manusia. Mungkin mereka akan mengingat (Al-Baqarah: 221)&nbsp;</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653be88982397.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="20204" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 27 Oct 2023 16:43:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hukum Menikah Beda Agama</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Sholat Menggunakan Jubah dan Sorban</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/sholat-menggunakan-jubah-dan-sorban</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/sholat-menggunakan-jubah-dan-sorban</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Di antara ulama di tempat kami, ada yang mempunyai pendapat Shalat hawa shalat dengan menggunakan jubah dan sorban, lebih utama daripada pakaian biasa. Juga pakaian jubah dan sorban sebagai tanda ittiba&#039; (mengikuti) Nah Mohon penjelasan beserta dalilnya!
Answer: Kalau yang dimaksud utama dari pandangan keindahan atau Leserasian menurut pandangan yang bersangkutan, mungkin ada benarnya kalau dibanding dengan orang yang melakukan shalat dengan pakaian yang kurang pantas, menurut pandang ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Di antara ulama di tempat kami, ada yang mempunyai pendapat Shalat hawa shalat dengan menggunakan jubah dan sorban, lebih utama daripada pakaian biasa. Juga pakaian jubah dan sorban sebagai tanda ittiba' (mengikuti) Nah Mohon penjelasan beserta dalilnya!</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Kalau yang dimaksud utama dari pandangan keindahan atau Leserasian menurut pandangan yang bersangkutan, mungkin ada benarnya kalau dibanding dengan orang yang melakukan shalat dengan pakaian yang kurang pantas, menurut pandangan mata, seperti misalnya memakai baju kaos oblong saja, sedang dalam ayat 31 Surat Al A'raaf disebutkan:</span></p><p style="text-align: right;"><b>يبني أَدَمَ خُذُوازِينَتَكُمْ عِنْدَ كُل مَسْجِدٍ</b></p><p><span style="font-weight: 400;">Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki)</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116539d6a2077bf.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17723" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 26 Oct 2023 03:02:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Sholat Menggunakan Jubah dan Sorban</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Pakaian Rasulullah saw Sewaktu Mengerjakan Shalat</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/pakaian-rasulullah-saw-sewaktu-mengerjakan-shalat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/pakaian-rasulullah-saw-sewaktu-mengerjakan-shalat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Mohon keterangan pakaian Rasulullah saw., sewaktu mengerjakan shalat. (Susilo Tomo, SMA Muhammadiyah Pagar Alam, Sum-Sel). 
Answer: Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, karena Rasulullah sebagai utusan untuk memberi penjelasan tentang pelaksanaan yang disebutkan dalam Al-Quran, tentu Rasulullah melaksanakan yang tersebut dalam Al-Quran surat Al A&#039;raaf ayat 31 sebagai berikut: ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Mohon keterangan pakaian Rasulullah saw., sewaktu mengerjakan shalat. (Susilo Tomo, SMA Muhammadiyah Pagar Alam, Sum-Sel).&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, karena Rasulullah sebagai utusan untuk memberi penjelasan tentang pelaksanaan yang disebutkan dalam Al-Quran, tentu Rasulullah melaksanakan yang tersebut dalam Al-Quran surat Al A'raaf ayat 31 sebagai berikut:</span></p><p style="text-align: right;"><b>يبَنِي أَدَمَ خُذُوازِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ</b></p><p><span style="font-weight: 400;">Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116539d5f04bbfd.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="15587" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 26 Oct 2023 02:59:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Pakaian Rasulullah saw Sewaktu Mengerjakan Shalat</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hijab Menyerupai Punuk Unta</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hijab-menyerupai-punuk-unta</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hijab-menyerupai-punuk-unta</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimanakah hukum nya hijab yang menyerupai punuk unta? Apakah diperbolehkan didalam islam? Dan apakah hal yang mengatur nya?  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah hukum nya hijab yang menyerupai punuk unta? Apakah diperbolehkan didalam islam? Dan apakah hal yang mengatur nya?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: seiring berjalan nya waktu kita sampai pada era kemajuan teknologi dimana hal tersebut juga mmpengaruhi dunia fasion, yang mana Busana muslim wanita karya Quraish Shihab, hijab bukan hanya sekedar menutupi kepala atau rambut saja. Tetapi juga sebagai salah satu aksesoris dan keindahan si pemakai nya. Namun hijab menutupi segala sesuatu yang menutupi aurat (dari ujung kepala hingga ujung kaki). Muslimah juga memakai berbagai hiasan seperti bros, payet bahkan jilbab yang menyerupai punuk unta. Desain hijab punuk unta mengacu pada wanita berhijab namun memiliki tonjolan di bagian belakang kepala. Tonjolan tersebut muncul karena rambut dikeriting atau diganti dengan sesuatu sehingga menghasilkan bentuk bulat yang menonjol. Bagaimana Islam memandang model hijab seperti ini?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Hukum jilbab punuk unta merujuk pada sebuah hadits riwayat Muslim yang memunculkan beberapa pendapat para ulama.</span></p><p style="text-align: right;"><b>صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا-رواه مسلم</b></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116539205a92f7f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="19618" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 25 Oct 2023 14:05:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hijab Menyerupai Punuk Unta</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Adakah Dalil Yang Menerangkan Terkait Tahlilan?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/adakah-dalil-yang-menerangkan-terkait-tahlilan</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/adakah-dalil-yang-menerangkan-terkait-tahlilan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimana landasan hukum tahlilan untuk mitoni (yakni tujuh bulan setelah isteri mengandung), 3 hari, 7 hari, dan 40 hari sesudah keluarga meninggal dunia? Mohon penjelasannya dan dalil hadisnya! ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimana landasan hukum tahlilan untuk mitoni (yakni tujuh bulan setelah isteri mengandung), 3 hari, 7 hari, dan 40 hari sesudah keluarga meninggal dunia? Mohon penjelasannya dan dalil hadisnya!</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Dasar Hadis yang menyuruh atau memberi tuntunan tasyakkur dengan tahlilan pada waktu seseorang mempunyai anak dalam kandungan telah tujuh bulan atau melakukan tahlilan setelah 3 hari, 7 hari, 40 hari seseorang meninggal dunia tidak dijumpai oleh Muhammadiyah, sehingga Muhammadiyah tidak mengamalkan hal itu. Yang dijumpai kalau kita telaah Hadis tentang dasar pengamalan Agama, ialah Hadis riwayat Muslim dan Ahmad dari Aisyah ra. yang berbunyi:</span></p><p style="text-align: right;"><b>مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَةٌ ( رواه أحمد وسلم عن عائشة&nbsp;</b></p><p><i><span style="font-weight: 400;">Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan saatu perbuatan (Agama) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak" (HR. Ahmad dan Muslim dari Aisyah).</span></i></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165337fd6203ae.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="56021" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 21 Oct 2023 07:38:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Adakah Dalil Yang Menerangkan Terkait Tahlilan</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Shalat Sunat Sebelum Maghrib</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/shalat-sunat-sebelum-maghrib</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/shalat-sunat-sebelum-maghrib</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pernah terjadi di kampung saya perbedaan pendapat mengenai dar sunat sebelum maghrib. Ada yang berpendapat ada tuntunannya dan ada yang berpendapat tidak ada. Kemudian dipanggillah guru dan olehnya dangkan bahwa dalam kitab &quot;Subulussalam&quot; ada perkataan yang ditinggalkan, LIMAN KARAHIYAH. Menurut penjelasannya, maksudnya makruh. Mahon penjelasan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Tanya: Pernah terjadi di kampung saya perbedaan pendapat mengenai dar sunat sebelum maghrib. Ada yang berpendapat ada tuntunannya dan ada yang berpendapat tidak ada. Kemudian dipanggillah guru dan olehnya dangkan bahwa dalam kitab "Subulussalam" ada perkataan yang ditinggalkan, LIMAN KARAHIYAH. Menurut penjelasannya, maksudnya makruh. Mahon penjelasan. (Slamet Rasyidi, PDM Kab. Musi Rawas).</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Jawab: Shalat sunat sebelum Maghrib, maksudnya shalat sunat dua kat sebelum melakukan shalat Maghrib adalah termasuk yang dibolehkan. Anya boleh dilakukan, hanya saja tidak terus menerus dilakukan, maksudnya sekali dapat dilakukan atau sesekali dapat ditinggalkan. Dasar kebolehan melakukan shalat sunat sebelum shalat Maghrib itu adalah hadis riwayat Muslim dari Mukhtar bin Fulful dari Anas ra.</span></p><p style="text-align: right;"><b>كُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِرِ فَلَ صَلَاةِ المغرب فَقُلْتُ لَهُ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاهُمَا قَالَ كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرُنَا وَلَمْ يَغْنَا&nbsp; رواه مسلم</b></p><p><i><span style="font-weight: 400;">Artinya: (Kata Anas): Kami (para sahabat) mengerjakan shalat dimasa Nabi da rakast sesudah terbenam matahari sebelum melakukan shalat Maghrib maka aku Makkar bin Falful bertanya kepadanya (Anas), apakah Nabi melakukannya? Anas berkata "Nabi dikala itu melihat kami, tetapi tidak melarang dan tidak pula menyuruhnya&rdquo;</span></i></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116537d345c5630.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="6345" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 24 Oct 2023 14:23:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Shalat Sunat Sebelum Maghrib</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Kapan Sebenarnya Al&amp;Qur’an Turun?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-44-kapan-turun-nya-al-quran</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-44-kapan-turun-nya-al-quran</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah benar turunnya Al-Quran itu pada waktu turunny Lailatul Qadr? Mohon penjelasan disertai ayat-ayat Al-Quran dan Hadis hadisnya? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah benar turunnya Al-Quran itu pada waktu turunny Lailatul Qadr? Mohon penjelasan disertai ayat-ayat Al-Quran dan Hadis hadisnya?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Terdapat pada empat tempat, dijelaskan tentang turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw yakni pada:&nbsp;</span></p><ol><li><i><span style="font-weight: 400;"> Pada surat Al Qadr ayat 1, yang artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunka (Al Quran) pada malam kemulyaan".</span></i></li><li><i><span style="font-weight: 400;"> Pada surat Ad Dukhan, ayat 3 sampai 5, yang artinya: "Kami menurunkan (A Quran) pada malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yait yang memben urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus Ras rasul".</span></i></li><li><i><span style="font-weight: 400;"> Pada surat Al Baqarah ayat 185, yang artinya: "Bulan Ramadhan, bulan yan didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusi dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yan batal").</span></i></li><li><i><span style="font-weight: 400;"> Pada akhir ayat 41 Surat Al Anfaal, yang artinya: 44 kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan (Al-Quran) kepada ham jika kamu percay kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu bari bertemunya dua pasukan. Da Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".</span></i></li></ol><p><span style="font-weight: 400;">Dari ayat-ayat di atas, dapat difahami bahwa Allah menurunkan Al- Quran pertama kali kepada Nabi Muhammad saw. pada malam yang mulia yang disebut "Lailatul Qadr", yang berdasarkan penelitian yang seksama, waktu itu adalah malam tanggal 17 bulan Ramadhan, yang selanjutnya ayat-ayat Al- Quran diturunkan secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam waktu duapuluh dua tahun lebih sedikit, tidak pada setiap bulan Ramadhan saja.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116532294645790.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="55532" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 20 Oct 2023 07:17:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        nuzulul quran,
                                                                                                                                                                turun nya al-quran,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Sujud Sahwi dan Caranya</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/sujud-sahwi-dan-caranya</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/sujud-sahwi-dan-caranya</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimanakah cara melaksanakan sujud sawi. Apakah sesudah salam atau sebelum salam? Mohon penjelasannya.. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah cara melaksanakan sujud sawi. Apakah sesudah salam atau sebelum salam? Mohon penjelasannya..</span></p><p><span style="font-weight: 400;">&nbsp;Answer: Masalah sujud sahwi ini belum diputuskan oleh Muktamar Tarjih, sehingga pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing sesua dengan pemahamannya terhadap dalil-dalil yang telah ditemukannya, karena dalam Muhammadiyah prinsip melakukan ibadah berdasarkan dalil Al-Quran dan As Sunnah. Kalau dalam memahami dalil-dalil ada berbeda menimbulkan pengamalan yang berbeda, Muktamar Tarjihlah yang merumuskan kaifiyah atau cara-cara yang perlu ditempuh sesuai dengan kemaslahatan. Sampai sekarang pengamalan sujud sahwi belum dirumuskan caranya. Yang Di kalangan ulama Syafi'iyyah, sujud sahwi dilakukan sebelum salam, sedang menurut ulama Hanafiyah sesudah salam. Ulama Malikiyah membedakan antara kekurangan dan kelebihan, kalau kekurangan seperti shalat empat rakaat tetapi hanya dilakukan tiga, maka yang bersangkutan melakukan sujud sahwi sebelum salam, setelah menggenapi satu rakaat lagi menjadi empat rakaat, sedang kalau kelebihan seperti kalau shalat maghrib lupa empat rakaat, maka dilakukan sujud sahwi setelah salam.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Perbedaan pendapat dalam melaksanakan sujud sahwi rupanya telah ada sejak zaman sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Sa'ad bin Abi Waqash, Abu Hurairah dan beberapa sahabat lagi melakukan sujud sahwi sesudah salam, sedang Abi Sa'id Al-Khudry dan beberapa fuqaha Tami'in melakukan sujud sahwi sebelum salam. Dari pengamatan Tim, sujud karena lupa atau yang disebut sujud baik ditimbulkan kekurangan maupun kelebihan bahkan juga keraguan dalam Nabi, bila pada kelebihan atau kekurangan dilakukan sujud itu sesudah salam, sedang kalau terjadi keraguan sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca Hadis-hadis berikut. Dasar melakukan sujud sahwi karena masyru'. Dalam pengamalan kelebihan atau melakukan shalat memang ada dasarnya atau</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116537d26598529.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="9941" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 24 Oct 2023 14:19:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Sujud Sahwi dan Caranya</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 37: Hukum Nadzar Yang Belum Sempurna</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-37-hukum-nadzar-yang-belum-sempurna</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-37-hukum-nadzar-yang-belum-sempurna</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah hukum nazar yang belum dapat ditepati tetapi sang penajam telah meninggal dunia apakah nazar tersebut harus segera ditepati?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah hukum nazar yang belum dapat ditepati tetapi sang penajam telah meninggal dunia apakah nazar tersebut harus segera ditepati?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Seseorang yang telah bernazar dan nazarnya telah terlaksana maka wajib melaksanakan apa yang telah dinazarkannya tersebut, dan kalau nazarnya termasuk yang diizinkan. Tetapi jika nazar nya tersebut bukan termasuk yang diizinkan atau perbuatan yang dilarang maka nazar tersebut harus tidak dilaksanakan. hal tersebut dijelaskan pada surah al-baqarah ayat 270 yang berbunyi:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">&ldquo;apa saja yang kamu nafkahkan atau apa yang kamu nazarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan bagi orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolong pun baginya&rdquo;</span></i></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652c13853ec9e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="28190" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 15 Oct 2023 16:30:31 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        nadzar,
                                                                                                                                                                nadzar yang belum sempurna,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bacaan Amin Dalam Doa</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/bacaan-amin-dalam-doa</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/bacaan-amin-dalam-doa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bagaimana cara meng-amini doa. Maksudnya saya membaca &quot;AAMIN&quot; dikala kita dengar orang berdoa. Apakah membaca AAMIN kalau kita mendengar orang mendoa hukumnya wajib, baik mendoa dalam shalatmaupun di luar shalat?  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimana cara meng-amini doa. Maksudnya saya membaca "AAMIN" dikala kita dengar orang berdoa. Apakah membaca AAMIN kalau kita mendengar orang mendoa hukumnya wajib, baik mendoa dalam shalatmaupun di luar shalat?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Tidak kita dapati dasar secara langsung, bahwa kita wajib membaca "AAMIN" dikala kita mendengar orang berdoa, sebagaimana kewajiban kita menjawab salam kalau kita mendengar ucapan salam. Ucapan AAMIN dengan bacaan memanjangkan hamzah muftuhah dan mim maksurah yang bunyinya menjadi AAMIN berdasar Hadis, dalam riwayat Al Bukhari.</span></p><p style="text-align: right;"><b>كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ قَالَ: آمِينَ يَجْهَرُ وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ (رواه البخاري )</b></p><p><i><span style="font-weight: 400;">Artinya: Rasululah saw, apabila telah selesai membaca Fatihah, membaca "AAMIN" dengan terang dan panjang suaranya. (HR. Al Bukhari dan Abu Dawud).</span></i></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653643994c90f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="15774" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 23 Oct 2023 10:00:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Bacaan Amin Dalam Doa</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 33: Gadhul Bashar</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-33-gadhul-bashar</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-33-gadhul-bashar</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Queston: apakah itu gadhul bashar, siapakah yang diperintahkan untuk gadhul bashar didalam islam dan apakah fungsi nya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Queston: apakah itu gadhul bashar, siapakah yang diperintahkan untuk gadhul bashar didalam islam dan apakah fungsi nya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: gadhul basar merupakan arahan agama yang memerintahkan kepada umatnya untuk menundukkan pandangan atau menjaga dari pada pandangan nya dari hal-hal yang di haramkan kepada mereka, hal ini telah dijelaskan didalam Al-Qur&rsquo;an yang berbunyi:</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ &nbsp;&nbsp;</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.&rdquo; (QS al-Nur [24]:30-31). Begitu juga pada firman Allah di atas perintah ini tidak hanya diperintahkan kepada kaum laki-laki tetapi juga bagi perempuan agar dapat menahan dan menjaga pandangan nya dari sesuatu yang haram baginya. Pandangan yang di haramkan misalnya memandang lawan jenis dengan tatapan menggoda, melihat sesuatu yang haram dan lain sebagainya.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165280a19b2f22.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17537" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 12 Oct 2023 15:00:53 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        gadhul bashar,
                                                                                                                                                                menundukkan pandangan,
                                                                                                                                                                memelihara pandangan,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Berzina</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-zina</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-zina</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Saya lihat dalam Hadis, bahwa hukuman zina ialah dirajam. Kalau orang itu meninggal dunia jenazahnya dishalatkan, berarti sudah diampuni dosanya. Bagaimana halnya orang yang melakukan zina tetapi belum menjalani hukuman? Apakah taubatnya dapat diterima dan dapat diampuni?  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Saya lihat dalam Hadis, bahwa hukuman zina ialah dirajam. Kalau orang itu meninggal dunia jenazahnya dishalatkan, berarti sudah diampuni dosanya. Bagaimana halnya orang yang melakukan zina tetapi belum menjalani hukuman? Apakah taubatnya dapat diterima dan dapat diampuni?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Berdasarkan ayat 2 Surat An Nur hukuman zina ialah didera 100 kali, dan berdasarkah Hadis riwayat Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzy, hukuman orang yang melakukan zina, bagi gadis dan jejaka, dijilid (didera) seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Sedang bagi tsayyib, dirajam. Adapun dosa orang yang melakukan zina, memang tergolong dosa besar seperti tersebut pada ayat 32 Surat Isra: INNAHU KAANA FAKHISYATAN WASAA-A-SABILA, yang artinya "Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keci dan suatu jalan yang buruk.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Mengenai orang yang berbuat zina dan belum menjalani hukuman, dapat saja diterima taubatnya, asal saja sungguh-sungguh bertaubat. Pertama, berbuat zina bukan perbuatan yang tidak dapat diampuni dosanya sebagaimana dosa Syirik. Kedua, Allah selalu bersedia mengampuni dosa hamba-Nya yang mau bertaubat. Yang penting benar-benar melakukan taubatnya itu. Islam agama yang tidak menghalangi orang bertaubat, tetapi juga tidak mempermudah taubat, dengan misalnya berbuat dosa besar, kemudian datang kepada seorang yang tergolong Ulama, kemudian dosanya terampuni. Tidaklah demikian!</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165337f57e157d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="10715" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 21 Oct 2023 07:36:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hukum Berzina</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 31: Hukum Memakan Darah Sapi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-31-hukum-memakan-darah-sapi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-31-hukum-memakan-darah-sapi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: banyak beredar menu makanan darah yang dimasak, yakni darah yang dibekukan dan dikukus. Lalu bagaimanakah hukum nya memakan darah sapi tersebut?&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: banyak beredar menu makanan darah yang dimasak, yakni darah yang dibekukan dan dikukus. Lalu bagaimanakah hukum nya memakan darah sapi tersebut?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: banyak beredar tentang darah yang dimasak sebagai pelengkap makanan dalam masakan sedangkan kita mengetahui bahwa Islam melarang kita untuk memakan darah seperti yang dijelaskan didalam Al-Qur&rsquo;an surat Al-Maidah ayar 3 yang berbunyi :</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ&nbsp;</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: &ldquo;Diharamkan bagimu (memakan) bangkai dan darah&hellip;&rdquo; (Al-Maidah ayat 3).</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165269012b36c6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="9895" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 11 Oct 2023 12:08:07 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hukum memakan darah,
                                                                                                                                                                darah sapi,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Semir Rambut, Ganti Gigi, dan Lain&amp;lain</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/hukum-semir-rambut-ganti-gigi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/hukum-semir-rambut-ganti-gigi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Bagaimanakah hukumnya &quot;protes&quot; kepada Allah, misalnya dengan menggunakan alat rambut dibuat kriting, alis dibentuk dengan pensil m gigi yang rusak diganti dengan gigi palsu? Bolehkah yang demikian itu? Mohon per penjelasan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah hukumnya "protes" kepada Allah, misalnya dengan menggunakan alat rambut dibuat kriting, alis dibentuk dengan pensil m gigi yang rusak diganti dengan gigi palsu? Bolehkah yang demikian itu? Mohon per penjelasan.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Kalau dengan bahasa dan sikap, protes apapun yang dilakukan Mu seseorang hamba Allah tidak dibolehkan. Dengan kata lain, sikap demikian QA bertentangan dengan perintah Allah agar manusia selalu taat kepada-Nya dan men manusia ridha terhadap qadha dan qadar-Nya. Sikap protes demikian bahkan dengan cara yang lain seperti puasa tidak mau makan dalam rangka protes Isla pada Allah, hal seperti itu pun tidak diizinkan dalam Islam.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Adapun pertanyaan diubah menjadi sederhana dan wajar, tentu jawabannya tidak seperti itu. Jawaban akan tergantung dari motivasi yang Per mendorongnya. Dengan kata lain tergantung niatnya, sekalipun dalam beberapa kete hal lebih baik dihindari. Sebelum kita sedikit merinci beberapa persoalan ini, terlebih dahulu perlu dimaklumi bahwa Allah memberi nikmat kepada hamba-Nya untuk disyukuri dengan menggunakan nikmat itu sesuai dengan fungsi dan gunanys di samping perlu dipelihara agar nikmat itu berdaya-guna dan berhasil-guna</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653233bd051f5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="21077" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 20 Oct 2023 08:01:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Hukum Semir Rambut, Ganti Gigi, dan Lain-lain</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 22: Nasehat Pimpinan Muhammadiyah kepada para penghafal Al&amp;Qur’an</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-22-nasehat-pimpinan-muhammadiyah-kepada-para-penghafal-al-quran</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-22-nasehat-pimpinan-muhammadiyah-kepada-para-penghafal-al-quran</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: mengapa penghafal Al-Qur&rsquo;an menjadi spesial dan apakah nasehat yang dapat memotivasi Langkah mereka?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: mengapa penghafal Al-Qur&rsquo;an menjadi spesial dan apakah nasehat yang dapat memotivasi Langkah mereka?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: pada suatu kesempatan Prof.Haedar Nashir pernah mengungkapkan bahwa Allah swt telah menjamin dan memelihara penjagaan Al-Qur&rsquo;an dengan berbagai cara yang mana telah ditegaskan didalam Al-Qur&rsquo;an pada surat Al-Hijr ayat 9 bahwa: </span><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur&rsquo;an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.&rdquo; Dengan ini jelas bahwa bagi allah yang telah menurunkan Al-Qur&rsquo;an niscaya allah juga akan menjunjung dan memeliharanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Menurut beberapa tafsir, juga dikatakan bahwa kata &ldquo;lahafidzun&rdquo; adalah murni dari kalam Allah, Yang menurunkan Al-Quran, menjaganya dari segala perbuatan siapapun, baik setan maupun manusia, yang berusaha menyakiti, memutarbalikkan, bahkan mungkin menghapusnya. Pada masa diturunkannya Al-Qur'an, Allah menjaganya dari pencurian setan, dan pada masa setelah pemadatannya, Allah melindungi Al-Qur'an dari perubahan, penambahan dan pengurangan pengucapan serta perubahan maknanya. Menurut Haedar, salah satu cara Allah menjaga Alquran adalah dengan menjadikan umatnya menghafalkannya.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165210ad418f2d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="65671" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:34:19 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        nasehan ketua pp,
                                                                                                                                                                haedar natsir,
                                                                                                                                                                penghafal al-quran                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Apakah Mengqadha/Menjamak Sholat boleh?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/mengqadha-menjamak-sholat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/mengqadha-menjamak-sholat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Manakah pernyataan yang benar, dari dua pernyataan ini: &quot;Mengqadha puasa itu boleh, sedang mengqadha shalat itu tidak boleh&quot;. &quot;Mengqadha shalat itu boleh, dengan alasan banyak kesibukan&quot;. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Manakah pernyataan yang benar, dari dua pernyataan ini: "Mengqadha puasa itu boleh, sedang mengqadha shalat itu tidak boleh". "Mengqadha shalat itu boleh, dengan alasan banyak kesibukan".</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Pernyataan yang ialah: "Mengqadha puasa itu ada dasarnya, sedang mengqadha shalat fardhu karena kesibukan itu tidak ada dasarnya yang kuat. Kalau orang tidak dapat melakukan shalat pada waktunya karena halangan syari'iy, tertidur atau lupa, maka tuntunannya ialah mengerjakan shalat itu pada waktu ia telah bangun tidur atau yang seperti dinyatakan oleh Hadis riwayat Abu Qatadah:</span></p><p style="text-align: right;"><b>ذَكَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَوْمَكُمْ عَنِ الصَّلَاةِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَرِيظُ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَاءَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَ ذَكَرَهَا رواه النسائي والترمذتي ومتحد ا</b></p><p><span style="font-weight: 400;">Artinya: (Para sahabat) memberitahukan kepada Nabi tentang tidur mereka melalaikan dari melakukan shalat (pada waktunya) maka Nabi bersabda: "Sesungguhnya tidak ada masalah lalai kalau sedang tidur, sesungguhnya lalai itu dalam keadaan jaga, maka apabila lupa salah satu di antaramu atau sedang tidur (sehingga tidak mengerjakan shalat) kerjakan shalat apabila telah ingat. (HR. An Nasaiy dan At Tirmidzy dan menilainya Hadis itu sahib).</span></p><p style="text-align: right;"><b>وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَ صَلَاةٌ فَلْيُصَلِهَا إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ وَتَلَى قَوْلَهُ تَعَالَى أَقِهِ نس الصلوة لذكري.</b></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165323339b4e2a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17715" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 20 Oct 2023 07:59:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            <media:keywords>Apakah MengqadhaMenjamak Sholat boleh</media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Apakah Vaksin Membatalkan Puasa?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-43-apakah-vaksin-membatalkan-puasa</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-43-apakah-vaksin-membatalkan-puasa</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah menggunakan vaksin dapat membatalkan puasa? Dan apakah dalil yang menerangkan terkait nya? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah menggunakan vaksin dapat membatalkan puasa? Dan apakah dalil yang menerangkan terkait nya?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: vaksin merupakan salah satu kebutuhan ataupun syarat yang harus kita penuhi di era covid-19 melanda. Penggunaan vaksin dilakukan demi terwujud nya kekebalan tubuh agar tidak terjangkit virus covid-19. Oleh dari itu para ulama bersepakat tentang vaksin yang hukum nya halal ditinjau dari aspek istislah, istihalah, dan daruriyah. Apalagi dalam kondisi covid-19 yang dalam kuru waktu dua tahun telah menghantui masyarakat dunia, tidak ada alasan lain untuk menolak menggunakan vaksin. Namun bagaimana jika vaksinasi ini dilakukan saat sedang berpuasa? Apakah akan membatalkan puasa nya ataukah tidak?.</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Menurut Imam Kasani dari Mazhab Hanafi juga mengatakan bahwa batasan batal tidaknya puasa seseorang adalah apabila ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Imam Nawawi dari Mazhab Syafi&rsquo;I juga menambahkan bahwa batalnya puasa apabila ada benda yang masuk ke dalam rongga perut (</span><i><span style="font-weight: 400;">jawf</span></i><span style="font-weight: 400;">) melalui organ tubuh yang berlubang terbuka (</span><i><span style="font-weight: 400;">manfadz maftuh</span></i><span style="font-weight: 400;">) seperti mulut, hidup, dubur, dan telinga. Kedua pendapat ulama ini merupakan abstraksi yang diambil dari QS. Al-Baqarah ayat 187. Dari penjelasan kedua ulama di atas cukup untuk menjelaskan bahwa seseorang dianggap batal puasanya apabila meminum obat-obatan melalui lubang alamiah. Akan tetapi terkait dengan penggunaan alat suntik untuk memasukan suatu zat atau benda ke dalam tubuh melalui pori-pori di bawah kulit atau pembuluh darah, rasa-rasanya tidak ada penjelasan yang sharih (gamblang) di dalam Al-Qur&rsquo;an, hadits Nabi saw, maupun kitab-kitab klasik.&nbsp;&nbsp;</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11653228cde488f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="8372" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 20 Oct 2023 07:15:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hukum vaksin,
                                                                                                                                                                berpuasa,
                                                                                                                                                                batal atau tidak,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Tentang Hadis Menyingkirkan Gangguan Di Jalan</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-42-tentang-hadis-menyingkirkan-gangguan-di-jalan</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-42-tentang-hadis-menyingkirkan-gangguan-di-jalan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah Ada hadis yang menyebutkan tentang menyingkirkan gangguan di jalan dan apakah kebaikan kecil semacam ini tetap di perhitungkan? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah Ada hadis yang menyebutkan tentang menyingkirkan gangguan di jalan dan apakah kebaikan kecil semacam ini tetap di perhitungkan?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: seperti yang kita tau bahwa akhlak yang baik telah di contohkan oleh rasulullah yng mana disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallhu &lsquo;alaihi wasallam mengabarkan dan menyampaikan kepada kita bahwa keimanan itu memiliki tujuh puluh bagian. Bagian tertinggi ialah kalimat L&acirc;il&acirc;haillall&acirc;h, sedangkan bagian terendah ialah menyingkirkan duri di jalan. Memalui beberapa hadits berikut ini, Baginda Nabi hendak mengisahkan seorang pria yang dimasukkan Allah ke dalam surga nya, dengan alasan dia menyingkirkan sebuah dahan berduri di jalan yang biasa dilalui kaum Muslimin agar tidak membahayakan mereka. Begitupun disebutkan di Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu &lsquo;alaihi wasallam menyabdakan:&nbsp;</span></p><p style="text-align: right;"><b>&nbsp; بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ&nbsp;</b></p><p><i><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya&rdquo; (HR al-Bukhari).&rdquo; &nbsp;</span></i><i><span style="font-weight: 400;"><br /><br /></span></i></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652fd2c50b213.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="37157" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 18 Oct 2023 12:42:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadis,
                                                                                                                                                                menyingkirkan gangguan dijalan,
                                                                                                                                                                bentuk keimanan,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 19: Zakat Fitrah Menurut Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-19-zakat-fitrah-menurut-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-19-zakat-fitrah-menurut-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah itu zakat fitrah, apa hukum nya dan bagaimanakah sistem perhitungan nya menurut putusan tarjih muhammadiyah??&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah itu zakat fitrah, apa hukum nya dan bagaimanakah sistem perhitungan nya menurut putusan tarjih muhammadiyah??&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: zakat fitrah merupakan zakat yang diwajibkan atas setiap individu muslim baik perempuan maupun laki-laki yang dilaksanakan saat Ramadhan. Aktivitas zakat sendiri merupakan mengeluarkan Sebagian dari pada harta yang kita miliki apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan. Zakat juga merupakan salah satu rukun islam yang mana harus ditunaikan bagi orang-orang yang memiliki kecukupan harta untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima zakat. Zakat juga merupakan bentuk pembersihan diri seperti yang dijelaskan oleh syekh Nawawi Al Bantani dalam kitab nya Tanqin al-qaul al-hatsits, Nabi Muhammad saw juga bersabda &ldquo;Zakat adalah sebersih-bersihnya iman&rdquo;.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun zakat fitrah dilaksanakan pasa pergantian malam Ramadhan menuju hari raya idul fitri yaitu bentuk fitrah atau Kembali ke suci. Adapun hukum melaksanakan zakat ialah WAJIB bagi seluruh umat islam. Dan hendaknya juga memberikan sedekah atau infak bagi orang-orang yang mampu. Didalam Muhammadiyah sendiri Tarjih Muhammadiyah menjelaskan bahwa infak bermaknakan sebagai sedekah wajib. Oleh karenanya zakat fitrah bersifat sedekah wajib karena datang nya bulan suci Ramadhan.&nbsp;</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165210ba5adcb5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="40293" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:41:56 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        zakat,
                                                                                                                                                                zakat fitrah,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bacaan Setelah Sholat menurut Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-41-bacaan-setelah-sholat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-41-bacaan-setelah-sholat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Bagaimanakah Bacaan selepas sholat menurut Muhammadiyah? ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah Bacaan selepas sholat menurut Muhammadiyah?</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: selepas menunaikan ibadah sholat hendaknya kita tidak langsung beranjak pergi tetapi isilah ibadah sholat dengan dzikir dan bacaan-bacaan yang mulia serta doa-doa pengharapan kepada nya nya. </span><span style="font-weight: 400;">Allah SWT juga menganjurkan kepada kita untuk banyak berdzikir kepada-Nya. Melalui Perintah yang disebutkan dalam banyak ayat al-Qur&rsquo;an, salah satunya: &ldquo;Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah&rdquo;. (Q.S. Al-Ahzab: 21). Adapun bacaan-bacaan dzikir diantara nya yakni:</span></p><ol><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca istighfar tiga kali</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ, أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ, أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ</b></p><ol start="2"><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca Allahumma antas-Salaam&hellip;</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ</b></p><ol start="3"><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca Allahumma laa Maani&rsquo;a&hellip;</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>اَللّٰـهُـمَّ لَا مَـانِـعَ لِـمَـاۤ أَعْـطَــيْتَ وَلَا مُـعْــطــِيَ لِـمَـا مَـنَعْـتَ وَلَا يَــنْفَـعُ ذَا الْجَــدِّ مِـنْـكَ الْجَـــدُّ</b></p><ol start="4"><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>سُبْحَانَ اللهِ</b></p><p style="text-align: right;"><b>الْحَمْدُ لِلَّهِ</b></p><p style="text-align: right;"><b>اللهُ أَكْبَرُ</b></p><ol start="5"><li style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;"> Membaca tahlil</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ</b></p><ol start="6"><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca sayyidul istighfar</span></li></ol><p style="text-align: right;"><b>اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ</b></p><ol start="7"><li><span style="font-weight: 400;"> Membaca doa-doa lainnya yang kita butuhkan</span></li></ol><p></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652fd2321b1e3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="15244" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 18 Oct 2023 12:40:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        bacaan sholat,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 14: Hukum Membaca Manaqib Menurut Muhammadiyah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-14-hukum-membaca-manaqib-menurut-muhammadiyah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-14-hukum-membaca-manaqib-menurut-muhammadiyah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apa itu manaqib dan bagaiman hukum membaca dan manfaat dalam mempelajari nya manakib?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apa itu manaqib dan bagaiman hukum membaca dan manfaat dalam mempelajari nya manakib?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Di dalam agama Islam ada kitab yang berjudul Manaqib. Buku ini disusun oleh Mbah KH. Jauhari Umar dari Pasuruan. Manaqib merupakan bentuk jamak dari &ldquo;manqabah&rdquo; yang berarti perilaku baik seseorang. Manaqib merupakan sifat terpuji atau akhlak manusia yang baik. Ketika Anda membaca Manaqib, Anda membaca kisah hidup seseorang yang berkaitan dengan karakter dan kebaikan orang tersebut. Hal ini bisa menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Pada hakikatnya manusia adalah cerminan dari orang lain. Sosok yang mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat baik dan bersabar dalam menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, masyarakat akan menjadi lebih baik jika mereka mau belajar dari orang-orang yang mereka anggap sebagai panutan. Adapun manfaat dari manaqib sendiri yaitu sebagai motivasi untuk melakukan kebaikan, membukakan pintu langit untuk semakin dekat dengan Allah swt, dan menjadi berkah bagi pembacanya. Manaqib sendiri sering dilakukan oleh masyarakat islam di Indonesia.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Didalam Muhammadiyah sendiri tidak ada dalil yang melarang secara khusus untuk mengerjakan hal semacam ini hanya saja masyarakah Muhammadiyah melakukan ibadah seperti yang dilakukan oleh rasulullah seperti shalawat kepada nya dan ibadah-ibadah syariat lain nya. Namun semua Kembali pada niat membacanya apabila dengan membaca manaqib dapat menambah ketaatan kita kepada Allah swt sentu saja hal tersebut jauh lebih baik dan boleh dilaksanakan. Dengan mengetahui kisah-kisah hidup ulama-ulama islam dan perjuangan islam sehingga dapat sampai pada saat ini dapat menjadi modal kita untuk melangkah di zaman sekarang dan dapat menjadi bahan evaluasi ke isleman kita pada saat ini. Begitupun juga dengan sholawat yang di anjurkan kepada kita umat Nabi Muhammad saw. Menurut pandangan Muhammadiyah, shalawat itu berarti do&rsquo;a, memberi berkah dan ibadah. Shalawat Allah kepada hambanya dibagi dua, khusus dan umum. Shalawat khusus, ialah shalawat Allah kepada para Rasul atau Nabi-Nya, teristimewa shalawat Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Shalawat umum, ialah shalawat Allah kepada hamba-Nya yang mukmin.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652100628e63e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="16321" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 06:58:44 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        membaca manaqib,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Kriteria Manusia Yang Berkualitas</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-40-manusia-yang-berkualitas</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-40-manusia-yang-berkualitas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Bagaimana kriteria manusia berkualitas baik dihadapan manusia dan di hadapan Allah? Mohon penjelasan dan dalilnya! ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimana kriteria manusia berkualitas baik dihadapan manusia dan di hadapan Allah? Mohon penjelasan dan dalilnya!</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Answer: Rumusan manusia berkualitas menurut GBHN tahun 1988 sub sektor Pendidikan, yang antara lain berbunyi: "Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggungjawab, mandiri, cerdas dan trampil serta sehat jasmani dan ruhani ...".</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Rumusan demikian tidak bertentangan dengan ajaran Agama kita Islam, bahkan boleh dikata sesuai. Kalau saja setiap orang mengamalkan dengan baik rumusan itu, khususnya bagi ummat Islam dengan kacamata Agama Islam, kualitas yang demikian akan sesuai dengan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya yang terdapat pada Al-Quran dan Sunnah Nabi. Kita ambil saja beberapa kriteria yang sangat pokok dalam Agama Islam yakni, beriman dan bertaqwa dan berbudi pekerti luhur yang dalam Islam disebut berakhlaqul karimah. Tentang iman, dan berbudi pekerti luhur sangat erat hubungannya. Banyak ayat yang menjelaskan maksud beriman, tetapi mengingat tempat kita ambil saja satu dari banyak ayat yang terdapat pada Al-Quran, misalnya ayar 15 surat Al Hujarat:</span></p><p style="text-align: right;"><b>اِنَّمَا</b><b> </b><b>الْمُؤْمِنُوْنَ</b><b> </b><b>الَّذِيْنَ</b><b> </b><b>اٰمَنُوْا</b><b> </b><b>بِاللّٰهِ</b><b> </b><b>وَرَسُوْلِهٖ</b><b> </b><b>ثُمَّ</b><b> </b><b>لَمْ</b><b> </b><b>يَرْتَابُوْا</b><b> </b><b>وَجَاهَدُوْا</b><b> </b><b>بِاَمْوَالِهِمْ</b><b> </b><b>وَاَنْفُسِهِمْ</b><b> </b><b>فِيْ</b><b> </b><b>سَبِيْلِ</b><b> </b><b>اللّٰهِ</b><b> </b><b>ۗ</b><b> </b><b>اُولٰۤىِٕكَ</b><b> </b><b>هُمُ</b><b> </b><b>الصّٰدِقُوْنَ</b></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652e0f8403608.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34404" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 17 Oct 2023 04:37:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        insan,
                                                                                                                                                                manusia,
                                                                                                                                                                berkualitas,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Hukum Kawin Setelah Berzina</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-39-kawin-setelah-berzina</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-39-kawin-setelah-berzina</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Perawan/jejaka asli yang menikahi seorang yang pernah berzina hal ini diketahui atas dasar pengakuan seorang diri oleh calonnya bahwa bukan lagi jejaka atau perawan asli, kini telah menjadi suami isteri. Dan Sahkah orang yang melangsungkan perkawinannya dan sebelumnya telah melakukan hubungan sex yang tidak halal (perbuatan maksiat)?&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Perawan/jejaka asli yang menikahi seorang yang pernah berzina hal ini diketahui atas dasar pengakuan seorang diri oleh calonnya bahwa bukan lagi jejaka atau perawan asli, kini telah menjadi suami isteri. Dan Sahkah orang yang melangsungkan perkawinannya dan sebelumnya telah melakukan hubungan sex yang tidak halal (perbuatan maksiat)?&nbsp;</span></p><p><span style="font-weight: 400;">Jawab: Dalam masalah ini ada dua pendapat, ada yang mengharamkan orang yang kawin dengan orang yang telah berbuat zina, dengan alasan adanya larangan dalam ayat 3 Surat An Nur, dan memahaminya secara lahir;</span></p><p style="text-align: right;"><b>اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً ۖوَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَآ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌۚ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ</b></p><p><span style="font-weight: 400;">Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652e0ec82178c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="14868" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 17 Oct 2023 04:34:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        menikah,
                                                                                                                                                                berzina,
                                                                                                                                                                hukum menkah setelah berzina,
                                                                                                                                                                tanya jawab agama                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 3: Siapakah Ahli Sunnah Wal Jamaah?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-part-3-siapakah-ahli-sunnah-wal-jamaah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-part-3-siapakah-ahli-sunnah-wal-jamaah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Q &amp; A AD-DIN PART 3: SIAPAKAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b>Q &amp; A AD-DIN PART 3: SIAPAKAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Question: Saya belum begitu mengetahui tuntunan Muhammadiyah dalam melaksanakan ibadah. Oleh teman saya, saya dikatakan bukan Ahli Sunnah wal Jamaah, karena saya melaksanakan shalat Tarawih 8 rakaat dan shalat Shubuh tanpa doa qunut. Mohon penjelasan!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Untuk mempelajari tuntunan ibadah menurut Muhammadiyah, sebaiknya membaca buku Himpunan Keputusan Tarjih, atau buku-buku yang disusun untuk pelajaran agama di sekolah-sekolah Muhammadiyah.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651c1ea2557d0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="51654" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 03 Oct 2023 14:01:18 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        ahli sunnah wal jamaah,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 38: Manusia Berasal Dari Tanah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-38-manusia-berasal-dari-tanah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-38-manusia-berasal-dari-tanah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Allah menciptakan manusia pertama dari saripati tanah sedangkan menurut ilmu biologi kejadian manusia itu adalah pertemuan antara sel sperma dan sel telur bagaimanakah hubungan keduanya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Allah menciptakan manusia pertama dari saripati tanah sedangkan menurut ilmu biologi kejadian manusia itu adalah pertemuan antara sel sperma dan sel telur bagaimanakah hubungan keduanya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Kalau kita membaca berbagai ayat di dalam Alquran yang menjelaskan bahwa kita mendapati manusia pertama yang diidentifikasikan dengan Adam berasal dari tanah seperti yang disebut dalam Qur&rsquo;an surat Ali Imran ayat 59 yang berbunyi:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"><br /></span><b>اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">&ldquo;Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, &ldquo;Jadilah!&rdquo; Maka jadilah sesuatu itu.&rdquo;</span></i></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652c1439664a3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="30027" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 15 Oct 2023 16:33:08 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        manusia,
                                                                                                                                                                an-nash,
                                                                                                                                                                manusia dari tanah,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 36: Hukum Wanita Haid Masuk Mesjid</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-36-hukum-wanita-haid-masuk-mesjid</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-36-hukum-wanita-haid-masuk-mesjid</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Bagaimanakah Hukum Wanita yang sedang haid masuk kedalam masjid dan membaca Al-Qur&rsquo;an dan bagaimana pulakah hukum nya memotong rambut ataupun kuku saat sedang haid?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah Hukum Wanita yang sedang haid masuk kedalam masjid dan membaca Al-Qur&rsquo;an dan bagaimana pulakah hukum nya memotong rambut ataupun kuku saat sedang haid?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Tentang wanita haid, membaca Al-quran para imam mahzab berpendapat berbeda-beda. Imam Hanafi membolehkan orang yang junub membaca ayat bila kurang dari satu ayat. Imam Malik membolehkan orang yang sedang haid membaca Alquran tetapi tidak membolehkan orang yang junub membaca Alquran. Imam Syafi'i dan imam Ahmad tidak membolehkan orang yang junub dan wanita yang haid membaca Alquran walaupun kurang dari satu ayat. Ada beberapa riwayat yang melarang orang yang haid membaca Alquran seperti riwayat abu Daud at-tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar yang artinya nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda janganlah orang yang sedang berjunub ataupun haid membaca suatu Alquran demikian pula rawayat ada rukut dari Jabir bin Abdullah yang artinya nabi bersabda janganlah orang-orang yang sedang haid dan jangan pula orang yang sedang nifas membaca sesuatu dari Alquran keduanya riwayat itu termasuk tidak dapat dijadikan hujjah atau alasan karena keduanya munkar sehingga dalil yang melarang orang yang sedang haid membaca Alquran dan sebagainya seperti yang anda katakan tanyakan yaitu masuk masjid pemotong rambut memotong kuku tidak ada jika dikembalikan pada hukum asal yang ini boleh</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebenarnya, tidak ada riwayat yang melarang potong rambut. Tidak ada juga hadis yang mengatakan bahwa rambut perempuan</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;yang rontok saat haid harus dicuci ketika mandi besar setelah haid berakhir. Sebaliknya, ada hadis yang mengizinkan wanita untuk menyisir rambutnya saat sedang haid. Meski biasanya ada rambut yang rontok atau jatuh saat menyisir. Adapun hukum wanita memasuki masjid dikutip dari Muhammadiyah.Or.Id. perempuan haid hendaknya menjauhi mushalla (tempat shalat), maksudnya tidak berada pada shaf shalat. Tetapi mereka dibolehkan berada di lapangan tempat dilaksanakan shalat menyaksikan kaum muslimin dan khutbah &lsquo;Id yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Jadi, dalil ini pun kurang tepat jika dijadikan dalil untuk melarang perempuan haid masuk masjid.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116528ed40342f1.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="28050" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 13 Oct 2023 07:11:04 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        wanita haid,
                                                                                                                                                                masuk masjid,
                                                                                                                                                                hukum wanita haid masuk majid,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 2: Fungsi Hadist</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-part-2-fungsi-hadist</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-part-2-fungsi-hadist</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apa itu Hadist dan apakah fungsinya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apa itu Hadist dan apakah fungsinya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Menurut para ahli dibidang Hadist, Hadist ialah apa yang disandarkan atau apa yang disangkut-pautkan kepada Nabi, baik perkataan, perbuatan maupun sesuatu ketentuan/ketetapan Nabi Muhammad saw.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud dan ketentuan itu ialah sesuatu yang diperbuat oleh seorang nabi atau rasul sedangkan Nabi melihat tetapi tidak memberi reaksi apa-apa, hal itu dinamakan Hadist berdasarkan ketentuan istilah yang dalam ilmu Hadist disebut Taqrir. Karena Nabi adalah Penyampai/mubaligh yang berasal dari Allah, maka Nabi menyampaikan berita gembira dan peringatan kepada umat manusia yang apa diterimanya dari Allah ialah wahyu yang berupa Al-Quran sebagai sumber nagama Islam.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651c1e0535d3a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="23416" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 03 Oct 2023 13:58:45 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadist rasul,
                                                                                                                                                                sungsi hadist,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 35: Bentuk Kemuliaan Manusia</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-35-bentuk-kemuliaan-manusia</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-35-bentuk-kemuliaan-manusia</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah itu manusia, terbuat dari apa dan adakah bentuk kemuliaan dari nya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah itu manusia, terbuat dari apa dan adakah bentuk kemuliaan dari nya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: </span><span style="font-weight: 400;">Pengertian manusia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">makhluk yang berakal budi / mampu menguasai makhluk lain</span><span style="font-weight: 400;">. Manusia akan menjalani proses kehidupan yang memiliki 5 yakni proses pada masa bayi, anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia (lansia). Manusia juga merupakan makhluk sosial yang dalam hidup nya memerlukan manusia lain nya.</span><span style="font-weight: 400;"> manusia</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;dari sudut pandang filosofis dari setiap filsuf menjelaskan bahwa&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">manusia</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;adalah makhluk yang menerima karunia paling besar&nbsp;dari Sang Pencipta.</span><span style="font-weight: 400;"> Sedangkan </span><span style="font-weight: 400;">Manusia dalam Pandangan Islam adalah&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">makhluk yang diberikan amanah oleh Allah swt dan wajib ditunaikan</span><span style="font-weight: 400;">. Manusia juga memiliki berbagai macam karakter, yang dengan karakter tersebut, antara yang satu dengan yang lainnya menjadi kelebihan sekaligus kekurangannya.</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penciptaan manusia telah di jelaskan didalam Al-Qur&rsquo;an dalam teks surah al Mukminun ayat 12 menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">sari pati tanah</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;(Al Quran surah almukminun: 12). Allah menciptakan manusia dari&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">unsur tanah</span><span style="font-weight: 400;">. Dalam salah satu hadist disebutkan &ldquo;Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari gumpalan tanah yang diambil dari seluruh tempat yang ada di bumi&rdquo;. Jika Allah menghendaki bisa saja manusia diciptakan dari unsur yang lain. Sedangkan penciptaan </span><span style="font-weight: 400;">Manusia Terbuat menurut sains ialah &ldquo;Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari&nbsp;saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).&nbsp;</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116528ed0166313.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="68443" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 13 Oct 2023 07:09:09 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        insan,
                                                                                                                                                                kemuliaan manusia,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 34: Bacaan Bilal Saat Melaksanakan Shalat Idul Adha</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-34-bacaan-bilal-saat-melaksanakan-shalat-idul-adha</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-34-bacaan-bilal-saat-melaksanakan-shalat-idul-adha</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah yang dimaksud dengan bacaan bilal dan apa yang pelu di baca?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah yang dimaksud dengan bacaan bilal dan apa yang pelu di baca?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: sholat idul adha merupakan perintah sekaligus amalan dari Allah swt. Melaksanakan sholat idul adha ini dengan keikhlasan dan sungguh-sungguh akan mendatangkan kasih sayang dan pahala besar dari Allah swt. Bukan hanya itu melaksanakan shalat ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh akan mendatangkan keberkahan bagi orang yang melaksanakan sholat idul adha ini. Sholat ini juga sebagai penyempurna ibadah kurban yang mana sebagai penghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Yang mana dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah atau hari setelah kita melaksanakan puasa sunnah Arafah. Idul adha ini sekaligus peringatan kepada kita tentang sebuah ketaatan Nabi Ibrahim a.s terhadap perintah Allah swt. Untuk mengorbankan anaknya yaitu Nabi Ismail sebagai bukti ketaatan nya.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun rangkayan sholat idul adha ada bacaan yang disebut dengan bacaan bilal Ketika imam datang dan siap memulai sholat idul adha dengan memberikan aba-aba bilal berdiri dan mengumandangkan:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Bacaan Bilal Idul Adha sebelum Salat Id</span></li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"><br /></span><b>الصَّلَاةَ سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165280b5935a41.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="32363" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 12 Oct 2023 15:06:34 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        bacaan bilal,
                                                                                                                                                                idul adha,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 30: Hukum Nikah Tanpa Wali Nikah Dan Saksi</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-30-hukum-nikah-tanpa-wali-nikah-dan-saksi</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-30-hukum-nikah-tanpa-wali-nikah-dan-saksi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah menikah di anggap sah tanpa adanya wali nikah dan juga saksi?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah menikah di anggap sah tanpa adanya wali nikah dan juga saksi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anwer: Menikah merupakan suatu ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia, oleh karenanya kita harus mempersiapkan nya dengan sebaik-baik mungkin. Perlunya ilmu sebelum menikah, memahami esensi dari pernikahan, memahami syarat-syarat nikah untuk bekal persiapan menuju pernikahan. Lalu bagaimanakah hukum nya jika menikah tanpa adanya wali nikh dan juga saksi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang perlu kita ketahui yakni syarat dalam menikah. Adapun syarat dalam menikah ialah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Adanya calon pengantin yang telah baligh, berakal dan tidak memiliki halangan untuk menikah</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Memiliki wali yang mampu menjalankan tanggung jawabnya dalam menikahkan calon pengantin</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Terdapat minimal 2 orang saksi yang adil dan baligh untuk menyaksikan proses akad nikah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Ada nya mahar atau mas kawin yang telah di spakati oleh kedua belah pihak.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Terjadinya ijab dan qobul yang di ucapkan antara wali nikah dan calon suami sebagai tanda terjadinya pernikahan.</span></li>
</ol>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652497d660340.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="14014" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 00:16:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        menikah tanpa wali,
                                                                                                                                                                hukum nikah tanpa saksi,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 29: Tentang Ahli Bid’ah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-29-tentang-ahli-bidah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-29-tentang-ahli-bidah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah itu bid&rsquo;ah dan siapakah itu ahli bid&rsquo;ah itu?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah itu bid&rsquo;ah dan siapakah itu ahli bid&rsquo;ah itu?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Bid&lsquo;ah secara bahasa berasal dari akar kata dalam bahasa arab&nbsp;</span><i><span style="font-weight: 400;">bada&lsquo;a</span></i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;artinya mengadakan (membuat) sesuatu yang baru. Adapun dalam istilah syarak pengertian bid&lsquo;ah ialah cara baru dalam perkara agama yang diserupakan syariat yang dikerjakan orang dengan maksud berlebih-lebihan dalam beribadah serta mengharap pahala tanpa adanya dalil dalam syarak atau contoh dari Rasulullah saw. Memahami istilah di atas bahwa bid&lsquo;ah dibatasi dalam hal agama (akidah dan ibadah). Ahli bid&rsquo;ah merupakan orang-orang yang menyimpang terhadap ajaran yang di bawakan oleh baginda Nabi Muhammad saw.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Didalam Muhammadiyah sendiri kita berpedoman pada sabda-sabda Nabi besar Muhammad saw, bahwa kita harus menjauhi perbuatan bid&rsquo;ah. Yang mana didalam agama bid&rsquo;ah di anggap orang-orang yang melenceng atau tersesat dari ajaran agama Islam dan tenpat yang berhak bagi mereka ialah neraka. Lalu siapakah itu ahli bid&rsquo;ah yakni orang-orang yang melaksanakan praktik ibadah yang melenceng dari apa yang di perintahkan oleh agama Islam dan di contohkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika dalam praktek ibadah khusus seseorang mengerjakan ibadah berbeda dengan yang telah di ajarkan agama dan tidak memiliki alasan yang jelas atau hanya membuat-buat saja dapat pula dikatakan bid&rsquo;ah</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652496e69656c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="18080" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 00:12:34 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        bidah,
                                                                                                                                                                ahli bidah,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 28: Tentang Hadis Dha’if</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-28-tentang-hadis-dhaif</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-28-tentang-hadis-dhaif</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah itu hadis dhaif dan bagaimanakah hukum menjadikan nya rujukan dalam kehidupan sehari-hari?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah itu hadis dhaif dan bagaimanakah hukum menjadikan nya rujukan dalam kehidupan sehari-hari?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Hadits merupakan sumber hukum Islam yang berasal dari baginda Nabi besar Muhammad saw. Yang mana hadits merupakan sumber hukum terkuat setelah firman Allah saw yakni Al-Qur&rsquo;an. Hadits diperoleh atau didasarkan kepada perbuatan, perkataan dan pernyataan dari pada Nabi Muhammad saw yang mengarah kepada hukum Islam. Hadits sendiri memiliki tingkatan-tingkatan yakni Hadist shahih, hadits hasan dan Hadist dhaif. Hadits dha&rsquo;if merupakaan hadits yang tidak memenuhi kriterua penerimaan hadits ataupun sifat-sifat dari sang perawi hadits yang tidak memenuhi sebagaimana hadist shahih maupun hadist hasan. Adapun penyebab suatu hadist dapat dikatakan dha&rsquo;if ialah sanad atau sandaran nya yang tidak tersambung. Hadis dhaif dikatakan pula sebagai hadist yang paling lemah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Muhammadiyah sendiri hadits dibagi pada tiga tingkatan di atas ialah hadits yang di peroleh dari ahli-ahli hadits. Dr. Subhi ash-shalih menjelaskan bahwa Imam Tirmidzi-lah ahli hadits pertama yang mencoba mengisyaratkan adanya konsep hadits hasan. Dan untuk hadits dha&rsquo;if juga memiliki tingkatan-tingkatan ada yang dapat di terima ke dha&rsquo;if annya karena tidak terlalu besar dan dan beralasan mengapa kita harus menerima nya, misalnya jalur periwayatnya yang banyak sesuai dengan kaidah umum agama.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652495f938cd5.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="19035" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 00:08:35 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadis dhaif,
                                                                                                                                                                hukum berhukum,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 27: Tentang Hadis Mendidik Anak</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-27-tentang-hadis-mendidik-anak</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-27-tentang-hadis-mendidik-anak</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ &nbsp;Question: bagaimanakah cara mendidik anak yang baik seperti yang rasul contohkan dan apakah keutamaan mendidik anak di dalam hadisnya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b>&nbsp;</b><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah cara mendidik anak yang baik seperti yang rasul contohkan dan apakah keutamaan mendidik anak di dalam hadisnya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: orang tua memiliki peran penting untuk perkembangan hidup anak-anak nya, tidak sedikit anak-anak menirukan apa yang mereka lihat dan ajarkan oleh orang tuanya. oleh karenanya perlulah kita sebagai orang tua memberikan contoh dan didikan terbaik bagi anak-anak kita. Didalam islam sendiri Nabi telah mencontohkan secara lansung kepada kita umat nya, melalui hadis-hadis beliau kita dapat belajar bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak-anak kita.&nbsp;</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ}.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: Nabi SAW bersabda: &ldquo;Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik</span><span style="font-weight: 400;">.&rdquo; (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim) dengan merujuk pada hadis ini di terangkan bahwa yang lebih utama untuk diwariskan kepada anak-anak kita ialah tata krama atau adab yang baik.</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {لِأنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ}.</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116524945869d16.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="28359" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 10 Oct 2023 00:02:13 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadis,
                                                                                                                                                                tentang mendidik anak,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 26: Bedah Hadis Hiduplah Seakan Kamu Akan Mati Besok</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-26-bedah-hadis-hiduplah-seakan-kamu-akan-mati-besok</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-26-bedah-hadis-hiduplah-seakan-kamu-akan-mati-besok</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah makna yang terkandung dari hadist &ldquo;Hiduplah seakan kamu akan mati besok&rdquo;??
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah makna yang terkandung dari hadist &ldquo;Hiduplah seakan kamu akan mati besok&rdquo;??</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anser: kalimat ini merupakan potongan dari hadis yang berbunyi: &ldquo;Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.&rdquo; Begini ungkapan dalam bahasa Arabnya:</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&ldquo;I&rsquo;mal lidunyaaka ka-annaka ta&rsquo;isyu abadan, wa&rsquo;mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.&rdquo; Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani&nbsp;</span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha&rsquo;ifah mengungkapkan, hadits tersebut kalau disebut dari Nabi shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam tidaklah benar walaupun hadits tersebut sudah sering diucapkan oleh kebanyakan orang. Dan dilanjutkan dengan kalimat keduanya yakni: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&lsquo;Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, Perkataan &hellip;</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652492ee2e01a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="22016" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:57:17 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadis,
                                                                                                                                                                hiduplah seakan kamu mati besok,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 25: Orang Tua Adalah Pintu Surga</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-25-orang-tua-adalah-pintu-surga</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-25-orang-tua-adalah-pintu-surga</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah benar didalam agama Islam, orang tua dapat menjadi pintu surga bagi anak-anak yang berbakti kepada orang tua nya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah benar didalam agama Islam, orang tua dapat menjadi pintu surga bagi anak-anak yang berbakti kepada orang tua nya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: dalam kehidupan agama islam telah mengajarkan banyak aspek baik dalam segi berinteraksi dengan sesame kita, aturan-aturan tentang apa-apa yang diperintahkan sampai dengan larangan-larangan. Islam juga mengatur hubungan kita kepada orang tua kita, meliputi apa-apa yang boleh atau di perintahkan hingga larangan untuk dilakukan kepada orang tua kita. Tentunya islam memerintahkan kita untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua kita dengan menyayangi nya dan menaati segala perintah nya selagi itu tidak bertentangan dengan syari&rsquo;at agama Islam. Salah satu kelebihan kita menaati dan berbakti kepada orang tua ialah kita dapat meraih surganya Allah swt. Sebagaimana di terangkan dalam suatu hadis:&nbsp;</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>عَنْ أُبَيِّ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ &ndash; رواه احمد</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dari Ubay Ibni Malik, Nabi&nbsp;</span></i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu&rsquo;alaihi Wasallam&nbsp;</span><i><span style="font-weight: 400;">bersabda: &ldquo;</span></i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa mendapati kedua</span><i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;</span></i><span style="font-weight: 400;">orangtuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah</span><i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;</span></i><span style="font-weight: 400;">akan mengucilkannya dan membinasakannya</span><i><span style="font-weight: 400;">&rdquo; (HR Ahmad No.19027).</span></i></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652492414589f.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="63450" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:52:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        orang tua,
                                                                                                                                                                pintu surga,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 24: Belut Haram Atau Halal?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-24-belut-haram-atau-halal</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-24-belut-haram-atau-halal</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah hukum nya memakan belut bagi kaum muslim?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah hukum nya memakan belut bagi kaum muslim?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Belut merupakan hewan yang menyerupai ular yang sama-sama merayap, namun tidak mempunyai sisik seperti ular. Belu banyak ditemukan di Indonesia pada umumnya di temukan di persawahan. Belut juga hewan yang sering hidup diperairan. Belut pun sering dijadikan menu makanan masyarakat Indonesia bukan hanya menjadi menu rumahan restorant dan warung makan di Indonesia pun kerap menyuguhkan belut sebagai menu kuliner mereka karena belut cukup banyak digemari. Namun terlepas dari kondisi di atas bagaimanakah hukum memakan belut didalam islam sendiri?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun belut mirip dengan ular, namun belut ternyata lebih mirip dengan ikan karena sama-sama bernafas dengan ingsang. Oleh karena nya menurut Sebagian besar ulama hukum memakan belut ialah boleh atau halal karena belut merupakan jenis ikan yang juga bernafas dengan ingsang dan bukan sejenis hewan melata seperti ular. Hal ini di tegaskan oleh Syaikh Wahbah Al-zuhaili dalam kitab nya yaitu:</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>والحكم الخاص بحل الجزء المبان من السمك يشمل جميع أنواع السمك ومنه الجريت بكسر المعجمة وتشديد المهملة وهو سمك اسود مدور</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116524916c25645.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="6410" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:49:10 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        beluh,
                                                                                                                                                                halal,
                                                                                                                                                                haram,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 1: Rasulullah Menetapkan Halal Dan Haram?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-1-rasulullah-menetapkan-halal-dan-haram</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-1-rasulullah-menetapkan-halal-dan-haram</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Apakah tugas rasulullah dan apakah rasulullah yang menetapkan perihal halal dan haram, lalu apakah dalil yang menerangkan nya?!
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Apakah tugas rasulullah dan apakah rasulullah yang menetapkan perihal halal dan haram, lalu apakah dalil yang menerangkan nya?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: diutusnya Rasullullah ialah untuk menyampaikan wahyu Allah swt kepada ummatnya, sebagaimana telah diterangkan dalam Q.S An-Nahl ayat 35</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>فَهَلْ عَلَى ٱلرُّسُلِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Artinya: &ldquo;maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.&rdquo;</span></i></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651c1d389eca1.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="19761" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 03 Oct 2023 13:55:26 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        rasulullah,
                                                                                                                                                                halal,
                                                                                                                                                                haram,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 23: Modernisasi dan pemahaman tentang aqidah Agama</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-23-modernisasi-dan-pemahaman-tentang-aqidah-agama</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-23-modernisasi-dan-pemahaman-tentang-aqidah-agama</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah car akita tetap menerapkan aqidah-aqidah islam di tengah kemajuan globalisasi?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah car akita tetap menerapkan aqidah-aqidah islam di tengah kemajuan globalisasi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer:</span><b> </b><span style="font-weight: 400;">Tidak dapat dipungkiri perjalan Panjang perjuangan agama dari zaman dahulu kala hingga pada saat ini. Kemajuan dan modernisasi di zaman sekarang tidak boleh memudarkan pengajaran dan penyampaian risalah aqidah agama yang telah diwariskan dari masa kenabian dan ke kholifahan harus terus dilanjutkan hingga pada yaumul kiyamah. Pemahaman terkait aqidah agama tidak boleh hanya menjadi sebuah sejarah tapi juga perlu diteragkan Kembali di zaman sekarang.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Modernisasi dan pemahaman terkait aqidah seharusnya tidak boleh dipisahkan mengingat Aqidah merupakan suatu pokok yang paling fundamental atau mendasar dalam suatu keyakinan yang dipegang teguh oleh setiap individu muslim yang berdasar pada dalil agama dan mengingat konteks zaman yang telah masuk pada era modern maka perlunya ada modernisasi untuk menciptakan gerakan yang tidak melupakan kemurnian ajaran Agama Islam itu sendiri. Agama islam seringkali disebut dengan agama yang rahman dan Rahim. Namun apakah arti dari Rahman dan rahim?</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116524901a8acb0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="92928" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 09 Oct 2023 23:44:24 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        modernisasi,
                                                                                                                                                                aqidah-aqidah agama,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 20: Tentang Berpegang Teguh Pada Tali Alah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-20-tentang-berpegang-teguh-pada-tali-alah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-20-tentang-berpegang-teguh-pada-tali-alah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah kita dapat berpegang teguh pada tali Allah swt di tengah deras gempuran fitnah akhir zaman?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah kita dapat berpegang teguh pada tali Allah swt di tengah deras gempuran fitnah akhir zaman?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: berpegang teguh pada tali Allah berarti kita berpegang teguh kepada ajaran-ajaran islam, yang mana kita menjadikan setiap hal yang kita akukan untuk mendekatkan diri kita kepada sang pencipta dengan menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala yang dilarangnya serta berpegang pada Al-Qur&rsquo;an sebagai pedoman hidup kita. Karena hal-hal inilah yang menjadi warisan jaminan keselamatan kita selama menempuh kehidupan di dunia ini.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana sabda dari Nabi Muhammad saw didalam hadis: &ldquo;Aku titipkan kepadamu dua hal, yang mana dengan nya kamu tidak akan tersesat selama kamu mengikutinya yaitu: kitabulah dan sunnah Nabi-nya&rdquo; dengan ini jelas nabi telah memperingatkan kepada kita umatnya untuk mengikuti apa yang telah dituliskan didalam kitab nya dan sunnah-sunnah nya. Nabi Muhammad saw juga senantiasa engingatkan umatnya bahwa akan tiba saatnya akan sangat sulit bagi seseorang untuk mempertahankan komitmen terhadap agamanya. Yang seharusnya hal ini menjadi peringatan keras bagi kita untuk terus terhubung kepada tali Allah saw dan berhati-hati dalam menjalankan kehidupan yang fana ini berikut penjelasan Nabi Muhammad saw &ldquo;Akan tiba saatnya orang-orang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang memegang bara api&rdquo; (HR.Tirmidzi)</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/1165210c9e7264a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="21118" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:45:48 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        berpegang teguh,
                                                                                                                                                                kepada allah,
                                                                                                                                                                ketaatan kepada allah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 18: Antara Takdir, Ikhtiar, Doa DAN Tawakal </title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-18-antara-takdir-ikhtiar-doa-dan-tawakal</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-18-antara-takdir-ikhtiar-doa-dan-tawakal</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: jelaskan apa itu takdir ikhtiar doa dan tawakal dan apakah hubungan antara takdir ikhtiar doa dan tawakal?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: jelaskan apa itu takdir ikhtiar doa dan tawakal dan apakah hubungan antara takdir ikhtiar doa dan tawakal?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: keempat element diatas memiliki keterkaitan satu dengan yang lain nya. Serupa namun tidak sama tetapi sama-sama memiliki pengaruh dan kemaslahatan yang besar terhadap kaum muslim(H) di dunia. Kita akah menjabarkan satu satu dan menghubungkan keterkaitan diantara nya.&nbsp;</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">TAKDIR</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Takdir merupakan salah satu element keislaman yang perlu kita pahami dengan sungguh-sungguh pasalnya takdir merupakan suatu tanda atas kekuasaan Allah swt yang juga termasuk kedalam rukun iman, yang mana rukum iman wajib diimani oleh setiap individu muslim(H). takdir merupakan suatu ketetapan Allah swt sejak awal sebelum kita dan alam semesta diciptakan. Ada 2 macam takdir, yaitu takdir mubram adat takdir yang tidak dapat berubah-ubah meskipun kita berusaha merubahnya contoh dari takdir ini yakni kematian. Dan yang kedua ada takdir muallaq yakni takdir yang dapat berubah dikarenakan usaha kita sendiri contohnya yakni kekayaan, kecerdasan, dll. Yang mana takdir ini dapat kita ubah degan usaha dan doa atau kita sebut juga dengan ikhtiar.</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">IKHTIAR</span></li>
</ol>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652100901522e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="16082" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:34:28 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        doa,
                                                                                                                                                                takdir,
                                                                                                                                                                ikhtiar,
                                                                                                                                                                tawakl,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 17: Hukum Haid Lebih Dari 15 Hari Karena KB</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-17-hukum-haid-lebih-dari-15-hari-karena-kb</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-17-hukum-haid-lebih-dari-15-hari-karena-kb</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah hukum nya haid melebihi 15 hari dikarenakan menggunakan KB?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah hukum nya haid melebihi 15 hari dikarenakan menggunakan KB?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Perdarahan menstruasi terjadi secara alami pada wanita. Aisyah RA pernah bercerita bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ketika dia sedang haid: &ldquo;Sesungguhnya itulah urusan yang ditetapkan Allah bagi anak-anak perempuan Adam.&rdquo; (HR Bukhari dan Islam). Dalam Islam, ibadah membawa akibat hukum ketika seorang wanita sedang menstruasi. Secara khusus, terdapat larangan shalat, puasa, tawaf, dan hubungan seksual antara suami dan istri saat haid. Normalnya, wanita memiliki siklus menstruasi sekitar 1 bulan. Artinya dalam sebulan, seorang wanita yang sedang menstruasi hanya akan mendapat menstruasi satu kali saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&nbsp;Lamanya siklus menstruasi pada setiap wanita berbeda-beda. Beberapa website kesehatan menyebutkan siklus menstruasi wanita bisa berlangsung sekitar 2 hari hingga seminggu Selain itu, wanita juga sering mengalami perubahan siklus menstruasi dari bulan ke bulan. Misalnya dalam satu bulan, seorang wanita mendapat haid selama 7 hari, namun pada bulan berikutnya, bisa jadi ia haid hanya 5 hari, atau bahkan lebih dari seminggu. Menambah atau mengurangi jumlah hari menstruasi adalah hal yang normal. Jadi, jika seseorang mengalami haid lebih lama dari biasanya, pada hakikatnya hal tersebut normal dan tetap dianggap haid asalkan dapat mengenali darah tersebut sebagai darah haid. Adapun KB merupakan salah satu alat kontrasepsi yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi pada wanita. Bagi sebagian wanita, efek alat kontrasepsi dapat menyebabkan menstruasi berlangsung lebih dari 15 hari. Lalu bagaimana pandangan agama tentang haid lebih dari 15 hari karena kontrasepsi dalam Islam?</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11652100858bb8e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="11220" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:31:18 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        haid lebih 15 hari,
                                                                                                                                                                hukum mengkonsumsi kb,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 16: Puasa Yang Berkualitas</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-16-puasa-yang-berkualitas</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-16-puasa-yang-berkualitas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas kita dalam berpuasa?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas kita dalam berpuasa?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: puasa merupakan salah satu sunnah dari nabi kita Muhammad saw. adapun </span><span style="font-weight: 400;">pengertian puasa: puasa secara bahasa berasal dari kata "As-shaum" yang berarti menahan diri dari suatu perbuatan. Perbuatan disini di tafsirkan secara luas baik dari makan dan minum juga segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa.&nbsp; Sedangkan menurut syara', As-shaum adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Yang mana dengan puasa dapat membuat kita lebih terjaga dari segala sesuatu yang tidak baik dan sebagai media peningkatan ketakwaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, puasa disebut juga menahan makan dan minum, menahan hawa nafsu, perbuatan dan perkataan yang sia-sia serta perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Termasuk juga memasukkan benda konkrit ke dalam rongga tubuh seperti minum obat dan sejenisnya. Puasa tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita pada dosa. Dengan puasa kita juga melatih diri untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang selama ini kita dapatkan. Puasa seharusnya mampu membuat kita lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.&nbsp;</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/116521007d9f2fc.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="32241" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 07:08:49 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        puasa yang berkualitas,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 13: Menilai Orang Lain Menurut Islam</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-13-menilai-orang-lain-menurut-islam</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-13-menilai-orang-lain-menurut-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah pandangan islam tentang menilai orang lain dan apa hukum nya jika melaksanakan nya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah pandangan islam tentang menilai orang lain dan apa hukum nya jika melaksanakan nya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: kita sebagai manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa, tidak satupun manusia di muaka bumi ini yang suci tanpa pernah melakukan kesalahan</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana hadis Rasulullah SAW:&nbsp;</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651ee03759327.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="46042" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 07 Oct 2023 06:54:43 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        menilai orang lain,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 12: Perihal Mencari Nafkah</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-12-perihal-mencari-nafkah</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-12-perihal-mencari-nafkah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: siapakah yang berkewajiban mencari nafkah, bolehkah perempuan mencari nafkah dan siapa saja yang wajib dinafkahi?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: siapakah yang berkewajiban mencari nafkah, bolehkah perempuan mencari nafkah dan siapa saja yang wajib dinafkahi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Islam adalah agama yang mengajarkan manusia untuk terus bekerja keras mencari nafkah. Islam sangat mengutuk orang malas, yaitu orang yang hanya mengandalkan belas kasihan orang lain dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan meminta-minta. Selanjutnya dalam Islam, bekerja adalah ibadah. Bekerja keras mencari nafkah sebagai seorang muslim untuk menghidupi keluarga adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dihargai, termasuk jihad. Allah sangat menghargai kerja keras dan ikhlas seseorang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah SAW bersabda:&nbsp;</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ</b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651ee05d6ff08.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="21555" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 05 Oct 2023 16:20:30 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        perihal nafkah,
                                                                                                                                                                mencari nafkah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 10: Peranan agama Islam dalam merespon hubungan seorang muslim dengan non muslim</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-10-peranan-agama-islam-dalam-merespon-hubungan-seorang-muslim-dengan-non-muslim</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-10-peranan-agama-islam-dalam-merespon-hubungan-seorang-muslim-dengan-non-muslim</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah agama melarang kita untuk berhubugan dengan saudara non islam atau selain dari muslim jika tidak adakah Batasan yang mengatur hal itu?&nbsp;
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah agama melarang kita untuk berhubugan dengan saudara non islam atau selain dari muslim jika tidak adakah Batasan yang mengatur hal itu?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keberagaman salah satunya agama. Perbedaan agama seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjalin hubungan baik sesama manusia. Hanya saja perlu bagi kita untuk memahami dan memperhatikan apa saja yang menjadi perhatian kita. Sebab dalam kehidupan yang begitu cepat dan moderen ini seringkali membuat kita tidak memperhatikan Batasan-batasan kita dalam pergaulan. Padahal Islam sendiri merupakan agama yang sempurna. Agama Islam telah mengatur segala hal dalam kehidupan begitupun islam mengatur hubungan antar sesama makhluk hidup. Islam tidak pernah melarang kita untuk berhubungan baik dengan sesama kita hanya saja perlu adanya Batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita diwajibkan untuk mampu menghormati manusia yang lain nya, dalam artian kita tidak boleh mencaci maki agama dan kepercayaan mereka sebagaimana diterangkan oleh firman Allah SWT dalam Q.S Al An&rsquo;am ayat 108 yang artinya </span><i><span style="font-weight: 400;">&ldquo;</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Dan&nbsp;</span></i><i><span style="font-weight: 400;">janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan</span></i><i><span style="font-weight: 400;">. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.&rdquo; </span></i><span style="font-weight: 400;">tegasnya hal-hal yang menyangkut sosial kemasyarakatan kita dapat menjalin hubungan baik dengan non muslim dan terkait dengan peribadatan telah tegas di jelaskan dalam Al-Qur&rsquo;an &ldquo;LAKUM DINUKUM WALIYADIN&rdquo; yang arinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Yang mana kita memiliki kepercayaan kita masing-masing dan sudah seharusnya saling menghormati untuk terciptanya kedamaian dalam kehidupan.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651edf785181d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="24951" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 05 Oct 2023 16:07:20 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        peranan agama,
                                                                                                                                                                hubungan dengan non muslim,
                                                                                                                                                                tanya jawab agama                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 9: Empat Nilai Dasar Dalam Beragama</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-9-empat-nilai-dasar-dalam-beragama</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-9-empat-nilai-dasar-dalam-beragama</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Agama tentunya memiliki konsep dan acuan dalam menerapkan ajarannya, lalu apa sajakah nilai-nilai dasar dalam ber Agama?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Agama tentunya memiliki konsep dan acuan dalam menerapkan ajarannya, lalu apa sajakah nilai-nilai dasar dalam ber Agama?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Saat ini, kehidupan beragama ada tanpa spiritualitas. Karena kehidupan beragama kita hanya sekedar pengulangan tanpa penghayatan yang mendalam terhadap ajaran Islam, maka tidak menyentuh lubuk hati manusia yang paling dalam. Terkadang salat yang kita laksanakan seolah-olah hanya sebatas salat yang berkaitan dengan syariat mengenai kelayakan, keselarasan, keabsahan dan ketidakabsahannya. Kita tidak lagi seperti mesin yang diprogram untuk melaksanakan shalat tanpa merasakan akibatnya. Oleh karena itu, praktik keagamaan tidak boleh didasarkan pada struktur sempit dari koridor ideologi dan normatif yang sepenuhnya terbatas. Melainkan harus sarat dengan nilai-nilai agama yang universal dan responsif terhadap tantangan masa kini. Ada empat nilai terpenting dalam agama.</span></p>
<p><b><i>Pertama, al-Tauhid (tauhid).</i></b></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651d7917e60e8.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="49537" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 05 Oct 2023 16:01:42 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        empat nilai,
                                                                                                                                                                nilai bragama,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 8: Pandangan Muhammadiyah Terhadap Hadis Birrul Walidaini</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-8-pandangan-muhammadiyah-terhadap-hadis-birrul-walidaini-985</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-8-pandangan-muhammadiyah-terhadap-hadis-birrul-walidaini-985</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: apakah yang dimaksud dengan birrul walidaini dan apakah hadis yang menerangkannya?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: apakah yang dimaksud dengan birrul walidaini dan apakah hadis yang menerangkannya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: </span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;</span><span style="font-weight: 400;">definisi birrul walidain</span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;adalah kewajiban bagi anak untuk menunjukkan akhlak yang mulia kepada orang tua, seperti menuruti perintahnya selama masih dalam ranah baik dan tidak menyimpang, kemudian tidak menyia-nyiakan keberadaannya, serta mendoakan mereka. </span><span style="font-weight: 400;">&nbsp;Menghormati dan berbakti kepada orang tua adalah kewajiban anak terhadap orang tuanya. Berbakti kepada orang tua adalah fardhu (wajib) bagi setiap muslim. Perilaku patuh terhadap kedua orang tua merupakan suatu keharusan bagi seorang anak. Sebagai wujud Birrul Walidain, ketaatan kepada orang tua merupakan bagian dari etika Islam yang melambangkan perbuatan shaleh. Anak-anak memang pantas berbakti kepada orang tuanya, karena orang tua telah berbuat banyak demi anaknya hingga rela mengorbankan nyawanya demi itu. anak mereka. Jasa mereka tidak dapat dibayar dengan cara apapun, sekalipun kita menjadi korporasi, sekalipun kita menyerahkan seluruh harta kekayaan kita kepada orang tua kita, kita tetap tidak dapat membayar jasanya kepada mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tua adalah orang yang paling berperan dalam kehidupan karena merekalah yang mengasuh kita secara mental dan fisik. Merekalah orang-orang yang sering membantu kita ketika kita dalam kesulitan dan lebih menyayangi kita daripada diri kita sendiri. Lihatlah perjuangan para ibu yang mengandung dan melahirkan kita dalam kesakitan yang luar biasa, seakan 20 tulang patah sekaligus. Para ulama telah sepakat bahwa hukum ketaatan dan ketaatan kepada orang tua adalah fardhu ain. Ketaatan kepada orang tua merupakan bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Selanjutnya ketaatan kepada ibu 3 (tiga) kali lebih tinggi dibandingkan kepada ayah. Karena ibu sedang hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam QS. Al-Isra':23 Allah berfirman: &ldquo;Akhlak anak terhadap orang tuanya dalam kandungan ayat 23 Q.S Al Isra meliputi lima kategori, yaitu larangan mengucapkan uffin &ldquo;ah&rdquo;, larangan berteriak dengan kata-kata kasar, mengucapkan kata-kata yang mulia, kerendahan hati, belasungkawa, dan doa untuk orang tuanya. Entah orang tuanya masih hidup atau tidak, mereka sudah meninggal. Seorang anak harus selalu berperilaku sopan dan hormat terhadap orang tuanya.</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">berbicara kepada kedua orang tuanya harus sopan, santun dan lemah lembut. Anda tidak diperbolehkan mengatakan &ldquo;AH!&rdquo;, &ldquo;eh!&rdquo;, &ldquo;Cis!&rdquo; atau kata-kata serupa. Begitu pula dengan menggeram merupakan bentuk rasa tidak suka terhadap sikap atau perintah orang tua. Jangan berbicara kepada mereka dengan kata-kata kasar seperti memarahi atau menggeram. Bicaralah kepada mereka dengan kata-kata yang baik dan buatlah mereka berdua bahagia.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">selalu patuhi semua perintah orang tuamu. Asalkan tidak mendiktekan hal-hal yang mengandung unsur dosa dan maksiat. Ketika mereka memerintahkan Anda untuk melakukan kejahatan, Anda harus menolaknya dengan lembut dan penuh pengertian. Jika kamu meminta sesuatu yang baik, maka kamu harus segera melakukannya, meskipun kamu sedang sibuk melakukan hal lain, sebagaimana seorang ulama besar yang mengajar dihadapan ribuan orang yang mendemonstrasikannya. Kemudian ada yang datang dan membisikkan bahwa ibunya telah menyuruh penjual itu pulang sebentar untuk memberi makan ayam-ayam itu. Oleh karena itu, sang pendeta meminta izin kepada jemaahnya untuk kembali ke rumah untuk memberi makan ayam-ayam tersebut seperti yang diinstruksikan ibunya. Ketika sang ibu sudah puas, biksu itu kembali ke mimbar dan melanjutkan khotbahnya.&nbsp;</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">jangan memasang wajah cemberut, menatap atau meringis ketika menghadapi dua orang. Jika ada yang tidak kita sukai darinya, bersabarlah, tarik nafas dalam-dalam dan tersenyumlah. Ingatlah bahwa ribuan sikap dan perilaku kita, sejak lahir hingga dewasa, sering kali menjadi perhatian orang tua kita. Meski begitu, mereka tetap sabar menghadapi anak-anaknya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">saat bepergian, anak berpamitan kepada orang tuanya dengan mencium tangan sebagai tanda hormat dan sayang kepada orang tuanya, begitu pula sebaliknya saat pulang dari perjalanan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">berusahalah semaksimal mungkin menjaga nama baik orang tuamu. Jika ada yang mencemarinya, segera bersihkan dan lindungi. Jagalah barang-barang mereka dan jangan mengambil satu rupee pun tanpa izin mereka. Sedangkan jika orang tuamu mengambil hartamu, kamu harus ikhlas. Karena sejatinya anak dan harta bendanya adalah milik orang tuanya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">mengurangi beban mereka. Membantu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sajikan dengan baik. Tulang mereka rapuh dan membesarkan kita terlebih dahulu. Kulitnya keriput dan rambutnya semakin beruban. Mohon balas kebaikan mereka meskipu</span><span style="font-weight: 400;">n kami tidak dapat membalas jasa mereka</span></li>
</ol> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651d792a64af2.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="31387" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 04 Oct 2023 14:40:21 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        hadis orang tua,
                                                                                                                                                                hadis birrul walidaini,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 7: Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam Berkemajuan</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-7-muhammadiyah-sebagai-gerakan-islam-berkemajuan</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-7-muhammadiyah-sebagai-gerakan-islam-berkemajuan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: bagaimanakah konsep Muhammadiyah sebagai gerakan islam berkemajuan dan mengarah kemanakah gerakan islam ini?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: bagaimanakah konsep Muhammadiyah sebagai gerakan islam berkemajuan dan mengarah kemanakah gerakan islam ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Dalam suatu kesempatan </span><span style="font-weight: 400;">Prof. Dr. Amin Abdullah, M.A menyampaikan suatu khutbah yang menyatakan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">keluarga merupakan tempat yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jika rumah dilengkapi dengan sistem ventilasi, tentu penghuninya bisa menghirup udara luar dan hidup sehat. Namun jika rumah diibaratkan sebagai tempat tinggal yang tertutup, maka penghuninya akan merasa sesak, sakit, bahkan merasa tidak ingin tinggal di rumahnya. &ldquo;Bayangkan bapak dan ibu, kita mempunyai rumah yang tidak memiliki sistem ventilasi. Ini sangat sulit bagi kesehatan kita. Begitupun sebuah perkumpulan atau ikatan persyarikatan perlu adanya kebebasan dan pembaharuan terhadap sebuah pembaharuan sesuai dengan relevansasi keadaan dan zaman. Mengutip ayat 13 Surat Ar-Ra'd dari Al Quran: &ldquo;Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaannya sendiri. Dan Islam sebagai rumah saat ini harus beradaptasi dengan perkembangan zaman untuk mencapai Islam yang progresif. &ldquo;Jadi, ada beberapa pembaruan yang diberikan oleh Muhammadiyah,&rdquo; ujarnya.</span></p>
<p><b>Islam Progresif: </b><span style="font-weight: 400;">Masyarakat Islam, sebagai kekuatan dalam masyarakat sipil, mengedepankan pluralisme agama dan kesetaraan dalam seluruh elemen kehidupan. Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam merupakan agama progresif yang kehadirannya membawa keberkahan bagi kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan istilah &ldquo;Evolving Islam&rdquo; yang diusung beberapa waktu lalu pada Kongres Muhammadiyah ke-48 di Surakarta. Islam Progresif artinya Islam yang memancarkan pencerahan dalam kehidupan, termasuk dalam bidang pembebasan dan humanisasi. Secara ideologis, Islam progresif merupakan wujud perluasan cara pandang keagamaan melalui dakwah dan tajdid yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah, namun tetap menerapkan implikasi kekinian dan prediksi masa depan.</span><b> </b><span style="font-weight: 400;">Tujuannya adalah untuk mengembangkan ijtihad dalam konteks tantangan kehidupan modern yang kompleks di abad ke-21, menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mampu beradaptasi, merespons dan menerapkan isu-isu kemanusiaan, serta sekaligus dapat membawa kemajuan bagi peradaban umat manusia. Bukti nyata penerapan Islam yang progresif diungkap oleh Muhammadiyah dalam praktik berbagai organisasi modern.</span><b> </b><span style="font-weight: 400;">Hal ini mencakup amal komersial di banyak sektor yang lebih tinggi seperti pendidikan, sosial, kesehatan, pemberdayaan, ekonomi dan dakwah komunitas yang lazim terjadi di berbagai tingkatan masyarakat.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651d77d9d0314.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="41053" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 04 Oct 2023 14:36:02 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        gerakan islam,
                                                                                                                                                                berkemajuan,
                                                                                                                                                                mencerahkan,
                                                                                                                                                                muhammadiyah                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 6: Membacakan Talqin Kepada Mayit</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-6-membacakan-talqin-kepada-mayit</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-6-membacakan-talqin-kepada-mayit</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: ap aitu talqin dan bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang membacakan talqin kepada mayit?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: ap aitu talqin dan bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang membacakan talqin kepada mayit?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: Istilah talqin secara khusus berarti membimbing atau menuntun orang yang sedang sekarat untuk mengucapkan syahadat. Hal ini berdasarkan nasehat Nabi Muhammad SAW seperti yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri: Bicaralah kepada seseorang yang &ldquo;mati&rdquo; di antara kalian dengan kalimat &ldquo;La ilaha illallah&rdquo; (HR.Muslim). Pertanyaannya apakah kematian itu ada sebelum atau sesudah kematian? Menurut PP Tarjih dan anggota Majelis Tajdid Muhammadiyah Arifudin, makna hadis di atas bukanlah mindqin untuk orang yang meninggal melainkan untuk orang yang sekarat.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW yang mana beliau bersabda bahwa &ldquo;Barangsiapa di akhir perkataannya (ketika mendekati kematian) mengucapkan La ilaha illallah maka dia akan masuk surga&rdquo; (HR.Abu Dawud). Arifudin menjelaskan dalam kajian yang dilakukan oleh KH: &ldquo;Salah satu tanda seseorang telah mencapai husnul khatimah dan mencapai surga, sunnahnya adalah kita membaca qin dalam hati sebelum orang tersebut meninggal, tujuannya adalah mengucapkan kalimat tahlil sebelum menghadap Allah&rdquo;.Masjid. tidak mudah mengucapkan Laa ilaha illallah saat menjelang ajal. Tentu saja hal ini tergantung dari amal ibadah yang dilakukan selama wal afiyat sholeh. Selain itu, anggota keluarga juga harus mendampingi kerabatnya yang kondisinya kritis. Dengan hadirnya keluarga, sedikit banyak pasien akan terbantu untuk mengucapkan kata-kata yang baik seperti mengucapkan syahadat.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/117651d767c7499c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="34836" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 04 Oct 2023 14:30:20 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        membacakan takqin,
                                                                                                                                                                mayit,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Q &amp;amp; A AD&amp;DIN 4: Tentang Wanita Yang Melaksanakan Sholat Jum&amp;apos;at</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-4-tentang-wanita-yang-melaksanakan-sholat-jumat</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/q-a-ad-din-4-tentang-wanita-yang-melaksanakan-sholat-jumat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Question: Sepengetahuan saya selama ini yang megerjakan sholat jum&rsquo;at hanyalah laki-laki namun saya pernah melihat wanita melakukannya. Lalu apakah dasar hukum mereka melakukannya, dan apakah mereka masih harus melakukan sholat dzuhur?
 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><span style="font-weight: 400;">Question: Sepengetahuan saya selama ini yang megerjakan sholat jum&rsquo;at hanyalah laki-laki namun saya pernah melihat wanita melakukannya. Lalu apakah dasar hukum mereka melakukannya, dan apakah mereka masih harus melakukan sholat dzuhur?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Answer: mengenai wanita mengerjakan sholat jum&rsquo;at masih menjadi perselisihan ulama, ada yangmewajibkan wanita untuk melaksanakan sholat jum&rsquo;at untuk kaum mukminim baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan menurut hadist-hadist Riwayat yang mengecualikan tidak wajib bagi waniya, hamba, anak kecil dan orang yang sakit diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Thariq bin Syihab dianggap dhaif.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jawaban Tim SM No. 13 tahun 1987 membolehkan wanita melakukan shalat Jumat kalau tidak membawa dampak negatif, seperti mengundang syahwat dan perhatian lawan jenis. bahkan membawa dampak positif. Dapat menjadi contoh yang baik bagi sesamanya. Jawaban itu mendapat tanggapan. Selain masalah itu baik untuk diangkat dalam Muktamar nanti, kami berikan juga alasan kami membolehkan dengan alasan yang telah kami kemukakan, yakni dengan mengemukakan pendapat jumhur. Barangkali dapat juga ditambahkan di sini riwayat Hadis mauquf sebagai qarinah, (sekali lagi qarinah bukan dalil) bahwa pada masa sahabat rupanya wanita diperkenankan melakukan shalat Jumat dan bagi yang tidak melakukan shalat Jumat melakukan shalat Dzuhur, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin dari neneknya, ia mengatakan bahwa Ibnu Mas'ud pernah berkata kepadanya (nenek Ibnu Mas'ud), yang artinya: Apabila engkau mau melakukan shalat Jumat bersama imam, maka lakukanlah bersamanya, dan kalau engkau mau shalat di rumah, maka shalatlah empat rakaat.</span></p>
 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651c1f51a62ee.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="17002" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 03 Oct 2023 14:04:13 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        wanita,
                                                                                                                                                                hukum sholat jumat,
                                                                                                                                                                fatwa tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menggunakan Hewan Qurban untuk Walimatul ‘Ursy, Bagaimana Hukumnya?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/menggunakan-hewan-qurban-untuk-walimatul-ursy-bagaimana-hukumnya</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/menggunakan-hewan-qurban-untuk-walimatul-ursy-bagaimana-hukumnya</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pertanyaan:Saya seorang pengasuh Panti Asuhan di Semarang. Tahun yang lalu kami menyembelih hewan qurban sebanyak 3 ekor sapi (hasil serikat para donator). Sebagian dimakan oleh anak asuh dan sebagian lainnya kami bagikan kepada yang berhak menerima. Bertepatan pada saat itu saya melangsungkan walimah (nikah). Lalu 1 ekor sapi oleh pengurus Panti diserahkan pada pihak wanita sebagai tanggungan saya, dan disembelih pada hari tasyriq. Dan pihak wanita tidak mengetahui kalau itu adalah hewan qurban. Pertanyaan saya adalah:



Bagaimana hukumnya dengan hal itu? Karena sampai sekarang saya masih bingung, takut akan dosa dan siksaan Allah.Kalau toh memang saya harus menggantinya, bolehkah saya menggantinya dalam bentuk uang seharga sapi itu?



 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong><em>Pertanyaan:</em></strong><br>Saya seorang pengasuh Panti Asuhan di Semarang. Tahun yang lalu kami menyembelih hewan qurban sebanyak 3 ekor sapi (hasil serikat para donator). Sebagian dimakan oleh anak asuh dan sebagian lainnya kami bagikan kepada yang berhak menerima. Bertepatan pada saat itu saya melangsungkan walimah (nikah). Lalu 1 ekor sapi oleh pengurus Panti diserahkan pada pihak wanita sebagai tanggungan saya, dan disembelih pada hari tasyriq. Dan pihak wanita tidak mengetahui kalau itu adalah hewan qurban. Pertanyaan saya adalah:</p>



<ul><li>Bagaimana hukumnya dengan hal itu? Karena sampai sekarang saya masih bingung, takut akan dosa dan siksaan Allah.</li><li>Kalau toh memang saya harus menggantinya, bolehkah saya menggantinya dalam bentuk uang seharga sapi itu?</li></ul>



<p>Demikian, atas jawabannya kami ucapkan terima kasih.</p>



<p>Penanya:<br>Khoir, Semarang<br>(disidangkan pada hari Jum’at, 16 Desember 2005)</p>



<!--nextpage-->



 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a3891e0128.jpg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="37272" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 15 Jun 2021 05:52:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        dinamisberkemajuan,
                                                                                                                                                                hewan,
                                                                                                                                                                hukum,
                                                                                                                                                                mediamuid,
                                                                                                                                                                menggunakan,
                                                                                                                                                                mpi pwm diy,
                                                                                                                                                                qurban,
                                                                                                                                                                walimatul &amp;#039;ursy                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Puasa Syawal Beruturut&amp;turut atau Boleh Terputus&amp;putus?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/puasa-syawal-beruturut-turut-atau-boleh-terputus-putus</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/puasa-syawal-beruturut-turut-atau-boleh-terputus-putus</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pada bulan Syawal ada puasa sunnah enam hari. Biasanya muncul pertanyaan: apakah dilaksanakan berutur-turut enam hari sekaligus atau boleh terputus tidak tiap hari. Berikut penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.



 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pada bulan Syawal ada puasa sunnah enam hari. Biasanya muncul pertanyaan: apakah dilaksanakan berutur-turut enam hari sekaligus atau boleh terputus tidak tiap hari. Berikut penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.</p>



<p>Apabila anda telah selesai berpuasa Ramadhan, maka berpuasalah enam hari dalam bulan Syawal (lakukan sesudah Hari Raya ‘Idul Fitri), anda lakukan secara berturut-turut atau berpisah-pisah. Berdasarkan dalil:</p>


<h4 style="text-align: right;" style="text-align: right;" id="%d8%b9%d9%8e%d9%86%d9%92-%d8%a3%d9%8e%d8%a8%d9%90%d9%8a-%d8%a3%d9%8e%d9%8a%d9%8f%d9%91%d9%88%d8%a8%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%92%d8%a3%d9%8e%d9%86%d9%92%d8%b5%d9%8e%d8%a7%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%90%d9%91">عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ … أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه الجماعة إلا البخاري والنسائي)</h4>


<p><strong>Artinya:&nbsp;</strong><em>Dari Abi Ayyub al-Anshari r. a. (diriwayatkan) … bahwa Rasulullah saw bersabda: Barang siapa sudah melakukan puasa Ramadan, kemudian menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah melaksanakan puasa sepanjang masa.&nbsp;</em>(HR Jama’ah ahli hadits selain An Nasa’i).</p>


<h4 style="text-align: right;" style="text-align: right;" id="%d8%b9%d9%8e%d9%86%d9%92-%d8%ab%d9%8e%d9%88%d9%92%d8%a8%d9%8e%d8%a7%d9%86%d9%8e-%d8%b9%d9%8e%d9%86%d9%90-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%8e%d9%91%d8%a8%d9%90%d9%8a%d9%90%d9%91-%d8%b5%d9%8e%d9%84%d9%8e%d9%91">عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ . (رواه أحمد)</h4>


 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a38944da29.jpg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="51078" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 14 May 2021 14:42:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        berturut-turut,
                                                                                                                                                                boleh,
                                                                                                                                                                dinamisberkemajuan,
                                                                                                                                                                mediamuid,
                                                                                                                                                                mpi pwm diy,
                                                                                                                                                                puasa,
                                                                                                                                                                syawwal,
                                                                                                                                                                terputus                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Adakah Dasar Hukum Mengadzani Bayi Baru Lahir?</title>
                    <link>https://tarjih.mediamu.com/adakah-dasar-hukum-mengadzani-bayi-baru-lahir</link>
                    <guid>https://tarjih.mediamu.com/adakah-dasar-hukum-mengadzani-bayi-baru-lahir</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Mengadzani bayi yang baru lahir merupakan sesuatu yang lazim terjadi di masyarakat. Tetapi bagaimana tuntunan sebenarnya dalam Islam?



 ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Mengadzani bayi yang baru lahir merupakan sesuatu yang lazim terjadi di masyarakat. Tetapi bagaimana tuntunan sebenarnya dalam Islam?</p>



<p>Ustadz Ali Yusuf dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam agenda Tarjih Menjawab di kanal YouTube Redaksi Website mengatakan, “Anak adalah amanah dan sesuatu yang suci, karena anak itu lahir dalam keadaan suci. Maka seyogyanya kita sebagai orangtuanya memperlakukan anak dalam keadaan suci pula, dalam pengertian bahwa apa-apa yang dituntunkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, itu pula yang harus dilakukan terhadap anak kita.”</p>



<p>Realitas dalam masyarakat, ketika anak lahir disambut dengan suka cita dan bahagia. Tidak jarang kebahagiaan tersebut dibumbui berbagai hal, misalnya tradisi dan adat kebiasaan masyarakat atau lainnya. Islam tidak melarang seseorang bersuka cita, termasuk tidak melarang seseorang menyambut kelahiran anaknya. Akan tetapi Islam mengajarkan agar umat-Nya melakukan penyambutan sesuai dengan tuntunan Islam.</p>



 ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2023/10/11651a3739576d3.jpg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="43368" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 28 Apr 2021 07:59:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Kontributor Mediamu</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                                                                        baru,
                                                                                                                                                                bayi,
                                                                                                                                                                dinamisberkemajuan,
                                                                                                                                                                hukum,
                                                                                                                                                                lahir,
                                                                                                                                                                mediamuid,
                                                                                                                                                                mengadzani,
                                                                                                                                                                menurut,
                                                                                                                                                                mpi pwm diy,
                                                                                                                                                                muhammadiyah,
                                                                                                                                                                tarjih                                                                                                                    </media:keywords>
                                    </item>
                        </channel>
</rss>